TPA Jatibarang Semarang Disiapkan Jadi Pabrik Maggot untuk Atasi Sampah Organik

Pemkot Semarang menyiapkan konsep TPA Jatibarang sebagai pusat budidaya maggot dan pengolahan sampah organik untuk mengurangi timbunan sekaligus menciptakan nilai ekonomi. (Dok)

SEMARANGUPDATE.COM – Pemerintah Kota Semarang mencari terobosan untuk mengurangi timbunan sampah organik di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang.

Salah satu gagasan yang tengah dikembangkan adalah menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat budidaya maggot yang terintegrasi dengan pemanfaatan biodekomposer.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti membahas gagasan tersebut bersama formulator biodekomposer Mangontang Simanjuntak dalam pertemuan di Ruang Rapat Wali Kota Semarang, kemarin.

Konsep yang dibahas tidak sekadar mengurangi volume sampah. Sampah organik dari rumah tangga diharapkan dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomi, termasuk maggot yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk peternakan ayam dan sektor perikanan.

Agustina mengatakan, salah satu opsi yang perlu dikembangkan adalah membangun unit pengolahan maggot secara terpusat di kawasan TPA Jatibarang.

“Saya ingin membiasakan bahwa creative financing membuat kita tidak harus menggunakan APBD. Kita bisa menggerakkan banyak pihak,” ujar Agustina, dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).

TPA Jatibarang Berpotensi Jadi Pusat Produksi Maggot

Menurut Agustina, pengolahan sampah organik di TPA Jatibarang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

Maggot yang dihasilkan nantinya dapat menjadi salah satu sumber pakan bagi penerima bantuan ayam maupun sektor perikanan.

Dengan demikian, pengolahan sampah tidak berhenti pada proses pengurangan timbunan, tetapi juga menciptakan rantai pemanfaatan yang memiliki nilai ekonomi.

“Kalau TPA Jatibarang itu bisa jadi pabrik maggot, maka kita bisa menciptakan offtaker untuk mengirimkan maggot ini kepada minimal orang-orang yang selama ini diberi bantuan ayam,” jelas Agustina.

Skema tersebut juga dinilai dapat membuka peluang usaha baru berbasis pengolahan sampah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pakan konvensional.

Biodekomposer untuk Olah Sampah dan Limbah Cair

Selain budidaya maggot, Pemkot Semarang dan Mangontang membahas pemanfaatan biodekomposer untuk membantu mempercepat proses penguraian sampah organik.

Teknologi tersebut juga diarahkan untuk membantu menangani persoalan bau serta limbah cair yang muncul dari aktivitas pengelolaan sampah di tempat penampungan sementara (TPS) maupun TPA Jatibarang.

Salah satu alternatif yang turut dibahas adalah pemanfaatan cairan lindi sebagai bahan pupuk hayati. Jika dapat dikembangkan melalui proses yang sesuai, hasil samping pengolahan sampah tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian.

Sampah Rumah Tangga Didorong Punya Nilai Ekonomi

Mangontang Simanjuntak menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan sampah. Menurutnya, masyarakat akan lebih terdorong memilah dan mengolah sampah apabila terdapat manfaat ekonomi yang dapat dirasakan.

“Mindset kita paling utama soal sampah. Tapi sampah ini tidak akan bisa kita kerjakan kalau tidak ada ekonominya. Maka kita harus menciptakan ekonomi, salah satunya adalah dengan kandang 5 ekor tadi,” kata Mangontang.

Konsep tersebut menempatkan sampah organik sebagai bahan baku yang dapat masuk ke dalam rantai ekonomi.

Dengan sistem pengolahan dan penyerapan hasil yang jelas, sampah rumah tangga berpotensi menjadi sumber bahan untuk kegiatan produktif masyarakat.

Uji Coba Padi 60 Hari di Semarang

Dalam audiensi tersebut, Mangontang juga menyerahkan benih padi varietas MSP 65 kepada Pemkot Semarang.

Benih tersebut akan digunakan untuk penanaman percontohan atau demonstration plot (denplot) di Kota Semarang. Varietas tersebut disebut memiliki masa panen relatif singkat, yakni sekitar 60 hari.

Uji coba tersebut direncanakan memanfaatkan pupuk hayati yang berasal dari hasil pengolahan limbah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengelolaan sampah dengan kebutuhan sektor pertanian.

Agustina berharap gagasan pengolahan sampah organik di TPA Jatibarang dapat berjalan seiring dengan upaya mengurangi timbunan sampah dan meningkatkan pemanfaatan limbah.

Namun, implementasinya tetap membutuhkan persiapan sarana, pengujian teknologi, serta skema kerja sama dengan berbagai pihak agar konsep pengolahan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Dengan pendekatan tersebut, TPA Jatibarang diharapkan tidak hanya menjadi tempat pemrosesan sampah, tetapi juga berkembang sebagai kawasan pengolahan limbah yang menghasilkan produk bernilai guna bagi masyarakat. (*)

Pos terkait