SEMARANGUPDATE.COM – Pengembangan kawasan hunian di Kota Semarang kembali bergeliat. Arya Group resmi memulai pembangunan klaster premium AYRA di BSB Village, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Minggu (27/9/2026).
Groundbreaking ditandai dengan penekanan tombol oleh jajaran direksi Arya Group, manajemen BSB Village, serta Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara.
General Manager General Manager PT Hijau Cipta Harmoni, selaku pengembang BSB Village, Sony Kurniawan Saputra, mengatakan AYRA menjadi klaster premium pertama yang dikembangkan Arya Group di BSB Village.
Proyek tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah baru perusahaan dalam mengembangkan bisnis properti di Kota Semarang dan Jawa Tengah.
“Konsep AYRA ini sebuah masterpiece dari Arya Group. Kami menghadirkan klaster premium pertama di BSB Village yang bertemakan resor dan vila,” kata Sony.
Konsep tersebut dirancang agar penghuni tidak sekadar mendapatkan rumah, tetapi juga pengalaman tinggal dengan suasana seperti berada di kawasan vila.
Menurutnya, lokasi BSB Village yang berada di kawasan relatif tinggi dibanding wilayah lain di Kota Semarang menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan konsep hunian.
“Lebih ke arah hunian yang bisa merasakan experience hidup di vila dan merasakan bersihnya udara di BSB Village,” ujarnya.
Pada tahap awal, AYRA menawarkan tiga tipe hunian, yakni Ayra Eight, Ayra Eight Plus, dan Ayra Deluxe.
Harga yang ditawarkan berada di kisaran Rp1,3 miliar hingga Rp2,5 miliar, sehingga menyasar konsumen kelas menengah hingga menengah atas.
Sony menjelaskan, luas tanah setiap unit minimal 120 meter persegi. Ketentuan tersebut disesuaikan dengan aturan yang berlaku.
“Segmentasi pasarnya dari harga Rp1,3 miliar sampai Rp2,5 miliar. Jadi segmentasinya bisa dikatakan kelas middle ke atas,” jelasnya.
Secara keseluruhan, klaster AYRA direncanakan memiliki 301 unit rumah.
Konsep arsitektur yang digunakan mengusung gaya natural tropis dengan menonjolkan unsur alam. Material seperti kayu dan batu dipadukan dengan pilihan warna-warna natural.
Untuk menerjemahkan konsep tersebut ke dalam desain, manajemen BSB Village menggandeng konsultan dari Jakarta.
Pengembangan AYRA juga menjadi bagian dari rencana jangka panjang Arya Group di BSB Village. Sony menyebut kawasan BSB Village masih memiliki sisa lahan sekitar 35 hektare secara gross.
Pembangunan kawasan secara keseluruhan ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar lima hingga enam tahun.
Pengembang, kata dia, berupaya mengoptimalkan lahan dengan tetap mempertahankan kenyamanan kawasan. Dari proses tersebut, jumlah 301 unit dinilai menjadi komposisi yang sesuai antara kebutuhan hunian dan pengembangan kawasan.
“Secara hunian harus nyaman, tapi kami sebagai developer juga melihat margin serta ukuran tanah dan konsep sebuah kawasan. Makanya kami ketemu di 301 unit,” katanya.
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian dalam pengembangan AYRA. Sony menyebut sekitar 40 persen kawasan dialokasikan untuk fasilitas umum, fasilitas sosial, serta ruang terbuka.
Khusus untuk ruang terbuka hijau di kawasan AYRA, luas yang disiapkan mencapai sekitar 8 hektare.
Sony mengatakan keputusan memulai pembangunan klaster baru tidak terlepas dari optimisme terhadap sektor properti.
Menurutnya, industri properti memiliki keterkaitan dengan banyak sektor usaha lain sehingga pergerakan pembangunan dapat ikut mendorong aktivitas ekonomi.
“Kalau kita tidak bergerak, kita akan semakin susah. Kami membuat klaster baru tujuannya untuk menggerakkan roda ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara mengapresiasi langkah Arya Group yang tetap melakukan inovasi pembangunan hunian baru di tengah kondisi ekonomi yang dinilainya belum stabil.
Menurut Arnaz, keberanian investor untuk tetap berekspansi perlu didukung oleh iklim investasi yang kondusif, termasuk kemudahan perizinan dari pemerintah daerah.
“Bagaimana investor ingin masuk di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, harus ada peran serta dari pemerintah berupa pemberian fasilitas dan kemudahan perizinan,” kata Arnaz.
Ia menambahkan, sektor properti memiliki peran strategis dalam menggerakkan investasi dan ekonomi daerah. Karena itu, kemudahan bagi pelaku usaha perlu terus didorong agar investor merasa nyaman menanamkan modalnya.
Namun, Arnaz juga mengingatkan agar pembangunan di BSB Village tetap memperhatikan aspek lingkungan.
Ia meminta pengembang mempertahankan proporsi area penghijauan, ruang terbuka, serta fasilitas umum dan fasilitas sosial.
“Penghijauan yang ada dipertahankan. Area untuk penghijauan sekitar 35-40 persen tetap harus dipenuhi karena ini daerah serapan air dan daerah penghijauan,” ujarnya.
Dengan konsep hunian premium, ruang terbuka yang luas, serta pendekatan natural tropis, AYRA menjadi bagian dari wajah baru pengembangan BSB Village sekaligus menandai ekspansi Arya Group di pasar properti Kota Semarang. (*)







