Wali Kota Semarang Dorong Penguatan Program MBG, Akademisi Soroti Risiko Keamanan Pangan

Pegawai sedang menata menu makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG).

SEMARANGUPDATE.COM – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng terus mendorong penguatan kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui partisipasi dalam Dialog Nasional bertajuk Praktik Baik MBG yang akan diselenggarakan pada tanggal 28-30 April 2026 di Hotel Gumaya, Semarang.

Forum ini menjadi wadah strategis untuk menghimpun masukan dari kalangan akademisi dan praktisi guna memastikan program berjalan optimal dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Menurut pengamat pangan, Dr. Inneke Hantoro, S.TP. M.Sc., dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UNIKA Soegijapranata yang memiliki keahlian di bidang keamanan dan integritas pangan, menegaskan bahwa program MBG secara konsep sudah tepat. Namun, persoalan utama terletak pada implementasi yang masih menyisakan banyak celah.

“Program ini baik, tetapi implementasinya belum kuat. Jaminan keamanan pangan, kualitas makanan, kompetensi SDM, hingga Sistem Pengelolaan Penyediaan Pangan (SPPG) masih perlu dibenahi secara serius,” tegasnya, Minggu (26/4/2026).

Ia secara khusus menyoroti risiko yang muncul ketika standar keamanan pangan tidak dijalankan secara disiplin. Menurutnya, kasus makanan tidak layak hingga keracunan bukan sekadar insiden teknis, melainkan ancaman serius terhadap kepercayaan publik.

“Kalau masih terjadi kasus keracunan atau makanan tidak layak, program ini akan terus ditolak. Orang tua tidak akan mengambil risiko terhadap kesehatan anaknya,” ujarnya.

Selain itu, Inneke menilai persoalan transparansi menjadi titik krusial. Tanpa sistem yang terbuka dan akuntabel, program MBG akan sulit mendapatkan legitimasi dari masyarakat.

Lebih jauh, ia mempertanyakan efektivitas pendekatan yang terlalu sentralistik dalam pelaksanaan program. Menurutnya, kondisi di lapangan sangat beragam dan tidak bisa sepenuhnya diatur dari pusat tanpa melibatkan daerah.

“Kuncinya ada pada kemauan pemerintah pusat untuk mendengar. Perlu dievaluasi, apakah sistem yang terlalu terpusat ini sudah tepat, atau justru perlu memberi ruang lebih besar bagi pemerintah daerah dan sekolah,” jelasnya.

Dari sisi praktisi dan pengamat, harapan terhadap Dialog Nasional ini sangat jelas yakni harus menghasilkan keputusan, bukan sekadar kesimpulan.

Forum ini diharapkan mampu mendorong perubahan nyata, terutama dalam tiga hal utama yakni standar keamanan pangan yang ketat, sistem pengawasan yang transparan, dan pelibatan aktif pemerintah daerah serta sekolah.

“Dialog seperti ini harus berujung pada langkah konkret. Perbaikan kualitas dan keamanan pangan tidak bisa ditunda, dan pelaksanaan program harus lebih terbuka serta adaptif terhadap kondisi di lapangan,” tegasnya.

Pemerintah Kota Semarang memandang masukan ini sebagai catatan penting dalam mendorong perbaikan berkelanjutan program MBG.

Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan sekolah dinilai menjadi kunci untuk memastikan program ini benar-benar memberi manfaat, bukan justru menimbulkan risiko.

Sebagaimana diketahui bahwa Kota Semarang menjadi tuan rumah penyelenggaraan dialog nasional praktik baik MBG yang berlangsung mulai tanggal 28 sampai dengan 30 April 2026 di Hotel Gumaya. (*)

Pos terkait