Mahasiswa BINUS Tanam 400 Mangrove di Pantai Tirang Semarang

Mahasiswa BINUS dan KPA Mangrove Tanam 400 Mangrove untuk mencegah abrasi pesisir, Minggu (16/8/2026).
Mahasiswa BINUS dan KPA Mangrove Tanam 400 Mangrove untuk mencegah abrasi pesisir, Minggu (16/8/2026).

SEMARANGUPDATE.COM – Abrasi Semarang di kawasan pesisir utara Kota Semarang semakin mengkhawatirkan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa dan aktivis lingkungan melakukan aksi nyata dengan menanam 400 pohon mangrove di kawasan Pesisir Pantai Tirang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (16/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penghijauan pesisir yang diprakarsai organisasi kemahasiswaan Teach for Indonesia Student Community (TFISC) Universitas Bina Nusantara (BINUS) bersama komunitas KPA Mangrove Semarang. Bertajuk Oceanic Vanguard, kegiatan sosial itu melibatkan sedikitnya 200 peserta yang berasal dari internal BINUS maupun masyarakat umum.

Bacaan Lainnya

Darurat Abrasi, Garis Pantai Bergeser hingga 3 Meter Per Tahun

Project Manager Oceanic Vanguard, Gabriella Putri Wijaya, mengatakan kegiatan penanaman mangrove dilakukan sebagai respons terhadap kondisi lingkungan pesisir Semarang yang dinilai sudah darurat.

Menurut Gabriella, hasil pantauan di lapangan menunjukkan tingkat erosi pantai di kawasan Pantai Tirang telah berada pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Karena itu, kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan aksi langsung sekaligus melibatkan anak-anak muda dalam upaya menjaga lingkungan.

“Jadi kita mau ngasih aksi nyata, kita mau ngasih kesempatan buat para anak-anak muda Indonesia, khususnya Semarang, buat mencegah langsung abrasi, ngasih dampak langsung ke lingkungan khususnya di abrasi dengan salah satu caranya kita mendukung program pemerintah juga yaitu penanaman mangrove. Di hari ini kita akhirnya berhasil menanam nanti 400 mangrove,” kata Gabriella Putri Wijaya.

Ia menjelaskan, kondisi garis pantai di kawasan tersebut terus mengalami perubahan akibat terkikis gelombang laut. Pergeseran garis pantai itu disebut menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

“Karena kita baru tahu juga kalau ternyata di Semarang itu abrasinya parah banget. Di Pantai Tirang ini sendiri kalau kita lihat garis pantainya kan udah naik banget ya. Nah, terus juga dari Pantai Tirang dalam 3 tahun terakhir aja itu udah per tahunnya naik terus garis pantainya. Makanya kita harus beneran langsung terjun,” ungkapnya.

Gabriella menambahkan, kegiatan TFISC BINUS tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan pesisir. Organisasi kemahasiswaan tersebut juga menjalankan berbagai kegiatan sosial melalui sejumlah divisi, di antaranya kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.

“Kita ada divisi di health sendiri di kesehatan, di education, serta di environment juga. Sebelumnya kita pernah bikin acara donor darah, program Teach for Sumba, hingga aksi Care for Paws untuk mengurus anjing-anjing liar,” bebernya.

Mangrove sebagai Benteng Alami Pesisir

Dari sisi komunitas lingkungan, KPA Mangrove Semarang menyoroti semakin berkurangnya benteng alami yang selama ini berfungsi melindungi wilayah pesisir dari terjangan gelombang laut.

Wakil Ketua KPA Mangrove Semarang, Imam Nur, mengatakan kondisi abrasi di Pantai Tirang semakin parah setiap tahun, terutama ketika angin Muson Barat atau yang biasa disebut baratan melanda kawasan tersebut.

Ia menyebut jajaran pohon mangrove yang sebelumnya berada di kawasan tersebut telah hilang akibat hantaman gelombang. Kondisi itu terlihat dari perubahan kawasan sejak KPA Mangrove Semarang berada di lokasi tersebut pada 2019.

