Terkait Proyek Geothermal Gunung Ungaran, M Farchan Soroti Ancaman Pasokan Air Semarang

Terkait Proyek Geothermal Gunung Ungaran, M Farchan Soroti Ancaman Pasokan Air Semarang
Terkait Proyek Geothermal Gunung Ungaran, M Farchan Soroti Ancaman Pasokan Air Semarang

SEMARANGUPDATE.COM – Rencana eksplorasi energi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, mendapat perhatian dari anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah, Muhammad Farchan.

Ia menilai proyek tersebut perlu dikaji lebih mendalam karena berpotensi memengaruhi kondisi ekologis hingga ketersediaan sumber air bagi Kota Semarang.

Bacaan Lainnya

Rencana proyek yang digagas pemerintah pusat itu sebelumnya mendapat penolakan dari sebagian warga di sekitar Gunung Ungaran.

Menurut Farchan, masyarakat yang telah lama tinggal di kawasan lereng gunung memiliki hubungan erat dengan lingkungan, terutama dalam memanfaatkan sumber mata air dan lahan pertanian.

Di sisi lain, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna serta lokasi penelitian sejumlah perguruan tinggi. Karena itu, ia menilai Gunung Ungaran tidak dapat dipandang hanya sebagai lokasi pembangunan proyek, tetapi sebagai kawasan yang memiliki keterkaitan ekologis dan sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

“Kalau berbicara proyek geothermal di Gunung Ungaran, memang warga sekitar cukup memahami gunung ungaran bukan lagi sebuah ruang kosong, namun suatu kesatuan ekologis, dan hubungan timbal balik, belum lagi di sana ada situs cagar budaya peninggalan sisa- sisa kerajaan Hindu di Indonesia, Candi Gedong Songo. Apalagi, titik panas yang dibor nantinya memiliki kedalaman 1.500-2.000 meter ke bawah itu dekat dengan bangunan komplek candi, sehingga sampai sekarang masih menjadi perdebatan karena warga sekitar tidak setuju kalau gunung ungaran dijafikan proyek geothermal,”paparnya, Jumat (4/9/2026)

Farchan juga mengingatkan adanya potensi dampak terhadap keberadaan flora dan fauna yang hidup di kawasan Gunung Ungaran. Salah satunya adalah elang jawa atau burung garuda yang menurutnya menghadapi ancaman penurunan habitat.

“Sampai sekarang gunung ungaran menjadi bahan penelitian terkait konservasi oleh teman-teman dari Unnes, saya minta hal ini harus disadari oleh pemerintah pusat sebagai pengambil kebijakan,”katanya.

Ia menegaskan, pembahasan proyek geothermal seharusnya tidak berhenti pada aspek pembangunan fisik dan kebutuhan energi. Menurutnya, pemerintah juga perlu memperhitungkan konsekuensi ekologis yang mungkin muncul dalam jangka panjang.

“Seharusnya proyek ini bisa ditinjau ulang. Karena sangat berdampak pada perubahan siginifikan terhadap lingkungan sekitar mulai dari bentang alam, pembukaan jalan akses proyek, lahan yang dibabat, termasuk aktivitas tempat wisatanya,”ujarnya.

Atas dasar itu, Farchan mendorong pemerintah pusat melakukan kajian secara menyeluruh sebelum proyek berjalan lebih jauh. Ia menilai masukan masyarakat dan berbagai pihak yang berkepentingan perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

“Apakah dalam konteks proyek salah atau tidak, tapi warga dan elemen yang lainnya meminta harus dikaji dan aspirasinya didengar,”katanya.

Farchan kemudian menyoroti kemungkinan perubahan kondisi lingkungan di Gunung Ungaran terhadap ketersediaan air untuk Kota Semarang. Menurutnya, hubungan kawasan pegunungan dengan sumber air baku perlu menjadi salah satu aspek penting yang diperhitungkan.

“Secara teknis geothermal, nantinya apakah memang berpengaruh terhadap paceklik air di kota Semarang, mempengaruhi ekologi wilayah penyangga, seperti Kendal, apalagi kota Semarang menggantungkan salah satu sumber mata air Moedal dari pegunungan ungaran, selain IPA Kudu dari klambu (Grobogan), selain memanfaatkan air tanah,”lanjut mantan Dirut PDAM Tirta Moedal ini.

Ia mengaku khawatir apabila dampak proyek tidak dianalisis secara matang sejak awal. Menurutnya, keberadaan sumber mata air dan kelestarian lingkungan di kawasan Gunung Ungaran memiliki peran penting bagi wilayah di sekitarnya.

“Memang di daerah lain, seperti di Dieng, proyek geothermal tidak membuat kerusakan alam. Namun, di Dieng itu kan penduduknya tidak sepadat di gunung Ungaran, pemanfaatan di Dieng pun berbeda di gunung ungaran, mulai dari potensi pariwisata, sumber air baku. Lalu, kelestarian aneka flora dan fauna, jadi harus dikaji lebih lanjut dan penting untuk ditinjau kembali,”tegas Farchan. (*)

Pos terkait