SEMARANGUPDATE.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo mengunjungi salah satu usaha konveksi jeans di Desa Sendangdawuhan untuk menggali potensi ekonomi yang berkembang di tengah masyarakat.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan mahasiswa dalam mengenali lebih dekat usaha lokal, termasuk perjalanan bisnis, kapasitas produksi, jumlah tenaga kerja, hingga strategi pemasaran yang diterapkan pemilik konveksi.
Usaha konveksi tersebut diketahui mampu memproduksi sekitar 3.000 celana jeans setiap pekan. Produk yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan di wilayah sekitar, tetapi juga dikirim ke sejumlah daerah di luar Pulau Jawa.
Pemilik konveksi telah menekuni produksi jeans selama kurang lebih 17 tahun. Sementara usaha konveksi yang berada di Desa Sendangdawuhan mulai beroperasi sejak 2017.
Seiring perkembangannya, usaha tersebut kini mempekerjakan sekitar 45 orang. Kapasitas produksi yang mencapai ribuan celana setiap minggu membuat produk konveksi mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Pengiriman rata-rata ke luar Jawa, seperti Sumatera sampai Aceh,” jelas pemilik konveksi.
Menurut pemilik usaha, mengenali karakteristik calon konsumen menjadi hal penting sebelum menentukan produk yang akan dibuat dan dipasarkan. Perbedaan kebutuhan konsumen di setiap daerah membuat pelaku usaha perlu memahami target pasar terlebih dahulu.
“Harus melihat target market sebelum memulai usaha, karena tiap daerah berbeda,” ungkapnya.
Pemahaman terhadap target market kemudian digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan produksi dan pemasaran. Selain mengandalkan penjualan secara langsung, konveksi tersebut juga mulai memanfaatkan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan konsumen.
Produk jeans yang dibuat dipasarkan dengan merek Oxygess. Penggunaan kanal penjualan online menjadi salah satu langkah usaha tersebut dalam mengikuti perubahan pola pemasaran dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Dalam perjalanan bisnisnya, pemilik konveksi juga pernah menghadapi kerugian sekitar Rp30 juta setelah menjadi korban penipuan. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya menghentikan usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Kerugian itu justru menjadi pengalaman bagi pemilik untuk lebih berhati-hati, terutama dalam melakukan transaksi maupun menjalin kerja sama dengan pihak lain.
Kapasitas produksi hingga 3.000 celana jeans per minggu menunjukkan bahwa industri konveksi di Desa Sendangdawuhan memiliki peluang untuk berkembang dan menembus pasar antardaerah.
Bagi mahasiswa KKN, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari langsung proses pengembangan usaha masyarakat. Mereka dapat melihat bagaimana pelaku usaha membaca kebutuhan pasar, mengelola tenaga kerja, menghadapi risiko, serta memanfaatkan pemasaran online.
Kegiatan kunjungan UMKM dan industri lokal tersebut juga diharapkan membantu mahasiswa mengenali potensi ekonomi Desa Sendangdawuhan.
Keberadaan konveksi jeans ini menjadi salah satu gambaran bahwa industri lokal mampu berkembang dari pasar desa hingga menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia. (*)







