USM Bekali Mahasiswa Strategi Antisipasi Bencana Demi Ketahanan Infrastruktur

USM Bekali Mahasiswa Strategi Antisipasi Bencana Demi Ketahanan Infrastruktur
USM Bekali Mahasiswa Strategi Antisipasi Bencana Demi Ketahanan Infrastruktur

SEMARANGUPDATE.COM – Program Pascasarjana Universitas Semarang (USM) menyelenggarakan Kuliah Umum dan Orasi Ilmiah bertema Strategi Insinyur Mengantisipasi Bencana dalam Mewujudkan Ketahanan Infrastruktur pada Rabu (29/7/2026).

Kegiatan yang digelar secara hybrid itu menghadirkan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono ST MT IPU ASEAN Eng, sebagai pembicara utama.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 390 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 300 peserta secara daring dan 90 peserta secara luring yang berasal dari kalangan dosen, mahasiswa, serta akademisi.

Ketua Pelaksana, Dr. Anik Kustirini ST MSi, mengatakan kuliah umum ini bertujuan memperluas pemahaman peserta mengenai praktik keinsinyuran sekaligus memperkuat peran strategis insinyur dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional.

“Hari ini diadakan Kuliah Umum dan Orasi Ilmiah pada tanggal 29 Juli 2026 dengan tema Strategi Insinyur Mengantisipasi Bencana dalam Mewujudkan Ketahanan Infrastruktur. Kami menghadirkan Bapak Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono atau yang dikenal sebagai Prof. ATM, beliau adalah Wakil Ketua PII dan Guru Besar Fakultas Teknik UGM. Peserta hari ini berjumlah 300 peserta secara online dan 90 peserta secara offline,” ujar Dr. Anik.

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat membekali peserta dengan pemahaman yang komprehensif mengenai mitigasi bencana, teknologi konstruksi, inovasi material, pengelolaan risiko, serta pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi profesi dalam membangun infrastruktur yang tangguh.

“Harapan kami, peserta memperoleh wawasan mengenai strategi mitigasi bencana, penerapan teknologi konstruksi terkini, inovasi material, pengelolaan risiko, serta pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia industri, dan organisasi profesi dalam mewujudkan ketahanan infrastruktur nasional. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas wawasan akademik, serta memperkuat jejaring para akademisi profesional,” katanya.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Agus Taufik Mulyono menegaskan bahwa praktik keinsinyuran tidak hanya berkaitan dengan konstruksi, tetapi juga seluruh bidang keteknikan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

“Kuliah umum yang diadakan Universitas Semarang ini bertujuan membekali mahasiswa dan para dosen agar memahami persoalan praktik keinsinyuran. Praktik keinsinyuran sering dipahami secara sempit, padahal keinsinyuran adalah kegiatan keteknikan yang menggunakan kepakaran berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya guna secara berkelanjutan dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan, kesejahteraan masyarakat, serta lingkungan,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tenaga ahli di berbagai sektor, seperti konstruksi, energi, pertambangan, pertanian, kehutanan, hingga pendidikan, menjalankan praktik keinsinyuran sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran.

“Karena menjalankan praktik keinsinyuran, setiap tenaga ahli wajib memiliki sertifikat kompetensi kerja sekaligus surat tanda registrasi keinsinyuran. Sertifikat kompetensi kerja menunjukkan kemampuan bekerja, sedangkan sertifikat kompetensi keinsinyuran merupakan bukti pemenuhan kompetensi profesi dan etika. Keduanya harus dimiliki secara bersamaan,” ujarnya.

Prof. Agus menilai salah satu tantangan pembangunan nasional adalah masih rendahnya ketahanan infrastruktur akibat malapraktik keinsinyuran, yakni kesalahan pada tahap perencanaan, perancangan, pelaksanaan, pengawasan, pengoperasian, maupun pemeliharaan infrastruktur.

“Praktik keinsinyuran juga berkaitan dengan bagaimana kita mengantisipasi bencana. Infrastruktur kita banyak yang berumur pendek dan mengalami kerusakan dini, sehingga biaya perbaikannya menjadi mahal. Itu menunjukkan adanya malapraktik keinsinyuran. Kalau tidak ada praktik yang salah, umur bangunan tentu bisa jauh lebih panjang. Karena itu saya mengajak mahasiswa dan dosen agar memahami pentingnya menghindari malapraktik keinsinyuran serta mampu mengantisipasi berbagai risiko, termasuk risiko bencana,” tegasnya.

Ia berharap lulusan Universitas Semarang mampu menjadi insinyur yang profesional, berintegritas, dan menghasilkan infrastruktur yang aman serta berkelanjutan.

“Harapan saya, alumni USM memiliki kesadaran untuk tidak melakukan malapraktik keinsinyuran, sadar akan profesinya sebagai insinyur, serta mampu mengantisipasi berbagai risiko sehingga ketahanan infrastruktur dapat diwujudkan melalui lulusan Universitas Semarang,” pungkasnya.

Salah seorang peserta, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil semester IV, Teong Mei She, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut.

“Acaranya sangat seru karena partisipasinya juga banyak, baik dari dosen maupun mahasiswa. Materinya menjelaskan pentingnya profesi insinyur, termasuk aspek hukum dan berbagai pengetahuan tentang teknik sipil. Kegiatan ini menambah wawasan saya. Harapan saya ke depannya, semoga saya bisa menjadi seperti Prof. Agus,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Program Pascasarjana USM berkomitmen terus meningkatkan kompetensi akademik dan profesional mahasiswa serta mendorong lahirnya lulusan yang memiliki integritas, kompetensi keinsinyuran, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur nasional yang tangguh menghadapi bencana. (*)

Pos terkait