SEMARANGUPDATE.COM — Program beasiswa santri dan pengasuh pondok pesantren yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 2026 menjadi kesempatan bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus mengejar cita-cita.
Program tersebut tidak hanya memberikan dukungan pembiayaan kuliah, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) santri melalui pendidikan di perguruan tinggi.
Salah satu penerimanya adalah Aqila Keisha Haulina, santri asal Kudus yang kini berkesempatan menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Aqila memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Ia sebelumnya bersekolah di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, kemudian melanjutkan pendidikan di MA Mu’allimat NU Kudus.
Keinginannya untuk melanjutkan kuliah sempat terkendala persoalan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Namun, peluang tersebut terbuka setelah ia mengikuti seleksi program beasiswa santri Pemprov Jateng.
Seleksi yang dijalani Aqila meliputi administrasi, kemampuan membaca kitab, hafalan Al-Qur’an, wawasan kebangsaan, serta wawasan pesantren. Setelah melewati seluruh tahapan tersebut, ia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.
Bagi Aqila, beasiswa tersebut tidak hanya membantunya mewujudkan cita-cita, tetapi juga mengurangi beban orang tua dalam membiayai pendidikan.
Sejak kecil, Aqila bercita-cita menjadi tenaga medis. Ia berharap kelak dapat menjadi dokter gigi yang menjunjung tinggi integritas, nilai agama, serta kemanusiaan.
“Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, yang sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama yang sudah saya bawa sebelumnya dengan tetap menerapkan sisi kemanusiaan,” katanya saat acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026 serta Penandatanganan Naskah Kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Ma’had Aly di Gedung Merah Putih Semarang, Rabu, 12 Agustus 2026.
Aqila mengapresiasi program beasiswa yang diberikan Pemprov Jateng. Ia berharap program tersebut dapat terus dikembangkan, baik dari sisi jumlah penerima maupun pilihan jurusan yang tersedia.
Sebagai bentuk komitmen setelah menerima beasiswa, Aqila berencana mengabdikan ilmu yang diperolehnya di Pondok Pesantren El Fat El Islami Kudus.
Ia juga mengajak para santri di seluruh Indonesia untuk tidak takut memiliki cita-cita tinggi dan mengejar pendidikan sesuai bidang yang diminati.
Kesempatan serupa dirasakan Akhmad Khafidz Al Mubarok. Santri penerima beasiswa lainnya itu mengaku bahagia karena dapat melanjutkan kuliah S1 bidang saintek di Dalian University of Technology, China.
Khafidz memilih jurusan computer science and technology karena telah memiliki ketertarikan pada bidang tersebut sejak kecil. Ia juga ingin memperdalam ilmu teknologi di China yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi.
“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Pilih jurusan computer science and technology karena dari kecil sudah minat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi yaitu China,” ujarnya.
Program beasiswa santri dan pengasuh pondok pesantren tersebut merupakan bagian dari program Pesantren Obah yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Program ini mencakup beasiswa jenjang S1, S2, dan S3 di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).
Pada 2026, total hibah beasiswa yang disalurkan mencapai Rp8,34 miliar dengan 73 penerima. Jumlah tersebut terdiri atas 15 penerima beasiswa luar negeri, 27 santri penerima beasiswa dalam negeri, serta 31 pengasuh yang mendapatkan beasiswa dalam negeri.
Untuk penerima beasiswa luar negeri, rinciannya meliputi tiga santri bidang saintek ke China, delapan santri ke Mesir yang terdiri atas satu orang bidang kedokteran Al-Azhar dan tujuh orang bidang keislaman Al-Azhar, tiga santri ke Al-Ahqof Yaman, serta satu santri yang mengikuti program double degree.
Program tersebut dirancang agar santri memiliki kompetensi yang lebih luas. Pendidikan santri tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga membuka kesempatan untuk mendalami berbagai bidang seperti kedokteran, sains, dan teknologi.
Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai yang diperoleh dari pendidikan pesantren.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam kesempatan tersebut juga meminta para santri penerima beasiswa memiliki kepercayaan diri dan mampu menunjukkan keunggulan yang dimiliki.
“Saya ngasih beasiswa ke kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih dari yang bukan santri, santri diajarkan tentang toleransi beragama dan apapun tentang aturan kebenaran, ” kata Luthfi.
Luthfi menegaskan program beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren perlu terus diperkuat. Ia juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah ikut mengambil peran dalam pengembangan program tersebut.
“Program ini harus dijadikan role model, sehingga tidak hanya provinsi yang bergerak, tetapi kabupaten/kota nanti kita ikut sertakan, sehingga pemberdayaan pesantren ini bisa menyeluruh,” katanya.
Pada kegiatan tersebut, Pemprov Jawa Tengah juga menandatangani nota kesepahaman bersama 24 Ma’had Aly atau perguruan tinggi yang berada di lingkungan pondok pesantren. (*)







