Uji Lab Keracunan MBG SMKN 6 Semarang Butuh 14 Hari, E. Coli dan Salmonella Diduga

Uji Lab Keracunan MBG SMKN 6 Semarang Butuh 14 Hari, E. Coli dan Salmonella Diduga
Uji Lab Keracunan MBG SMKN 6 Semarang Butuh 14 Hari, E. Coli dan Salmonella Diduga

SEMARANGUPDATE.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengungkap penyebab pasti dugaan keracunan massal yang menimpa siswa SMKN 6 Semarang dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemeriksaan dilakukan melalui uji mikrobiologi terhadap sampel makanan yang telah diamankan petugas.

Proses kultur bakteri diperkirakan memerlukan waktu antara tujuh hingga 14 hari sebelum hasilnya dapat diketahui. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar dalam memastikan jenis bakteri yang diduga menjadi penyebab kasus tersebut.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinkes Kota Semarang M. Abdul Hakam mengatakan, sampel makanan yang diuji dipilih berdasarkan hasil investigasi epidemiologi terhadap para korban. Beberapa menu yang paling banyak dicurigai telah dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

“Dari asesmen yang dilakukan pada korban, keterdugaan terkuat ada di rendang dan telur puyuh, masing-masing dicurigai oleh sekitar 40-an persen responden. Sampel rendang, daun singkong, tahu, hingga telur puyuh sudah kita ambil untuk kultur bakteri,” jelas Hakam, Senin, 3 Agustus 2026.

Ia menambahkan, pengujian laboratorium ini membutuhkan proses pembiakan kuman yang memakan waktu antara 7 hingga 14 hari.

Berdasarkan gejala yang dialami para korban, seperti mual, muntah, dan diare, Dinkes menduga terdapat tiga jenis bakteri yang berpotensi menjadi penyebab keracunan.

“Dugaan bakterinya biasanya kalau tidak E. coli, Staphylococcus, ya Salmonella. Itu yang sering terjadi pada kasus seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi para korban dilaporkan terus membaik. Dari puluhan siswa yang sebelumnya menjalani perawatan, kini hanya enam siswi yang masih dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, dan Puskesmas Bangetayu.

Satu siswa dari puskesmas sempat dirujuk ke rumah sakit akibat penurunan kadar elektrolit karena dehidrasi. Meski demikian, seluruh pasien dilaporkan dalam kondisi stabil dan masih mendapatkan penanganan medis. (*)

Pos terkait