SEMARANGUPDATE.COM – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Pemerintah Kota Semarang menggelar Orasi Publik Filateli di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, Minggu (31/5).
Kegiatan bertema “Dalam Cengkraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli 1942-1945” itu menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus upaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya merawat memori kolektif bangsa.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Keduanya menegaskan bahwa arsip sejarah, termasuk filateli, memiliki peran penting dalam menjaga ingatan bangsa agar tidak tergerus zaman.
Dalam sambutannya, Agustina mengungkapkan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang menghadirkan narasumber dari berbagai generasi. Menurutnya, forum tersebut memberikan wawasan sejarah yang berharga, terutama bagi kalangan muda.
“Berdiri di sini bersama para senior adalah upaya untuk menjaga ingatan, untuk menolak lupa,” ujar Agustina, mengutip filsuf Romawi kuno, Cicero, bahwa sejarah adalah saksi zaman, sinar kebenaran, memori kehidupan, dan guru kehidupan.
Agustina mengatakan, surat-surat dan dokumen komunikasi yang berasal dari masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945 menjadi pengingat atas berbagai peristiwa kelam yang pernah dialami bangsa Indonesia.
Melalui koleksi filateli yang dipamerkan, masyarakat dapat melihat bagaimana perangko dan dokumen pos dimanfaatkan sebagai alat pengawasan informasi oleh pemerintah militer Jepang pada masa itu.
“Di era digital, ketika informasi datang begitu cepat dan mudah hilang, arsip menjadi pengingat yang sangat berharga. Filateli mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan ingatannya. Karena itu saya mengajak masyarakat, khususnya anak-anak muda, untuk datang melihat pameran ini, membaca arsip-arsipnya, dan memahami bagaimana perjalanan bangsa ini dibangun dari pengalaman-pengalaman sejarah yang tidak selalu mudah,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Agustina juga menandatangani Sampul Peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang.
Melalui perangko dan sampul peringatan tersebut, ia berharap dapat meninggalkan pesan bagi generasi mendatang tentang perjalanan Kota Semarang yang mampu berkembang melewati berbagai tantangan sejarah hingga menjadi kota yang maju.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam orasi ilmiahnya mengulas secara mendalam berbagai peristiwa yang terjadi selama masa pendudukan Jepang di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa periode 3,5 tahun penjajahan Jepang merupakan salah satu fase paling berat dalam sejarah bangsa, ditandai dengan keberadaan kamp interniran hingga praktik kerja paksa atau romusha.
Menurut Fadli Zon, perangko, dokumen pos, serta catatan sensor Jepang yang tersimpan dalam arsip filateli merupakan bukti sejarah yang merekam dinamika geopolitik Perang Dunia II di kawasan Pasifik.
“Yang fana adalah waktu, tetapi arsip dan memori bangsa akan selalu abadi. Mari kita merawat keabadian sejarah tersebut,” tegas Fadli Zon, yang juga mengajak para akademisi dan generasi muda untuk hadir mengapresiasi pameran ini.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Pemerintah Kota Semarang bersama Kementerian Kebudayaan membagikan suvenir berupa amplop dan kartu pos filateli kepada para tamu undangan.
Pameran filateli tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan berlangsung di Rumah Pohan mulai 31 Mei hingga 7 Juni 2026. (*)