“Kondisi abrasi kalau sini parah ya, Mas. Itu setiap tahun itu kan ada angin muson barat ya, atau yang sering disebut baratan itu ya. Nah, itu biasanya parah sini tuh. Ini dulu itu ada dua baris pohon mangrove, semenjak kita di sini tahun 2019 itu ada barisan pohon mangrove memanjang di depan sini, itu sudah hilang,” katanya.

Imam menjelaskan keberadaan vegetasi mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami untuk menahan abrasi. Jika perlindungan alami tersebut terus berkurang, dampaknya dapat meluas dari kawasan tambak hingga permukiman warga.

“Makanya kan pentingnya pohon mangrove menahan abrasi itu ya begitu. Soalnya kan kalau seandainya tidak ada benteng alam, ya lama-lama tambak habis, habis tambak apalagi ada perumahan kan di situ,” ungkapnya.

Penanaman mangrove di Pantai Tirang Semarang tersebut kemudian mendapat apresiasi dari KPA Mangrove Semarang. Imam menyampaikan terima kasih atas keterlibatan ratusan mahasiswa BINUS dalam kegiatan konservasi tersebut.

Namun, ia berharap kegiatan penanaman tidak berhenti setelah bibit ditanam. Perawatan dan pemantauan secara berkala dinilai penting agar tanaman yang telah ditanam dapat terus dipantau perkembangannya.

“Kita ucapkan terima kasih sekali atas kegiatan ini. Harapannya ke depan itu ya tidak kapok, dalam arti kan ke depan bisa tanam lagi. Kalau bisa itu juga ditengok tanamannya. Jangan biasanya kebanyakan menanam terus ditinggal begitu saja. Kalau ada main ke sini sambil nengok tanamannya, lihat progresnya seperti apa,” ucap Imam.

Mahasiswa BINUS Soroti Ancaman Banjir Rob

Kondisi pesisir Semarang juga menjadi perhatian para mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya Jeslyn Angelica, mahasiswa BINUS yang ikut langsung melakukan penanaman di kawasan berlumpur Pantai Tirang.

Jeslyn mengaku prihatin terhadap kondisi banjir pasang air laut atau rob yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Semarang. Ia menilai kenaikan air laut menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dekat pesisir.

“Karena saya melihat laut di Semarang itu kan apalagi udah banjir ya, apalagi kalau kita lihat tuh apalagi daerah yang Mangkang itu mereka rata-rata banjir karena ada laut yang naik gitu. Jadi saya sangat prihatin melihatnya, jadi saya ingin berpartisipasi dalam berkontribusi dalam penanaman mangrove ini agar mengurangi abrasi dari pantai di sini,” ungkap Jeslyn.

Menurut Jeslyn, kondisi banjir di Semarang semakin terasa ketika curah hujan tinggi. Ia menyebut kawasan Semarang Barat menjadi salah satu wilayah yang menurut pengamatannya kerap terdampak limpasan air laut.

Jeslyn yang sebelumnya juga pernah mengikuti kegiatan serupa mengatakan kondisi banjir di wilayah tersebut membuatnya prihatin, terlebih dirinya tinggal di kawasan yang turut berdekatan dengan wilayah terdampak.

“Untuk kondisi riilnya itu Semarang menurut saya lebih banyak banjirnya. Karena apalagi kalau curah hujannya lagi tinggi, nah itu laut meluap sekali apalagi daerah Semarang Barat terutama. Itu rata-rata baunya airnya air laut. Kegiatan hari ini harapannya bisa mengurangi banjir. Terus juga saya kan tinggal di situ, jadi saya agak prihatin untuk orang-orang yang tinggalnya lebih dekat dengan laut,” tambahnya.

Melalui kegiatan tersebut, penanaman 400 mangrove dilakukan sebagai aksi nyata mahasiswa BINUS bersama KPA Mangrove Semarang dalam merespons kondisi abrasi di kawasan Pantai Tirang. Kegiatan Oceanic Vanguard juga melibatkan masyarakat umum dan menjadi bagian dari perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan pesisir Semarang.

Pos terkait