SEMARANGUPDATE.COM – PT Esensi Solusi Buana (ESB) melihat Kota Semarang memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan industri makanan dan minuman (F&B).
Kekayaan kuliner yang lahir dari keberagaman budaya hingga karakter masyarakat yang toleran menjadi modal penting bagi pertumbuhan bisnis kuliner di kota ini.
Potensi tersebut tercermin dari performa merchant F&B pengguna ESB di Semarang. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, transaksi same-store tercatat tumbuh 8,3 persen, sementara omzet meningkat 6,6 persen.
Pertumbuhan tersebut dihitung dari outlet yang sama dari tahun ke tahun sehingga tidak semata-mata berasal dari bertambahnya jumlah merchant baru.
Co-Founder & CEO PT ESB, Gunawan, mengatakan data tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan aktivitas pelanggan pada bisnis kuliner yang sudah berjalan.
“Data di Semarang juga bicara hal yang sama. Transaksi tumbuh, tapi yang membuat kami senang itu tumbuhnya di toko-toko yang sama, bukan hanya karena ada merchant baru yang bergabung,” ujar Gunawan dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).
Bagi ESB, pertumbuhan same-store menjadi salah satu indikator penting karena menunjukkan pelanggan tetap kembali ke outlet yang sama.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan peluang bagi pelaku usaha untuk membangun bisnis secara berkelanjutan melalui kualitas produk dan pelayanan.
PT ESB Ungkap Perilaku Konsumen Kuliner Semarang
Selain mencatat pertumbuhan transaksi, PT ESB juga melihat perubahan pola konsumsi masyarakat Semarang melalui data transaksi merchant.
Sebanyak 75,4 persen transaksi merchant F&B pengguna ESB di Semarang kini dilakukan secara non-tunai. Sementara waktu paling ramai konsumen melakukan pemesanan makanan terjadi sekitar pukul 19.00 WIB.
Jam tersebut berada dalam periode makan malam antara pukul 18.00 – 21.00 WIB.
Gunawan menilai data tersebut menggambarkan bagaimana kuliner telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat setelah menjalani rutinitas harian.
“Jam tujuh sebagai waktu paling ramai juga merupakan momen yang sangat manusiawi dari sebuah data, banyak orang yang ingin menikmati sajian kuliner untuk mengapresiasi diri setelah seharian lelah bekerja atau sekadar melepas lapar bersama keluarga,” katanya.
Menurutnya, data tersebut dapat menjadi bahan penting bagi pemilik usaha untuk menentukan strategi operasional, mulai dari kesiapan dapur, jumlah tenaga kerja hingga pengelolaan stok bahan baku.
“Tugas kami di ESB hanya satu, yaitu memastikan di balik momen itu, operasionalnya tidak kewalahan dan bisa melayani dengan baik, serta para pebisnis tetap bisa mendapatkan margin yang baik meski harga bahan baku naik-turun,” jelasnya.
Melihat Kekuatan Toleransi Kuliner Semarang
PT ESB juga menemukan karakter unik dalam ekosistem bisnis kuliner Semarang ketika melakukan pemetaan merchant di lapangan.
Semarang dikenal sebagai kota dengan sejarah persilangan budaya Jawa, Tionghoa, Arab hingga kolonial Belanda. Jejak tersebut terlihat dalam beragam kuliner seperti lumpia, soto, tahu gimbal dan lontong Cap Go Meh.
Dalam proses pemetaan merchant, ESB menemukan bisnis yang menawarkan makanan berbahan dasar nonhalal dapat beroperasi berdampingan dengan bisnis kuliner halal.
Meski memiliki segmen pelanggan berbeda, kedua jenis usaha tersebut dapat menjalankan aktivitas bisnis secara berdampingan.
“Ini bukan sesuatu yang sengaja kami cari, tapi ditemukan begitu saja saat proses mapping merchant di lapangan. Semarang punya toleransi yang sudah mendarah daging, dan itu ikut membentuk bisnis kuliner di sini terus tumbuh menawarkan aneka cita rasa bagi para pecinta kuliner,” ungkap Gunawan.
