SEMARANGUPDATE.COM – Perkembangan teknologi mendorong mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Prodi PGSD Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berbagi pengetahuan tentang pemanfaatan teknologi dengan para guru di SD Negeri Gemah, Jalan Sendang Utara, Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Melalui mata kuliah Projek Kepemimpinan, mahasiswa PPG PGSD UPGRIS menggelar pelatihan pembuatan kuis interaktif digital bagi guru sekolah dasar, beberapa waktu lalu.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung proses pembelajaran.
Ketua kelompok PPG Prajabatan Prodi PGSD UPGRIS, Hidayah Adwi Susanti, mengatakan teknologi AI kini semakin mudah diakses dan berpotensi membantu meringankan berbagai pekerjaan guru.
Atas dasar itu, pihaknya menggelar Projek Kepemimpinan bertajuk “Pembuatan Kuis Interaktif Digital bagi Guru Sekolah Dasar”.
Pelatihan tersebut diberikan oleh mahasiswa PPG PGSD UPGRIS, yakni Tri Agusta Ilmiawan dan Muhammad Zumamudin.
Tri Agusta Ilmiawan menyampaikan materi mengenai pembuatan kuis berbasis AI, sedangkan Muhammad Zumamudin membawakan materi pembuatan modul ajar dengan memanfaatkan AI.
Hidayah menjelaskan, pelatihan digelar karena AI memiliki potensi besar membantu guru menyusun asesmen secara lebih cepat, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Menurutnya, bagi guru sekolah dasar, AI dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan kuis yang tidak sekadar berbentuk soal tertulis, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan.
“Alasan utamanya karena AI memiliki potensi besar untuk membantu guru membuat asesmen yang lebih cepat, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Guru SD membutuhkan alternatif kuis yang tidak hanya berupa soal tertulis, tetapi juga dapat memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan,” ungkap Hidayah, dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).
Ia menambahkan, kuis interaktif berbasis AI dapat dimanfaatkan sebagai asesmen formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa selama proses pembelajaran.
“Dengan kuis interaktif berbasis AI, guru dapat memperoleh gambaran mengenai materi yang sudah dikuasai siswa maupun materi yang masih perlu diperkuat,” jelasnya.
Meski demikian, Hidayah mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pembuatan kuis interaktif berbasis AI. Karena itu, pelatihan tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga memberikan panduan praktis agar guru dapat menggunakannya secara tepat dalam pembelajaran.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa juga akan menghasilkan Buku Saku Integrasi Kuis dengan AI yang akan diberikan kepada para guru sekolah dasar.
“Nilai utama buku saku ini adalah sebagai panduan praktis yang dapat digunakan guru kapan saja setelah pelatihan selesai. Buku saku ini dapat mengingatkan kembali langkah-langkah penggunaan AI, contoh penggunaan prompt, tahapan pembuatan kuis, serta tips penerapannya dalam pembelajaran,” jelasnya.
Hidayah menuturkan, pelatihan tersebut dapat terlaksana berkat bimbingan Dosen Projek Kepemimpinan PPG PGSD UPGRIS, Dr. Mei Fita Asri Untari, S.Pd., M.Pd.
“Pelatihan ini dapat terlaksana berkat bimbingan dari Dosen Projek Kepemimpinan PPG PGSD UPGRIS, Dr. Mei Fita Asri Untari, S.Pd., M.Pd. Beliau memberikan arahan dan pendampingan kepada kami selama proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan,” ucapnya.
Sementara itu, para guru SDN Gemah mulai merasakan manfaat AI dalam menyiapkan pembelajaran. Teknologi yang semula dianggap rumit kini dinilai mampu meringankan pekerjaan administrasi sekaligus membuat pembelajaran lebih interaktif.
Salah satu guru, Yani, mengaku awalnya bingung dan ragu menggunakan AI karena terbiasa mengajar dengan alat peraga serta metode manual. Namun, setelah memahami cara kerja dan manfaatnya, ia menilai AI merupakan teknologi positif yang semakin dibutuhkan dalam pendidikan.
“Awalnya memang bingung dan ragu karena belum memahami AI. Tetapi setelah memahami, ternyata AI sangat membantu dan memang dibutuhkan dalam dunia pendidikan,” ujar Yani.
Senada, Nora menilai AI dapat menyederhanakan berbagai pekerjaan guru yang sebelumnya dilakukan secara manual. Meski telah mengenal platform seperti ChatGPT, Gemini, dan Canva, pelatihan tersebut memberinya pengalaman baru, terutama dalam membuat kuis interaktif dan modul ajar.
Nora sempat mengalami kesulitan ketika mempraktikkan scripting HTML dan Google Apps Script. Namun, rasa sulit itu terbayar ketika kuis yang dibuat dapat berjalan otomatis dan hasilnya langsung terekap.
“Awalnya memang membingungkan saat praktik teknis. Tetapi ketika melihat hasilnya bisa berjalan otomatis dan rekapnya langsung muncul, rasanya sangat puas,” katanya.
Antusiasme peserta bahkan membuat pelatihan yang berlangsung hingga sekitar pukul 13.00 WIB terasa singkat. Guru yang awalnya berharap kegiatan segera selesai justru ingin terus mencoba berbagai fitur AI.
Bagi para guru, manfaat yang paling terasa adalah efisiensi waktu. Nora menyebut penyusunan satu modul ajar yang sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari secara manual kini dapat dipercepat dengan penggunaan prompt yang tepat.
“Dulu membuat satu modul bisa dua sampai tiga hari karena diketik manual. Dengan AI, modul dan soal bisa dibuat jauh lebih cepat hanya dengan beberapa prompt,” jelasnya.
AI juga membantu guru mencari ide soal, membuat kuis, hingga merekap hasil evaluasi siswa melalui Google Sheets atau Excel. Dengan sistem tersebut, guru tidak perlu lagi melakukan pencatatan dan penilaian secara manual.
Yani menilai pemanfaatan berbagai platform AI turut memperluas wawasan guru. Gemini dan Claude, misalnya, dapat menjadi alternatif untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi siswa.
Meski demikian, Yani dan Nora menegaskan AI tidak boleh menggantikan peran guru. Teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai pendamping, terutama dalam membantu administrasi dan persiapan pembelajaran.
Sementara itu, pembentukan karakter, nilai religius, pendekatan psikologis, serta pendampingan secara langsung tetap menjadi tanggung jawab guru.
“AI hanyalah pendamping. Guru tetap memegang kendali utama karena siswa membutuhkan pembentukan karakter, nilai religius, tausiyah, dan pendekatan psikologis yang tidak bisa diberikan oleh AI,” tutur Nora.
Setelah mengikuti pelatihan, para guru mengaku lebih percaya diri menggunakan teknologi baru. Yani berharap kegiatan serupa memiliki tindak lanjut agar ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan di kelas.
“Harapannya ada tindak lanjut. Ilmu yang sudah didapat bisa langsung dipraktikkan di kelas agar siswa juga mengenal teknologi seperti Gemini yang terhubung dengan Google Sheets dan Claude,” pungkasnya.
Nora berharap pemanfaatan AI dapat dilakukan secara konsisten untuk mengurangi beban administrasi. Dengan pekerjaan yang lebih efisien, waktu guru dapat lebih banyak digunakan untuk mendampingi dan membimbing siswa.
Pelatihan tersebut menunjukkan bahwa AI di sekolah dasar bukan sekadar soal mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi alat bantu untuk membuat pekerjaan guru lebih efisien tanpa menghilangkan peran manusia dalam pendidikan. (*)







