Polines dan UNIMUS Perkuat Kolaborasi Pendidikan dan Riset, Bahas Pengembangan AI Berkelanjutan

Polines dan UNIMUS memperkuat kolaborasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat sekaligus membahas pengembangan AI yang inklusif dan berkelanjutan. (Dok Polines)

SEMARANGUPDATE.COM – Politeknik Negeri Semarang (Polines) dan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua perguruan tinggi.

Bacaan Lainnya

MoU ditandatangani Direktur Polines Dr. Garup Lambang Goro, S.T., M.T. dan Rektor UNIMUS Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd. di Ruang Rektor UNIMUS, beberapa waktu lalu.

Penandatanganan kerja sama kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta keterkaitannya dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kerja sama Polines dan UNIMUS diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi dapat diwujudkan melalui berbagai program konkret.

Kolaborasi tersebut membuka peluang bagi kedua institusi untuk memperkuat kapasitas, mengembangkan kegiatan akademik, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dikutip dari polines.ac.id, Rabu (28/10/2026), Direktur Polines Garup Lambang Goro mengatakan, pengembangan perguruan tinggi membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sesama institusi pendidikan tinggi.

Menurutnya, sinergi antarperguruan tinggi dapat membuka lebih banyak peluang penelitian bersama, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, sekaligus memperkuat keterkaitan antara pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Polines selama ini terus mengembangkan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan industri dan masyarakat.

Perguruan tinggi yang berdiri pada 1982 dengan nama Politeknik Universitas Diponegoro tersebut kini memiliki 27 program studi, mulai dari jenjang Diploma Tiga (D3), Sarjana Terapan, hingga Magister Terapan Teknik Telekomunikasi.

Polines juga memiliki sekitar 9.560 mahasiswa dan 355 dosen aktif. Penguatan kualitas pendidikan, kompetensi dosen, serta produktivitas penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan relevansi pembelajaran dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Sementara itu, Rektor UNIMUS Prof. Dr. Masrukhi menyambut baik kunjungan jajaran pimpinan Polines. Ia berharap kesepahaman yang telah ditandatangani dapat segera ditindaklanjuti melalui berbagai program kerja sama yang konkret.

Kerja sama tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat di kedua perguruan tinggi.

Polines dan UNIMUS Bahas AI Inklusif dan Berkelanjutan

Salah satu agenda penting dalam pertemuan Polines dan UNIMUS adalah pembahasan mengenai perkembangan AI dan pemanfaatannya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Diskusi dipimpin Muhammad Yusuf, Ph.D., Wakil Rektor IV UNIMUS Bidang Kerja Sama, bersama Prof. Dr. Ir. Kurnianingsih, S.T., M.T., Wakil Direktur Polines Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi.

Dalam diskusi tersebut, kedua perguruan tinggi menyoroti pentingnya pemanfaatan AI yang tidak sekadar mengejar perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat.

AI dinilai memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian hingga pelayanan masyarakat.

Namun, pengembangannya perlu mempertimbangkan aspek aksesibilitas, efisiensi, dampak sosial, dan lingkungan.

Salah satu konsep yang menjadi perhatian adalah Green AI, yakni pendekatan pengembangan dan pemanfaatan AI yang memperhatikan efisiensi komputasi, kebutuhan energi, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Melalui konsep tersebut, pengembangan AI diharapkan tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Pentingnya AI yang Tidak Meninggalkan Manusia

Selain persoalan lingkungan, kesenjangan akses terhadap infrastruktur digital juga menjadi tantangan dalam pengembangan AI.

Teknologi AI perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi pengguna yang beragam. Dengan demikian, manfaat AI tidak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang memiliki perangkat dan akses internet memadai.

Pertemuan tersebut juga menekankan pentingnya keterlibatan manusia dalam penerapan AI melalui pendekatan human in the loop.

Dalam pendekatan ini, manusia tetap memiliki peran untuk memeriksa keluaran sistem, mengevaluasi akurasi informasi, serta memastikan keputusan yang dihasilkan AI sesuai dengan konteks dan kebutuhan pengguna.

Prinsip tersebut menjadi penting, terutama dalam penerapan AI yang berkaitan dengan keselamatan dan kepentingan publik.

AI dapat menjadi sarana untuk membantu analisis dan pengambilan keputusan, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan pertimbangan manusia.

Melalui kolaborasi tersebut, Polines dan UNIMUS membuka ruang kerja sama yang menghubungkan pendidikan, penelitian, dan inovasi teknologi.

Sinergi kedua perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan solusi berbasis teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. (*)

Pos terkait