SEMARANGUPDATE.COM – Pemerintah Kota Semarang mendorong penerapan Nature-based Solutions (NbS) sebagai salah satu strategi menghadapi ancaman abrasi, banjir rob, kenaikan muka air laut, hingga penurunan muka tanah di kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menilai pendekatan berbasis alam menjadi langkah penting karena tidak hanya memperkuat perlindungan kawasan pesisir, tetapi juga membantu memulihkan ekosistem sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Dukungan tersebut disampaikan melalui Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, yang mewakili Agustina saat meninjau program percontohan atau demonstration plot perlindungan pesisir Pantura Jawa berbasis NbS di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, kemarin.
Peninjauan program tersebut dipimpin Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Agustina mengapresiasi konsep perlindungan pesisir yang menggabungkan pembangunan fisik dengan pemulihan ekosistem.
Menurutnya, pendekatan tersebut relevan diterapkan di kawasan pesisir Kota Semarang yang juga menghadapi persoalan abrasi, rob, kenaikan muka air laut, dan penurunan muka tanah.
“Tantangan kenaikan permukaan air laut dan penurunan tanah di kawasan Pantura dialami bersama oleh wilayah pesisir, termasuk Kota Semarang.”
“Pendekatan berbasis alam melalui kombinasi penanaman mangrove dan struktur pemecah gelombang alami menjadi langkah penting yang menyinergikan infrastruktur fisik dengan pemulihan ekosistem,” ujar Agustina, dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Mangrove dan Hybrid Engineering Jadi Pelindung Pesisir
Salah satu pendekatan yang diterapkan dalam program percontohan tersebut adalah penanaman mangrove yang dipadukan dengan struktur pemecah gelombang berbasis hybrid engineering.
Agustina menilai kombinasi tersebut sesuai dengan karakteristik persoalan lingkungan di kawasan Pantura. Infrastruktur tidak hanya difungsikan sebagai pelindung dari ancaman gelombang dan air laut, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan kondisi yang mendukung pemulihan ekosistem pesisir.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin yang hadir langsung di lokasi turut menilai model NbS memberikan harapan baru bagi pengelolaan kawasan pesisir.
“Model NbS ini menjadi angin segar bagi penataan pesisir kita. Kami melihat skema percontohan ini tidak hanya kokoh secara teknis infrastruktur, tetapi juga adaptif terhadap ekosistem lokal sehingga bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga pesisir,” kata Iswar.
Menurutnya, keberhasilan perlindungan pesisir tidak cukup hanya diukur dari kekuatan struktur fisik. Dampak terhadap lingkungan dan masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari kawasan pesisir juga menjadi bagian penting.
Perlindungan Pesisir Pantura hingga Jawa Timur
Program percontohan perlindungan pesisir berbasis NbS tersebut dikembangkan dalam bentang kawasan Pantura, mulai dari Banten hingga Jawa Timur.
Konsep yang diusung memadukan pembangunan tanggul laut atau giant sea wall dengan pemulihan ekosistem pesisir.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi model perlindungan kawasan pesisir yang mampu menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus mempertahankan fungsi ekologis.
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY menegaskan bahwa perlindungan pesisir memiliki kaitan langsung dengan keselamatan dan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
“Tujuan besar dari pembangunan giant sea wall dan pendekatan berbasis alam ini adalah menyelamatkan masyarakat yang terdampak kenaikan air laut serta penurunan tanah, sekaligus memastikan keberlangsungan hidup dan ekonomi masyarakat tetap terjaga,” tegas AHY.
Nelayan dan Petambak Tetap Jadi Perhatian
Agustina menekankan, pembangunan perlindungan pesisir tidak boleh menghilangkan ruang hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada kawasan pantai.
Karena itu, menurut dia, keberhasilan Nature-based Solutions bukan hanya dilihat dari kemampuan menahan abrasi maupun rob, tetapi juga dari sejauh mana pendekatan tersebut mampu mempertahankan aktivitas ekonomi warga.
“Penanganan pesisir bukan sekadar membangun benteng fisik, melainkan bagaimana menyelamatkan ruang hidup warga dan memastikan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya nelayan dan petambak, tetap berjalan.”
“Program percontohan ini membuktikan bahwa pemulihan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi warga bisa berjalan seiring,” pungkas Agustina.
Bagi Kota Semarang, model tersebut menjadi salah satu referensi penting dalam menghadapi tantangan kawasan pesisir Pantura yang semakin kompleks.
Sinergi antara infrastruktur, pemulihan ekosistem, dan perlindungan mata pencaharian masyarakat dinilai menjadi kunci agar penataan pesisir dapat berlangsung secara berkelanjutan. (*)







