TMMD Sengkuyung III Tuntas, Wali Kota Agustina Perkuat Penanganan RTLH dan Banjir

TMMD Sengkuyung III Tuntas, Wali Kota Agustina Perkuat Penanganan RTLH dan Banjir
TMMD Sengkuyung III Tuntas, Wali Kota Agustina Perkuat Penanganan RTLH dan Banjir

SEMARANGUPDATE.COM – Program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap III Tahun 2026 di Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, resmi berakhir. Penutupan kegiatan berlangsung di Ruang Lokakrida Balai Kota Semarang, Kamis (13/8).

Mewakili Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin memimpin penutupan program yang telah berjalan selama sekitar satu bulan sejak pertengahan Juli 2026.

Bacaan Lainnya

Agustina menyampaikan apresiasi kepada Kodim 0733/Kota Semarang, jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat Sawah Besar yang bersama-sama mendukung pelaksanaan TMMD hingga selesai.

“TMMD memiliki makna yang dekat dengan kehidupan warga. Pembangunan yang dilakukan berfokus pada kebutuhan mendasar yang dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga,” ujarnya.

Kepala Staf Kodim 0733/Kota Semarang Yohanes Heru Wibowo, mewakili Dandim 0733/Kota Semarang, mengatakan TMMD Tahap III mengangkat tema “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”.

Program tersebut menjadi bentuk sinergi TNI dan pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di kawasan permukiman.

Sejumlah pembangunan berhasil diselesaikan selama TMMD berlangsung di Sawah Besar. Di antaranya peninggian jalan dan talud di kawasan Dempel Barat sepanjang 200 meter, penyediaan tandon air bersih, serta rehabilitasi 10 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dengan dukungan Baznas Kota Semarang.

Kegiatan TMMD juga diisi dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Mulai dari penyuluhan kesehatan keluarga, pembinaan remaja, pelatihan keterampilan, hingga pelayanan administrasi bagi warga.

Bagi Agustina, perbaikan 10 RTLH di Sawah Besar merupakan bagian dari langkah yang lebih besar untuk mempercepat penanganan hunian tidak layak di Kota Semarang.

Pada 2026, Pemkot Semarang menargetkan perbaikan sekitar 2.500 unit RTLH melalui kolaborasi pendanaan dari APBD, APBN, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta dukungan dari sektor swasta melalui CSR.

“Rumah merupakan tempat tumbuh kembang anak-anak dan ruang beristirahat orang tua. Perbaikan sepuluh rumah di Sawah Besar ini memiliki arti besar bagi masa depan keluarga yang menghuninya,” katanya.

Selain persoalan hunian, Pemkot Semarang juga memberi perhatian pada ancaman banjir di wilayah Gayamsari. Sawah Besar dan Kaligawe termasuk dalam sistem pengendalian Sungai Tenggang yang membutuhkan pengelolaan secara terpadu.

Salah satu infrastruktur penting dalam sistem tersebut adalah Kolam Retensi Rusunawa-Kaligawe. Kolam tersebut memiliki luas sekitar 14,3 hektare dengan kapasitas tampung mencapai sekitar 228.700 meter kubik.

Agustina menilai keberadaan saluran air, pompa, dan kolam retensi harus terus dirawat sekaligus dikembangkan agar proses penampungan, pengaliran, dan pemompaan air dapat berlangsung secara optimal.

Pemkot Semarang juga tengah menyusun konsep penanganan banjir kawasan timur secara lebih terintegrasi. Salah satu opsi yang dikaji adalah pemanfaatan aset untuk membangun jaringan kolam retensi yang dapat saling terhubung.

Menurut Agustina, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh dari wilayah hulu hingga hilir. Perencanaan yang matang dan keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas sistem pengendalian banjir.

Kesadaran warga untuk menjaga lingkungan, termasuk tidak membuang sampah sembarangan dan merawat infrastruktur pengendali air, menjadi bagian dari upaya tersebut.

“Gotong royong antara TNI, pemerintah, dan warga terbukti mampu menghadirkan perubahan yang nyata. Saya titip agar jalan, talud, tandon air, dan rumah yang sudah diperbaiki ini kita rawat bersama,” pungkasnya. (*)

Pos terkait