SEMARANGUPDATE.COM – Ketua Umum Pawon Semar, Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr. Hendardji Soepandji, menilai perkembangan Kota Semarang berlangsung sangat positif dengan tetap mempertahankan kekayaan budaya serta semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakatnya.
Menurut Hendardji, kemajuan tersebut semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir, seiring jalannya kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng yang dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya.
Pandangan itu disampaikannya saat menghadiri Gelar Seni dan Budaya Kota Semarang bertajuk Harmoni Semarang yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (21/6).
Ia menilai Semarang kini menjadi salah satu daerah yang berhasil mengintegrasikan pertumbuhan pembangunan dengan pelestarian tradisi budaya serta kehidupan masyarakat yang harmonis.
Menurut Hendardji, keberhasilan tersebut tercermin dari berkembangnya aktivitas seni dan budaya, sekaligus terjaganya kerukunan warga di tengah keberagaman yang ada.
“Kami melihat kota Semarang terus berkembang menjadi kota yang maju, namun tetap menjaga identitas budayanya. Kehidupan seni dan budaya tumbuh, masyarakat hidup rukun dalam keberagaman, dan ini menjadi kekuatan besar bagi kota,” tegas Hendardji.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Semarang yang dinilai konsisten membuka ruang bagi seniman, budayawan, dan berbagai komunitas untuk terus berkarya dan berkembang.
Berbagai agenda budaya yang rutin diselenggarakan pemerintah, lanjutnya, turut memperkuat rasa bangga masyarakat terhadap Kota Semarang sekaligus menjaga persatuan di tengah keberagaman yang ada.
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan bahwa identitas Kota Semarang terbentuk dari pertemuan beragam budaya yang hingga kini menjadi modal penting dalam pembangunan daerah.
Menurut Agustina, Semarang tumbuh sebagai kota pelabuhan yang sejak lama menjadi titik temu budaya Jawa, Tionghoa, Arab, serta berbagai budaya Nusantara lainnya yang hidup berdampingan secara harmonis.
Melalui pertunjukan Harmoni Semarang, masyarakat diajak menyelami perjalanan sejarah kota, mulai dari kehidupan masyarakat yang penuh semangat, kisah perjuangan dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga tradisi Dugderan yang menjadi simbol kebersamaan lintas agama dan budaya.
Agustina menuturkan bahwa tradisi Dugderan menjadi bukti bagaimana masyarakat Semarang mampu mengubah keberagaman menjadi kekuatan pemersatu.
Berbeda dengan masa lalu ketika masyarakat dipisahkan berdasarkan kelompok etnis dan permukiman, kini warga Semarang hidup berdampingan, saling bekerja sama, dan membangun kota bersama.
“Semarang menunjukkan bahwa kemajuan kota tidak harus menghilangkan budaya. Justru budaya menjadi fondasi yang memperkuat persatuan, menghidupkan kreativitas, sekaligus menjadi daya tarik bagi pembangunan dan pariwisata,” katanya.
Hendardji menambahkan, semangat inilah yang membuat Kota Semarang semakin dikenal sebagai kota yang tidak hanya maju dari sisi ekonomi dan pembangunan, tetapi juga kuat dalam menjaga kerukunan sosial dan warisan budayanya.
“Budaya adalah perekat masyarakat. Ketika budaya tumbuh dan dihargai, maka persatuan, kebersamaan, dan kemajuan kota akan tumbuh bersama. Semarang telah menunjukkan hal itu, dan kami berharap capaian ini terus berlanjut,” pungkas Hendardji. (*)