Menurut ESB, keberagaman tersebut menjadi salah satu kekuatan yang membuat ekosistem kuliner Semarang memiliki karakter tersendiri.
PT ESB Dorong Pelaku F&B Hadapi Tekanan Biaya
Di tengah pertumbuhan bisnis, pelaku usaha kuliner tetap menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku.
Data BPS Jawa Tengah mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum pada triwulan II 2026 tumbuh 12,80 persen secara tahunan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang mencapai 5,71 persen dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Namun, pada Agustus 2026 kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan Jawa Tengah dengan andil 0,28 persen.
Harga sejumlah bahan seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis turut mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut membuat pengendalian biaya menjadi semakin penting bagi pelaku F&B.
Lead Strategist F&B Operations, Co-Founder & Managing Partner GASTRO F&B Consulting, Thomas Pangaribuan, mengatakan pengusaha kuliner perlu memiliki kontrol terhadap biaya produksi.
“Agar bisnis bisa scale up dan relevan di tengah dinamika biaya bahan baku, para pebisnis kuliner tidak boleh hanya mengandalkan cita rasa. Kontrol atas Cost of Goods Sold (COGS), standardisasi resep untuk menekan risiko food waste, serta efisiensi rantai pasok dapur adalah fondasi agar bisnis kuliner mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” tegas Thomas.
ESB Bawa Solusi Digital untuk Pebisnis Kuliner
Untuk menjawab tantangan tersebut, PT ESB terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan bisnis F&B.
Bersama komunitas TDA Semarang, ESB menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat.”
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari roadshow nasional ESB yang mempertemukan owner, founder, dan pengambil keputusan bisnis kuliner untuk berbagi pengalaman serta membahas strategi pengembangan usaha.
Dalam kegiatan itu, ESB memperkenalkan empat solusi dalam ekosistem teknologinya, yakni ESB POS, ESB Order, ESB Core (ERP), dan ESB OLIN.
ESB POS membantu pelaku usaha memantau transaksi dan stok sekaligus menghitung HPP secara real-time. ESB Order mendukung proses pemesanan dan pembayaran pelanggan melalui kode QR, baik untuk dine-in maupun takeaway.
Sementara ESB Core memberikan visibilitas terhadap stok dan inventaris untuk membantu menekan food waste.
Adapun ESB OLIN memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis transaksi, memberikan insight bisnis, rekomendasi promosi, hingga memprediksi kebutuhan bahan baku.
Co-founder & COO Sorak Sorai, Panama Canteen dan Babakopitiam, Tadeo Christoga, mengatakan pemanfaatan data menjadi penting ketika pelaku usaha menghadapi perubahan harga dan tren konsumen.
“Sebagai pelaku usaha F&B lokal, kami merasakan langsung bagaimana sensitivitas konsumen terhadap harga dan tren kuliner bergerak sangat cepat. Kunci konsistensi kami dalam menjaga kualitas serta profitabilitas bisnis adalah dengan cermat membaca data operasional harian,” ungkap Tadeo.
Menurutnya, informasi HPP dan pergerakan stok secara real-time membantu pemilik usaha mengambil keputusan promosi tanpa harus mengorbankan margin.
Gunawan menegaskan teknologi pada akhirnya bukan untuk menggantikan karakter kuliner lokal, melainkan membantu pelaku usaha mengelola sisi operasional agar lebih efisien.
“Pada akhirnya, bisnis kuliner itu soal konsistensi, konsisten rasanya, konsisten juga untungnya. Kalau dapur tahu persis stoknya dan kasir tahu persis angkanya, pemilik usaha jadi bisa fokus ke hal yang bikin Semarang istimewa: racikan bumbu dan resep yang diwariskan turun-temurun,” tutup Gunawan.
Melalui penguatan teknologi, data, dan edukasi bisnis, PT ESB berharap semakin banyak pelaku F&B di Semarang mampu menjaga efisiensi sekaligus mengembangkan bisnis secara berkelanjutan tanpa kehilangan identitas kuliner lokal. (*)







