SEMARANGUPDATE.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengunjungi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pembuat Kue Lempit di Desa Sendangdawuhan pada 3 September. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menggali potensi usaha masyarakat sekaligus melihat secara langsung perkembangan UMKM tradisional di desa.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa KKN berdiskusi dengan pemilik usaha mengenai perjalanan bisnis, bahan baku, proses pembuatan, hingga pola pemasaran produk.
Usaha Kue Lempit tersebut diketahui telah dirintis sejak 1998, setelah pemilik kembali dari Malaysia dan mulai menjalankan usaha makanan ringan secara mandiri.
“Mulai membuat sejak tahun 1998, setelah kembali dari Malaysia,” jelasnya.
Seiring berkembangnya usaha, pemilik menggunakan cetakan untuk membuat Kue Lempit dalam berbagai bentuk. Produk yang dihasilkan antara lain egg roll, bentuk caping, segitiga, serta sejumlah bentuk lainnya.
Kue Lempit dibuat dari sejumlah bahan, seperti tepung tapioka, margarin, gula, telur, dan tepung terigu. Produk tersebut juga dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet. Dalam proses produksinya, pemilik menerapkan takaran tertentu, termasuk penggunaan sekitar dua butir telur untuk setiap 2,5 kilogram adonan.
Selain memiliki beberapa varian bentuk, Kue Lempit juga dapat disimpan dalam waktu relatif lama. Jika disimpan dengan baik, produk tersebut mampu bertahan hingga sekitar dua bulan.
Permintaan terhadap Kue Lempit biasanya meningkat pada periode tertentu, terutama saat bulan haji dan Hari Raya Idulfitri. Untuk memasarkannya, pemilik masih mengandalkan penjualan langsung dan sistem titip jual melalui warung, toko, kios, serta pasar di sekitar wilayah pemasaran.
Pemilik juga aktif menawarkan produknya dengan berkeliling menggunakan sepeda. Sistem titip jual dilakukan dengan menitipkan produk kepada pemilik warung atau toko, kemudian produk diambil kembali pada siang hari. Jika ditemukan produk yang rusak, barang tersebut dikembalikan kepada pemilik.
“Penjualannya dititipkan di toko, di pasar, dan warung-warung. Kemudian siang diambil, kalau ada yang rusak dikembalikan,” ungkapnya.
Saat ini, harga Kue Lempit berada di kisaran Rp40.000 per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan ketika usaha pertama kali berjalan yang hanya sekitar Rp15.000 per kilogram.
Meski telah bertahan selama puluhan tahun, keberlanjutan usaha tersebut masih menghadapi tantangan. Salah satunya belum adanya anggota keluarga yang secara khusus meneruskan usaha pembuatan Kue Lempit.
Kondisi itu menjadi perhatian karena keterampilan membuat makanan tradisional yang telah dijalankan sejak 1998 berisiko berhenti apabila tidak ada generasi penerus.
Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa KKN memperoleh gambaran mengenai pengelolaan UMKM secara langsung, mulai dari produksi, pemasaran, sistem titip jual, hingga tantangan mempertahankan usaha lokal.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya untuk mengenali potensi ekonomi Desa Sendangdawuhan dan mendokumentasikan keberadaan produk tradisional agar tetap dikenal serta memiliki peluang untuk terus berkembang di masa mendatang. (*)







