SEMARANGUPDATE.COM – Persoalan gizi pada anak masih menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 3.108 anak di Kota Semarang tercatat mengalami stunting.
Jumlah tersebut setara dengan prevalensi stunting sebesar 4,49 persen. Data itu diperoleh dari hasil penimbangan dan pengukuran balita yang dihimpun hingga cut off Agustus 2026.
Selain stunting, pemantauan status gizi juga menemukan persoalan lain pada balita. Dinkes mencatat 1.707 anak mengalami wasting atau kekurangan gizi akut, sedangkan 3.497 anak lainnya masuk kategori underweight atau memiliki berat badan kurang.
Untuk menekan jumlah kasus tersebut, Dinkes Kota Semarang menerapkan pendekatan penanganan dan pencegahan secara bersamaan. Strategi itu diarahkan untuk membantu anak yang telah mengalami masalah gizi sekaligus mencegah munculnya kasus baru pada kelompok yang masih berisiko.
“Dua strategi utama ini yang terus kita jalankan secara konsisten. Bagi balita yang sudah masuk kriteria stunting, wasting, maupun underweight, kita lakukan tata laksana medis spesifik. Sementara bagi kelompok yang masih berisiko, kita amankan bersama OPD terkait agar tidak menambah kasus baru,” ujar Kepala Dinkes Kota Semarang M. Abdul Hakam di Semarang, Jumat, 25 September 2026.
Untuk anak yang telah mengalami gangguan gizi, intervensi kesehatan secara khusus terus diperkuat. Salah satu upayanya dilakukan melalui layanan daycare yang kini tersedia di 16 titik serta program “Keluarga Cemara” yang dilaksanakan setiap pekan di 40 Puskesmas.
Program tersebut menyasar tiga kelompok, yakni balita dengan masalah gizi, ibu hamil, serta kalangan remaja. Dinkes juga memperkuat penanganan melalui sejumlah program kesehatan lainnya.
Hakam menyebut upaya tersebut mencakup penyelesaian cakupan imunisasi dasar hingga 100 persen, pemberian tablet tambah darah kepada remaja melalui program Piterpan (Pelayanan dan Edukasi Kesehatan Terpadu Pelajar Kota Semarang), serta skrining tuberkulosis (TBC) secara luas bagi balita yang mengalami masalah gizi.
“Balita yang bermasalah gizi kita lakukan skrining TBC. Jika ditemukan kasus TBC, langsung kita obati sampai tuntas. Langkah ini sangat krusial agar penurunan angka stunting di Semarang tidak stagnan, tetapi bisa bergerak progresif,” jelasnya.
Sementara itu, penanganan terhadap kelompok yang masih memiliki risiko masalah gizi lebih diarahkan pada langkah pencegahan sejak dini. Upaya tersebut dilakukan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Daldalduk) Kota Semarang bersama unsur kewilayahan.
Dinkes juga melakukan pemantauan secara berkala terhadap pelaksanaan program. Evaluasi mencakup tingkat kehadiran dan kelulusan peserta daycare maupun posyandu yang dilakukan setiap pekan.
“Data kehadiran posyandu setiap minggu kita laporkan langsung di grup pemantauan bersama jajaran pimpinan daerah, camat, hingga lurah. Dengan begitu, perkembangan di tiap kelurahan dapat terus terpantau dan penanganannya bisa dilakukan secara cepat serta tepat sasaran,” tandasnya. (*)







