SEMARANGUPDATE.COM, JAKARTA – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menilai industri film memiliki potensi besar menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal.
Selain menghasilkan karya kreatif, produksi film dinilai mampu menciptakan perputaran ekonomi sekaligus memperkenalkan potensi budaya Kota Semarang kepada masyarakat luas.
Hal tersebut disampaikan Agustina saat menjadi panelis Jakarta Film Summit (JFS) 2026 di Park Hyatt Hotel, Menteng, Jakarta, kemarin.
Dalam forum tersebut, Agustina memaparkan peluang pengembangan industri film yang bertumpu pada kekayaan lokal.
Menurutnya, produksi film melibatkan banyak unsur masyarakat sehingga belanja produksi dapat memberikan dampak ekonomi langsung kepada daerah.
“Bagi kami film bukan hiburan. Film adalah salah satu cara untuk menjawab visi-visi kami, dan apabila bicara mengenai efek dari sebuah pembuatan film baik itu diproduksi oleh kementerian maupun dari dalam ataupun dari warga Kota Semarang, pada akhirnya langsung setiap rupiah yang dibelanjakan itu akan memberi multiplier yang luar biasa,” kata Agustina, dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Produksi Film Bisa Libatkan Ekonomi Warga
Menurut Agustina, kegiatan produksi film dapat membuka peluang bagi berbagai sektor lokal. Mulai dari penggunaan jasa, akomodasi, konsumsi, transportasi hingga keterlibatan masyarakat dalam proses produksi.
Karena itu, pemerintah daerah melihat industri kreatif, termasuk perfilman, bukan sekadar aktivitas seni dan hiburan, tetapi juga bagian dari pengembangan ekonomi daerah.
Semarang memiliki modal berupa kekayaan cerita, keberagaman masyarakat, serta sejumlah bangunan bersejarah yang dapat menjadi lokasi maupun sumber inspirasi bagi sineas.
Salah satu ikon yang disebut Agustina adalah Lawang Sewu. Bangunan bersejarah tersebut dinilai memiliki daya tarik yang dapat dikembangkan melalui berbagai karya audiovisual.
“Masyarakat Kota Semarang itu sadar 100 persen sejak dulu bahwa kita harus rukun damai dan film ini bisa menjadi messenger. Kita punya kekayaan 1.000 cerita, kita punya Lawang Sewu yang ikonik,” ujarnya.
Pemkot Semarang Buka Peluang Kolaborasi
Untuk memperkuat ekosistem perfilman, Agustina menyampaikan Pemkot Semarang membuka peluang kerja sama dengan para pelaku industri film.
Dukungan tersebut tidak selalu harus berbentuk pembiayaan. Pemerintah daerah juga dapat memberikan akses kepada tokoh, pengetahuan, jejaring, serta berbagai bentuk dukungan lain yang dapat membantu sineas lokal meningkatkan kualitas karya.
“Kita siap bekerja sama dengan harapan kalau enggak dapat support duitnya kita dapat support tokoh dan ilmunya. Dan itu kemudian yang membuat road to international festival,” tambahnya.
Salah satu ruang pengembangan sineas lokal adalah Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026.
Rangkaian Screening Festival & Film Week berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di bioskop XXI Tentrem Mall Semarang dengan menayangkan 19 film pendek pilihan.
Rangkaian tersebut kemudian ditutup melalui Malam Anugerah pada 23 Oktober 2026 di Gedung Baru Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh.
Semarang Ingin Terhubung dengan Ekosistem Film Nasional
Agustina berharap pengembangan industri film di Kota Semarang tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah daerah lain dan pelaku industri nasional dinilai dapat membuka akses yang lebih luas bagi sineas Semarang.
Menurutnya, semakin luas jejaring yang dibangun, semakin besar pula kesempatan sineas lokal memperkenalkan cerita Semarang ke tingkat nasional maupun internasional.
“Jakarta sedang membangun ekosistem film, Semarang juga,” tandas Agustina. (*)







