SEMARANGUPDATE.COM – Usia bukan alasan untuk berhenti berprestasi. Hal itu dibuktikan Slamet Sumarsono, atlet berusia 73 tahun yang tetap aktif membela kontingen Kota Semarang pada Porprov Jateng 2026.
Slamet menjadi atlet tertua dalam kontingen Kota Semarang. Namun, usia tersebut justru menjadi modal pengalaman ketika ia memainkan olahraga bridge yang mengandalkan kemampuan berpikir, strategi, konsentrasi, dan kerja sama antarpemain.
Bersama Tatang, Wito, Yan, Supri, dan Setiawan, Slamet bahu-membahu mengejar target medali emas untuk Kota Semarang pada ajang Porprov Jateng 2026.
Meski baru sekitar satu tahun terakhir bermain bersama dalam komposisi tim tersebut, pengalaman Slamet dan rekan-rekannya membuat permainan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata.
Istilah seperti bidding, contract, declarer, trick, hingga trump menjadi bagian dari strategi yang harus dikuasai untuk memenangkan pertandingan.
“Kami latihan sekurangnya 2 sampai 3 kali, 3-4 jam dalam sehari. Bridge memang permainan otak dan strategi,” ujar Slamet, Rabu (21/10/2026).
Mulai Bermain Bridge Sejak Usia 25 Tahun
Slamet bukan pendatang baru di dunia bridge. Pria kelahiran 2 Juni 1953 tersebut telah memainkan olahraga ini sejak berusia 25 tahun.
Selama puluhan tahun menekuni bridge, pensiunan PNS di salah satu kementerian itu telah mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan mengoleksi sejumlah medali.
Salah satu pencapaian yang paling berkesan diraihnya pada nomor beregu senior kategori usia 60 tahun.
Slamet tercatat tiga kali membawa pulang medali emas pada ajang yang berlangsung di Yogyakarta, Lubuklinggau, dan Padang sekitar 2012.
Pengalamannya juga terlihat di kompetisi tingkat daerah. Dalam Liga Bridge Jawa Tengah, Slamet bersama timnya pernah berada di posisi puncak klasemen.
“Saat muda, saya sadar bahwa saya tidak jago dalam mengolah fisik namun lebih ke otak sehingga kemudian memilih cabor bridge ini,” tandasnya.
Pernah Raih Perunggu Porprov 2023
Target emas di Porprov Jateng 2026 bukan tanpa tantangan. Pada Porprov Jateng 2023, tim bridge Kota Semarang hanya mampu membawa pulang medali perunggu.
Namun, hasil tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi kompetisi tahun ini.
Dengan pengalaman panjang dan persiapan yang lebih intensif, Slamet dan rekan-rekannya berharap dapat memperbaiki pencapaian tersebut.
Bagi Slamet, bridge tidak hanya membutuhkan kemampuan individu. Pemain harus mampu membangun komunikasi dan memahami pola permainan pasangan.
“Bermain bridge memang sulit dan harus hafal perjanjian antarpartner dan tidak saling menyalahkan, ini bisa menjadi kunci sukses,” pungkasnya.
Satu Klub dengan Mendiang Michael Bambang Hartono
Perjalanan Slamet di dunia bridge juga mempertemukannya dengan sejumlah pemain ternama.
Ia bergabung dengan Djarum Bridge Club, klub yang pernah menjadi tempat bernaung bersama mendiang Michael Bambang Hartono.
Michael Bambang Hartono merupakan salah satu atlet bridge Indonesia yang meraih medali perunggu pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018 di usia 78 tahun melalui nomor super mixed team.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa usia bukan batasan mutlak untuk berprestasi di olahraga yang mengandalkan kemampuan berpikir dan strategi.
Berbeda dengan dirinya, Slamet tidak mendorong ketiga anak perempuannya mengikuti jejak sebagai atlet bridge.
Ia khawatir aktivitas olahraga kompetitif justru mengganggu pendidikan, pekerjaan, maupun aktivitas mereka.
Kini, Slamet memilih terus bermain dan menikmati olahraga yang telah ditekuninya selama hampir lima dekade.
Di luar bridge, ayah tiga anak dan kakek enam cucu tersebut juga memiliki hobi memperbaiki peralatan elektronik.
Dengan pengalaman panjang, latihan rutin, serta chemistry yang terus dibangun bersama tim, Slamet Sumarsono dan tim bridge Kota Semarang akan berusaha mengubah hasil perunggu Porprov 2023 menjadi prestasi yang lebih tinggi pada Porprov Jateng 2026.
Usia boleh bertambah, tetapi semangat bertanding dan berpikir untuk meraih prestasi ternyata tidak mengenal batas. (*)







