SEMARANGUPDATE.COM – Deretan pohon tabebuya yang tengah bermekaran membuat suasana Jalan Madukoro, Kota Semarang, semakin menarik pada sore hari. Kawasan pedestrian di sepanjang Banjir Kanal Barat itu mulai ramai dimanfaatkan warga untuk bersantai sembari menikmati pemandangan bunga dan suasana senja.
Pantauan pada Selasa sore (18/8/2026) memperlihatkan sejumlah warga berdatangan ke kawasan tersebut. Kendaraan roda dua tampak terparkir di sekitar pedestrian, sementara pemiliknya duduk santai menghadap Banjir Kanal Barat.
Keberadaan pedagang kopi keliling turut menambah suasana. Warga dapat membeli minuman sambil menikmati udara sore dan pemandangan tabebuya yang bermekaran.
Tabebuya di kawasan tersebut memiliki sejumlah warna, seperti kuning, merah muda, dan putih. Saat bunganya bermunculan, tajuk pohon membuat sisi Jalan Madukoro tampak lebih berwarna.
Pemandangan itu bahkan membuat sejumlah warga menganggap suasananya menyerupai Jepang. Bentuk bunga tabebuya memang sekilas mirip sakura, meski keduanya merupakan jenis tanaman yang berbeda.
Dita (30), warga Semarang Selatan, mengatakan dirinya tertarik datang karena suasana Jalan Madukoro terasa sejuk dan nyaman untuk menghabiskan waktu sore.
“Kalau sore di sini adem. Aku enggak menyangka dari jauh bunganya seperti sakura. Ternyata tabebuya. Bagus,” kata Dita saat ditemui di lokasi.
Menurut Dita, warna bunga yang menghiasi pedestrian cukup beragam. Ia juga melihat sejumlah pohon dengan bunga berwarna merah muda dan putih.
Ia berharap pemerintah dapat menambah fasilitas tempat duduk agar warga lebih nyaman menikmati pemandangan.
“Dari deretan yang ke sana juga banyak yang pink dan putih. Mungkin yang kurang hanya kursi,” ujarnya.
Dita juga mengabadikan suasana Jalan Madukoro dengan kamera ponselnya. Menurutnya, bunga tabebuya memberikan kesan berbeda pada kawasan perkotaan.
“Bagus untuk memperindah kota. Tadi saya juga sempat foto-foto. Kalau lebih bersih lagi mungkin suasananya bisa seperti di Jepang,” katanya.
Hal serupa dirasakan Fian (23), yang memilih kawasan tersebut sebagai tempat berkumpul bersama teman. Ia menilai suasana Jalan Madukoro sedang mendukung untuk bersantai.
“Karena view-nya bagus, kebetulan adem. Bunganya juga sedang bagus,” kata Fian.
Ia bahkan membuat video bersama teman-temannya dengan latar deretan tabebuya. Menurutnya, bunga yang sedang bermekaran membuat tampilan kawasan semakin menarik.
“View-nya bagus. Tabebuyanya yang bikin bagus. Seperti ada Jepangnya,” tuturnya.
Bagi Fian, keberadaan tabebuya turut mengubah fungsi Jalan Madukoro. Selain menjadi jalur kendaraan, kawasan itu kini mulai menjadi pilihan warga untuk menghabiskan waktu sore.
“Ada bunga seperti ini jadi lebih bagus. Cocok juga buat nyenja,” ujarnya.
Keindahan tabebuya di Jalan Madukoro bukan berasal dari penanaman baru. Pemerintah Kota Semarang telah menanam pohon tersebut sejak beberapa tahun lalu.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Murni Ediati, mengatakan penanaman tabebuya di sepanjang Jalan Madukoro dilakukan sekitar 2022-2023.
“Tabebuya mulai kami tanam di sepanjang Madukoro sekitar 2022-2023. Sekarang pohonnya sudah besar,” kata Pipie, sapaan akrabnya, Selasa,(18/8).
Penanaman pohon tersebut merupakan bagian dari upaya penghijauan Kota Semarang yang turut melibatkan sejumlah perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Menurut Pipie, sejumlah perusahaan memberikan dukungan dengan menyumbangkan berbagai jenis tanaman untuk menambah ruang terbuka hijau di Kota Semarang.
“Banyak yang mendukung melalui CSR. Ada Pertamina, Bank Mandiri, perusahaan perbankan, dan perusahaan besar lainnya,” ujarnya.
Program penghijauan tersebut juga mencakup penanaman sekitar 9.000 pohon dengan berbagai jenis. Selain tabebuya, terdapat pohon pule, asam, trembesi, hingga tanaman penghias kota.
Salah satu dukungan terbesar berasal dari Djarum yang menyumbangkan sekitar 2.000 pohon trembesi.
“Waktu itu ada program penanaman 9.000 pohon. Jenisnya beragam, ada tabebuya, pule, pohon asam, trembesi, dan tanaman hias lainnya,” jelas Murni.
Pemkot Semarang juga tengah menyiapkan program penghijauan berikutnya melalui rencana penanaman 10.000 pohon. Program tersebut akan disesuaikan dengan arahan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
Penanaman nantinya tidak hanya berorientasi pada jumlah pohon, tetapi juga memperhatikan karakter dan kondisi masing-masing wilayah.
Pipie menyebut tabebuya saat ini telah ditanam di berbagai lokasi, antara lain Kaligarang, Jalan Pemuda, Banjir Kanal Barat, Pamularsih, dan Ngaliyan.
Namun, populasi tabebuya paling banyak berada di kawasan Jalan Madukoro dan Basudewo, khususnya di sisi kiri dan kanan Banjir Kanal Barat.
“Tabebuya kami sebar. Ada di Kaligarang, Pemuda, Banjir Kanal Barat, Pamularsih, dan Ngaliyan. Yang paling banyak memang di Madukoro dan Basudewo,” katanya.
Ke depan, Pemkot Semarang berencana menerapkan konsep penghijauan tematik. Setiap kawasan akan memiliki karakter tanaman yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan wilayah.
Jalan Gajah Mada, Jalan Pemuda, dan Jalan Madukoro menjadi beberapa kawasan yang dapat dikembangkan dengan jenis tanaman tertentu sebagai identitas masing-masing.
“Ke depan arahnya setiap wilayah bisa memiliki tanaman tematik. Jenis tanaman besar, sedang, dan kecil akan disesuaikan dengan karakter masing-masing kawasan,” jelas Murni.
Konsep tersebut juga mempertimbangkan karakter lingkungan. Wilayah Semarang Utara yang memiliki risiko rob, misalnya, membutuhkan tanaman yang mampu beradaptasi dengan kondisi air asin.
Ketapang menjadi salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan karena dinilai lebih tahan terhadap kondisi tersebut.
“Kalau wilayah yang terkena rob, tentu tanaman harus disesuaikan. Misalnya ketapang yang lebih tahan terhadap air asin. Jadi konsep penanamannya akan berbeda di setiap wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, tabebuya disebut relatif mudah dalam perawatannya. Tanaman tersebut justru lebih optimal berbunga ketika memperoleh paparan panas yang cukup.
“Tabebuya termasuk mudah dirawat. Semakin panas justru semakin tumbuh dan berbunga. Kalau kurang panas, malah tidak banyak berbunga,” kata dia. (*)







