Grebeg Subali Krapyak Hadirkan Gemblong Bakar sebagai Simbol Eratnya Persaudaraan Warga

Grebeg Subali Krapyak Hadirkan Gemblong Bakar sebagai Simbol Eratnya Persaudaraan Warga
Grebeg Subali Krapyak Hadirkan Gemblong Bakar sebagai Simbol Eratnya Persaudaraan Warga

SEMARANGUPDATE.COM – Tradisi Grebeg Subali kembali digelar di Kelurahan Krapyak, Kota Semarang, Minggu (27/9/2026) petang. Dalam kirab budaya tersebut, lima gunungan diarak warga, terdiri atas tiga gunungan hasil bumi dan dua gunungan gemblong bakar atau jadah.

Gunungan hasil bumi menggambarkan harapan terhadap kesejahteraan masyarakat Krapyak. Sementara itu, gemblong bakar menjadi simbol eratnya hubungan antarwarga di tengah perubahan zaman.

Bacaan Lainnya

Kirab diawali kemunculan tokoh Subali yang digambarkan sebagai sosok kera berwarna merah. Subali kemudian memimpin empat perempuan yang membawa kain batik yang telah dijamas atau menjalani prosesi pembersihan.

Rombongan selanjutnya berjalan mengarak seluruh gunungan, mulai dari hasil bumi hingga gemblong bakar. Warga pun ikut memeriahkan prosesi tersebut sampai pada acara perebutan gunungan.

Sesepuh RW 4 Kelurahan Krapyak, Tri Subekso, mengatakan keberadaan dua gunungan gemblong bakar menjadi salah satu hal yang berbeda dalam pelaksanaan Grebeg Subali tahun ini.

“Yang unik di tahun ini adalah adanya dua Gunungan Gemblong Bakar yang punya simbol khusus dari acara ini,” kata Tri.

Ia menjelaskan, pemilihan gemblong memiliki makna tersendiri. Makanan yang dibuat dari ketan tersebut mempunyai tekstur lengket yang kemudian dimaknai sebagai gambaran eratnya hubungan antarwarga Krapyak.

“Kenapa gemblong? Gemblong itu jadah, terbuat dari ketan. Ketan itu lengket. Ini melambangkan bahwa kita ingin tetap lengket sebagai bagian dari keluarga besar Kelurahan Krapyak,” jelasnya.

Menurut Tri, filosofi gemblong tidak hanya berkaitan dengan teksturnya yang lengket. Proses pembakaran juga mengandung pesan tentang berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menjalani kehidupan.

Pembakaran pada gemblong dianalogikan sebagai berbagai ujian yang harus dilewati masyarakat. Tantangan tersebut diharapkan dapat membuat warga semakin matang sekaligus memperkuat hubungan persaudaraan.

“Tantangannya zaman kita ibaratkan pembakaran. Ini yang membuat warga lebih matang dan lebih mengeratkan persaudaraan sebagai warga Krapyak,” ujarnya.

Grebeg Subali pun tidak sekadar menjadi kegiatan budaya, tetapi juga menjadi sarana bagi warga untuk menghubungkan sejarah kampung dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Tokoh Subali tetap menjadi bagian utama dalam konsep kirab karena berkaitan dengan sejarah dan penamaan sejumlah wilayah di Krapyak.

“Ini sebagai bagian dari kesadaran sejarah kami akan wilayah kami yang bernama Jalan Subali, baik Subali Raya maupun yang lainnya,” kata Tri.

Selain Subali, sejumlah nama wilayah di Krapyak juga mengambil nama tokoh wanara dalam cerita pewayangan, seperti Hanoman, Sugriwa dan Hanilo. Ada pula nama wilayah yang berkaitan dengan pawukon atau tempat persinggahan, di antaranya Mandasia, Watugunung, Kurantil, Julungwangi dan Galungan.

Menurut Tri, keberadaan nama-nama tersebut menjadi bagian dari identitas kawasan yang kembali diangkat melalui pelaksanaan Grebeg Subali.

“Karena itu, Grebeg Subali menjadi ruang bagi warga untuk kembali mendalami asal-usul penamaan wilayah sekaligus menyadari keberadaan mereka sebagai satu keluarga besar di Kelurahan Krapyak,” tambahnya.

Ia menambahkan, Kampung Subali yang berada di RT 2/RW 4 termasuk salah satu kawasan perkampungan yang telah lama berdiri di Krapyak. Kawasan tersebut disebut telah dihuni sejak sekitar 1800-an atau masa Perang Diponegoro.

Sejumlah bangunan lama masih dapat ditemukan hingga kini. Jejak permukiman tersebut juga terlihat pada peta tahun 1908, ketika sejumlah rumah telah berdiri di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Siliwangi.

Jalur tersebut pada masa lalu merupakan bagian dari Jalan Daendels. Jejak itu menjadi gambaran perjalanan panjang Krapyak sebagai salah satu kawasan kampung kota di Semarang.

“Sejarahnya cukup panjang sebagai satu kampung. Kita belajar bagaimana tetap mempertahankan kita sebagai bagian dari kampung kota yang ada di Semarang untuk menghadapi segala tantangan yang ada,” pungkas Tri.

Grebeg Subali sendiri telah berlangsung sejak 2012 ketika pertama kali digagas di Kampung Subali. Tradisi tersebut kembali dilaksanakan pada 2016 dan 2019, sebelum berbagai kegiatan masyarakat terhenti akibat pandemi Covid-19.

Pada 2026, Grebeg Subali kembali hadir melalui rangkaian kegiatan selama tiga hari. Selain kirab budaya, kegiatan juga diisi workshop dan pertunjukan wayang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan keberlangsungan tradisi budaya sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat.

“Pastinya Disbudpar ingin kebudayaan itu tumbuh tidak hanya di tingkat pemerintah kota, tetapi masyarakat,” jelasnya.

Perempuan yang akrab disapa Iin tersebut berharap Grebeg Subali dapat kembali diselenggarakan pada 2027 dengan rangkaian kegiatan yang lebih beragam.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat dari berbagai kelompok usia, khususnya generasi muda, penting untuk menjaga agar tradisi tetap hidup dan tidak hanya menjadi agenda tahunan.

“Nilai-nilai tradisi yang dilestarikan harapannya tidak hanya dari kami, tetapi masyarakatnya ikut bergerak, terutama generasi muda. Kalau kita lihat bersama, mulai dari generasi muda sampai senior pun ada semua,” pungkasnya. (*)

Pos terkait