Imbas Harimau Mati, Pemkot Evaluasi Dana dan Pengelolaan Semarang Zoo

Imbas Harimau Mati, Pemkot Evaluasi Dana dan Pengelolaan Semarang Zoo
Imbas Harimau Mati, Pemkot Evaluasi Dana dan Pengelolaan Semarang Zoo

SEMARANGUPDATE.COM – Kematian Anggun, seekor harimau putih, memicu Pemerintah Kota Semarang untuk segera merombak sistem pengelolaan Semarang Zoo. Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menyoroti bahwa kebijakan pemangkasan anggaran disinyalir menjadi penyebab utama kurang maksimalnya pemeliharaan hewan di sana.

Hal ini disampaikannya setelah menghadiri acara Munas BEM SI XIX 2026 di Polines, Senin (27/7/2026). Ia menekankan bahwa pihak pengelola kebun binatang seharusnya lebih ekstra waspada dalam merawat satwa, di mana minimnya dana tidak boleh mengorbankan kesejahteraan hewan.

Bacaan Lainnya

“Kemarin saya sampaikan kepada teman-teman supaya lebih berhati-hati karena sepertinya kekurangan anggaran yang ada di Semarang Zoo ini menjadi penyebab utama mengapa proses perawatannya itu dilakukan efisiensi,” ujarnya.

Saat ini, Pemkot Semarang tengah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi satwa lainnya. Langkah ini untuk memastikan kebutuhan dasar satwa tetap terpenuhi dengan baik meskipun ada penyesuaian dana.

“Ini sedang dicek. Kita berharap proses efisiensinya bisa diatur sedemikian rupa, bukan yang untuk binatang yang dikurangi,” katanya.

Bersamaan dengan evaluasi ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turut memberikan masukan agar Semarang Zoo dikelola oleh pihak ketiga yang lebih berpengalaman di bidang kebun binatang. Opsi kolaborasi ini tengah dipelajari demi mendongkrak kualitas fasilitas sekaligus menjamin kesehatan satwa.

“Kemarin saya ditelepon Pak Gubernur. Ada kemungkinan kebun binatang ini dikerjasamakan dengan pihak ketiga yang memang sudah memiliki pengalaman mengelola kebun binatang sehingga satwa bisa dirawat dengan lebih baik,” ungkapnya.

Prioritas utama yang sangat mendesak saat ini, lanjut Agustina, adalah memastikan seluruh satwa mendapatkan perawatan kelayakan hidup tanpa terhambat oleh masalah finansial.

“Kemungkinan itu menjadi salah satu opsi yang akan kita ambil. Yang paling penting bagi kami adalah binatang-binatang di Semarang Zoo bisa dirawat dengan benar,” tegasnya.

Tantangan lainnya terletak pada status Semarang Zoo sebagai BUMD. Pendanaan operasional murni bergantung pada pemasukan perusahaan, sementara suntikan modal dari pemerintah kota tidak diizinkan secara aturan untuk membiayai kebutuhan operasional harian.

“Kalau menjadi badan usaha, ketika pendapatan tidak mencukupi maka pembiayaan operasional harus dilakukan secara efisien. Sementara tambahan modal dari pemerintah kota tidak bisa dipakai untuk biaya operasional karena modal itu diperuntukkan bagi pengembangan usaha,” jelas Agustina.

Situasi ini memunculkan dilema tersendiri. Pengelola dituntut menyeimbangkan pengeluaran dengan pendapatan, namun di saat yang sama pemberian perawatan bagi satwa merupakan hal mutlak yang tidak bisa menunggu.

“Pusing juga kalau saya menjadi direktur Semarang Zoo. Mungkin membutuhkan waktu untuk menjadi kebun binatang yang bagus, tetapi binatang tidak bisa menunggu sampai kita memiliki uang yang banyak untuk dirawat,” ujarnya.

Oleh sebab itu, berbagai rencana perbaikan tengah digodok oleh Pemkot Semarang, termasuk menindaklanjuti usulan kerja sama dengan pengelola profesional guna mewujudkan tata kelola kebun binatang yang lebih ideal.

“Nah, sekarang kami mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk menindaklanjuti tawaran dari Pak Gubernur untuk kerja sama dengan pihak ketiga. Mudah-mudahan ini menjadi solusi karena saya juga sangat prihatin,” kata Agustina.

Di sisi lain, proses investigasi mendalam masih terus berjalan terkait dugaan kesalahan prosedur dalam pengiriman harimau putih ke Medan, yang kabarnya berkaitan dengan tragedi kematian Anggun.

“Ini sedang diteliti lebih lanjut karena berkaitan dengan makhluk hidup dan kejadiannya juga sudah berlangsung beberapa waktu lalu,” pungkasnya. (*)

Pos terkait