SEMARANGUPDATE.COM — Perjalanan pendidikan Nasikhin dan Baiti Al Ami sebagai pasangan suami istri berujung pada momen istimewa. Keduanya menjalani wisuda bersama di UIN Walisongo Semarang, Sabtu (22/8/2026), setelah menuntaskan pendidikan masing-masing.
Wisuda tersebut semakin bermakna karena keduanya mencatatkan prestasi akademik. Nasikhin dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Doktor (S-3) sekaligus Peneliti Disertasi Terbaik. Sementara Baiti berhasil menyelesaikan Magister (S-2) Pendidikan Agama Islam dalam waktu tiga semester.
Bagi Nasikhin, pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan akademik yang konsisten. Ia menempuh pendidikan S-1 pada 2021, melanjutkan S-2 pada 2022, kemudian menyelesaikan pendidikan doktoral pada 2026. Dalam setiap jenjang tersebut, ia berhasil mempertahankan predikat sebagai lulusan terbaik UIN Walisongo.
Di balik capaian akademik tersebut, terdapat perjalanan hidup yang tidak mudah. Sebelum mencapai posisi saat ini, Nasikhin dan Baiti pernah menjalani rumah tangga dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.
Pada masa awal pernikahan, keduanya bahkan pernah mengonsumsi beras berkutu yang merupakan sisa dari hadiah acara kondangan. Mereka juga sempat beberapa kali berpindah tempat tinggal demi bertahan hidup.
Saat itu, penghasilan mereka sebagai guru honorer hanya sekitar Rp700 ribu per bulan. Meski berada dalam keterbatasan, kondisi tersebut justru menjadi dorongan bagi keduanya untuk terus memperjuangkan pendidikan.
“Kami memegang prinsip bahwa menikah dan menuntut ilmu adalah ibadah. Kami yakin Allah memberikan kemudahan bagi orang yang sabar,” ungkap Nasikhin.
Prinsip tersebut menjadi landasan Nasikhin dan Baiti dalam menjalani kehidupan keluarga sekaligus mengejar pendidikan tinggi.
Baiti juga menghadapi tantangan tersendiri ketika menyelesaikan studi magister Pendidikan Agama Islam. Di tengah aktivitas perkuliahan, ia harus membagi waktu dengan mengasuh putri mereka yang masih berada dalam masa golden age.
Namun, tanggung jawab sebagai ibu tidak membuat Baiti menghentikan pendidikannya. Dukungan dari Nasikhin serta lingkungan kampus yang dinilainya inklusif membantu dirinya menjalankan dua peran sekaligus sebagai ibu dan mahasiswa.
Pengalaman dalam mengasuh anak kemudian menjadi bagian dari penelitian tesisnya. Ia mengangkat pengalaman tersebut sebagai topik penelitian hingga mampu menyelesaikan studi S-2 dalam tiga semester dengan predikat memuaskan.
Perjalanan Baiti menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan dapat menjadi faktor penting bagi mahasiswa yang harus menjalankan peran ganda.
Sementara itu, Nasikhin menjalani pendidikan doktoral dengan aktif melakukan penelitian dan menghasilkan publikasi ilmiah.
Selama menempuh S-3, ia tercatat menulis 12 naskah jurnal bereputasi yang terindeks Scopus. Ia juga mengikuti penelitian kolaboratif berskala internasional di kawasan Asia Tenggara.
Prestasi tersebut turut mengantarkannya meraih predikat Wisudawan Terbaik Program Doktor sekaligus Peneliti Disertasi Terbaik.
Bagi Nasikhin dan Baiti, keberhasilan meraih gelar akademik bukan semata-mata pencapaian pribadi. Pendidikan yang mereka tempuh dipandang sebagai bagian dari upaya untuk terus memberikan manfaat melalui ilmu yang dimiliki.
Prosesi wisuda bersama di UIN Walisongo menjadi gambaran perjalanan panjang keduanya. Dari kehidupan rumah tangga dengan keterbatasan ekonomi, keduanya akhirnya dapat berdiri bersama di panggung akademik dengan membawa pencapaian masing-masing.
Bagi pasangan tersebut, kelulusan bukan menjadi titik akhir. Gelar yang diraih justru menjadi pijakan baru untuk memperluas pengabdian dan memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat. (*)







