Mahasiswa Teknik Mesin Undip Lulus Cumlaude, Tawarkan Solusi Cegah Kerugian PSEL

Mahasiswa Teknik Mesin Undip Lulus Cumlaude, Tawarkan Solusi Cegah Kerugian PSEL
Mahasiswa Teknik Mesin Undip Lulus Cumlaude, Tawarkan Solusi Cegah Kerugian PSEL

SEMARANGUPDATE.COM – Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ardhian Amadeo Reswandra, berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat Cumlaude. Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,58 dan menuntaskan pendidikan sarjana dalam waktu 4 tahun kurang 3 hari.

Tak hanya menyelesaikan studi tepat waktu, Ardhian juga menghasilkan penelitian yang menawarkan strategi untuk menekan potensi kerugian akibat gangguan operasional pada Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Bacaan Lainnya

Gagasan tersebut dituangkan dalam tugas akhir berjudul “Evaluasi Risiko Komponen dan Risk Based Inspection pada Unit Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL)”.

Penelitian itu dipresentasikan dalam sidang tugas akhir dan diuji oleh dosen pembimbing Prof. Dr. Eng. Ir. Gunawan Dwi Haryadi, S.T., M.T., IPU., dan Dr. Yusuf Umardani, S.T., M.T., bersama dosen penguji Dr. Norman Iskandar, S.T., M.T.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Terima kasih yang tak terhingga untuk dosen pembimbing dan dosen penguji, serta dukungan luar biasa dari kedua orang tua saya,” tutur Ardhian usai sidang kelulusannya.

Penelitian tersebut dilatarbelakangi kebutuhan terhadap PSEL sebagai salah satu solusi untuk mengurangi persoalan penumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan. Teknologi ini mampu mengurangi volume residu sampah hingga 5-10 persen dengan efisiensi pembakaran mencapai 98,5 persen.

Meski memiliki teknologi pengolahan yang mumpuni, sistem PSEL tetap menghadapi risiko gangguan pada komponen mesin. Kompleksitas sistem yang saling terhubung membuat kerusakan pada satu komponen penting berpotensi menghentikan keseluruhan proses produksi energi.

Ardhian menilai pola pemeliharaan yang hanya mengandalkan perbaikan setelah terjadi kerusakan atau reactive maintenance dapat menimbulkan biaya lebih besar.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, biaya perbaikan tidak terencana dapat mencapai 30 hingga 50 persen lebih mahal dibandingkan tindakan pemeliharaan preventif.

Karena itu, ia menawarkan pendekatan Risk Based Inspection (RBI) sebagai strategi untuk menentukan prioritas pemeliharaan berdasarkan tingkat risiko masing-masing komponen.

Metode tersebut mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kerusakan, dampak yang ditimbulkan, hingga kebutuhan biaya perawatan.

Hasil pemodelan menunjukkan terdapat tiga komponen yang memiliki tingkat risiko kerusakan tinggi, yaitu Superheater Tubes, Screw Conveyor, serta Rotor & Bearings.

Screw Conveyor tercatat memiliki probabilitas kerusakan paling tinggi, yakni 69,9 persen, disusul Superheater Tubes sebesar 63,2 persen.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya sistem pemeliharaan yang terencana agar kerusakan komponen tidak sampai menghentikan kegiatan operasional PSEL. Ardhian kemudian menyusun rekomendasi inspeksi berdasarkan tingkat risiko setiap komponen.

Untuk komponen dengan risiko tinggi, misalnya, pemeriksaan ketebalan menggunakan gelombang ultrasonik disarankan dilakukan setiap tiga bulan. Sementara itu, komponen yang memiliki tingkat risiko rendah cukup mendapatkan inspeksi visual setiap enam bulan.

Strategi tersebut juga dinilai memiliki manfaat dari sisi ekonomi. Dalam perhitungannya, Ardhian memperkirakan penghentian operasi mesin secara mendadak selama 72 jam dapat menimbulkan potensi kerugian hingga Rp928 juta.

Besarnya potensi kerugian tersebut menunjukkan bahwa biaya pemeliharaan preventif secara rutin dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dibandingkan menanggung biaya akibat penghentian operasional secara tiba-tiba.

Menurut Ardhian, pemeliharaan mesin yang optimal akan membantu menjaga keberlangsungan operasional PSEL. Dengan demikian, manfaat fasilitas tersebut dapat dirasakan secara lebih maksimal, mulai dari aspek lingkungan, energi, hingga ekonomi dan sosial.

Dari sisi lingkungan, PSEL dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menekan polusi.

Dari aspek energi, fasilitas ini berpotensi menyediakan sumber listrik baru yang lebih ramah lingkungan. Sementara dari sisi ekonomi dan sosial, keberadaannya dapat membuka lapangan kerja serta memberikan tambahan pendapatan bagi daerah.

Ardhian berharap hasil risetnya tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat diterapkan oleh pemerintah maupun operator PSEL dalam kegiatan operasional sehari-hari.

“Harapan saya, rumusan strategi pemeliharaan mesin ini bisa diaplikasikan langsung di lapangan agar operasional PSEL menjadi lebih tangguh dan efisien. Dengan begitu, PSEL dapat terus beroperasi tanpa hambatan berarti, sehingga visi utamanya untuk menuntaskan darurat sampah sekaligus mendukung kemandirian energi bersih di Indonesia bisa benar-benar terwujud,” tutup Ardhian. (*)

Pos terkait