SEMARANGUPDATE.COM – Kondisi lingkungan yang semakin kering selama musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah sekitar jalur kereta api. Material seperti rumput, jerami, sekam, hingga sampah menjadi lebih mudah terbakar dan berpotensi mengganggu keselamatan perjalanan kereta api.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang meningkatkan pengawasan terhadap kondisi jalur serta lingkungan di sekitar wilayah operasional. KAI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, petugas pemadam kebakaran, dan unsur kewilayahan untuk mengantisipasi potensi kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan setelah tercatat lima kejadian kebakaran atau titik api di sekitar wilayah operasional Daop 4 Semarang selama September 2026 hingga 16 September 2026. Lokasinya meliputi petak Kapuan–Cepu, area belakang Griya Karya Tawang, KM 148+900 Desa Slerok, Tegal, KM 48+700/800 petak Karangjati–Sedadi, serta KM 105 petak Comal–Petarukan.
Peristiwa pertama terjadi pada Minggu (6/9) di sekitar KM 83+500 hingga KM 84+100 petak Kapuan–Cepu. Api membakar lahan tebu yang berada di sekitar jalur kereta api. Petugas KAI berkoordinasi dengan unsur kewilayahan dan Damkar Kota Cepu untuk memadamkan api. Kebakaran tersebut tidak mengganggu perjalanan kereta api.
Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di belakang Griya Karya Tawang, sekitar Stasiun Semarang Tawang. Petugas KAI bersama pemadam kebakaran langsung melakukan penanganan hingga api berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa, tetapi tiga kendaraan terdampak kobaran api.
Kebakaran lahan kering kembali terjadi pada Selasa (8/9) di sekitar KM 148+900, Desa Slerok, Tegal. Api diketahui muncul dari lahan dan rumput kering sebelum merambat ke area sekitarnya. Petugas KAI bersama warga melakukan penanganan awal hingga petugas pemadam kebakaran tiba dan api berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Berikutnya, titik api terdeteksi pada Selasa (15/9) sekitar pukul 17.42 WIB di KM 48+700/800 petak Karangjati–Sedadi jalur hilir. Berdasarkan informasi awal, titik api diduga berasal dari aktivitas pembakaran sisa hasil panen di sekitar lokasi.
Setelah menerima laporan, KAI berkoordinasi dengan PPKA Stasiun Sedadi dan PPKA Stasiun Kedungjati. Petugas Pemeriksa Jalan (PPJ) kemudian melakukan penanganan dan berhasil memadamkan api pada pukul 17.49 WIB. Tiga menit kemudian, lokasi dinyatakan aman. Peristiwa tersebut tidak berdampak terhadap perjalanan kereta api.
Pada Rabu (16/9) sekitar pukul 08.22 WIB, petugas KAI kembali menerima informasi mengenai titik api di dekat jalur hilir KM 105 petak Comal–Petarukan. Informasi tersebut diketahui Deputy Daop 4 Semarang ketika melakukan pemeriksaan lintas Semarang–Tegal.
KAI kemudian berkoordinasi dengan PPKA Stasiun Comal, Pusat Pengendalian Operasi (Pta), dan dinas terkait untuk melakukan penanganan serta memantau kondisi di lokasi. Hingga kini, penyebab munculnya titik api dan kondisi perjalanan kereta api masih dalam pemantauan.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif mengatakan kondisi lingkungan yang lebih kering pada musim kemarau harus menjadi perhatian bersama. Sebab, api dapat lebih cepat merambat terutama ketika berada di sekitar material yang mudah terbakar.
“Saat musim kemarau seperti sekarang, rumput, jerami, sekam, dan material kering lainnya lebih mudah terbakar. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran di sekitar jalur KA karena api dapat merambat dan asapnya berpotensi mengurangi jarak pandang masinis. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian bersama untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api,” ujar Luqman.
Ia menambahkan, KAI terus memantau kondisi jalur dan lingkungan di sekitar wilayah operasional. Setiap potensi gangguan juga diupayakan dapat ditangani dengan cepat melalui koordinasi bersama pihak terkait.
“Kami terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan unsur kewilayahan maupun pemadam kebakaran apabila terdapat potensi kebakaran di sekitar jalur KA. Kami juga mengajak masyarakat untuk segera melaporkan apabila melihat titik api atau kepulan asap yang berpotensi mendekati jalur, sehingga dapat ditangani sedini mungkin,” tambah Luqman.
KAI Daop 4 Semarang mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah, jerami, sekam, rumput kering, maupun sisa hasil pertanian di sekitar jalur kereta api. Selain dapat meluas, kebakaran dan asap yang berada di sekitar jalur juga berpotensi mengganggu lingkungan serta keselamatan perjalanan kereta api.
Masyarakat diimbau ikut menjaga keamanan kawasan sekitar jalur KA, khususnya selama musim kemarau. Pencegahan pembakaran dan pelaporan dini terhadap titik api diharapkan dapat membantu petugas melakukan penanganan dengan cepat sekaligus menjaga keselamatan dan kelancaran perjalanan kereta api. (*)







