Syarat Unik Menikah di Semarang: Calon Pengantin Wajib Tanam Pohon

Syarat Unik Menikah di Semarang: Calon Pengantin Wajib Tanam Pohon
Syarat Unik Menikah di Semarang: Calon Pengantin Wajib Tanam Pohon

SEMARANGUPDATE.COM – Raut antusiasme terpancar jelas dari wajah Subakir (60) ketika ia menanam sebuah bibit pohon durian di area MTs Tahfidzul Quran, Desa Wonokerto, pada Selasa (14/7/2026).

Bersama calon istrinya, Nuriyah (44), serta disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah, Subakir tergabung dalam sepuluh pasangan yang meramaikan acara peluncuran program bertajuk “Pohon Cinta”.

Bacaan Lainnya

Inisiatif unik ini diluncurkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Semarang, di mana setiap calon pengantin kini diwajibkan untuk membawa dan menyerahkan satu bibit pohon penghijauan sebagai salah satu syarat untuk melangsungkan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA).

Menurut Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Semarang, Ta’yinul Birri Bagus Nugroho, langkah penghijauan ini pada dasarnya mengadopsi kebiasaan luhur para leluhur zaman dahulu yang kerap menanam tunas kelapa setiap kali menggelar perayaan pernikahan.

“Program ini mendukung prioritas Kemenag yakni ecotheology, memadukan ajaran agama dengan pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Tercatat sejak inisiatif ini mulai digulirkan pada tahun lalu, sudah ada sekitar 6.600 bibit tanaman yang sukses ditanam. Mayoritas bibit tersebut merupakan pohon buah bernilai ekonomis, seperti alpukat dan kelengkeng.

Lebih lanjut, pihak Kemenag juga mengimbau para calon pengantin untuk membeli bibit tersebut secara langsung dari petani setempat. Tujuannya tak lain agar program ini turut membantu memutar roda perekonomian masyarakat desa.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah, turut membacakan pesan dari Bupati Ngesti Nugraha. Pesan tersebut menggarisbawahi bahwa upaya merawat kelestarian alam merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

“Gerakan menanam Pohon Cinta adalah upaya mengajarkan nilai agama berupa menjaga ciptaan-Nya. Nilai inilah yang disebut ecotheology,” katanya.

Melalui peluncuran ini, program penanaman bibit tersebut diharapkan tak sekadar menjadi lambang ikatan cinta pasangan suami istri, melainkan juga wujud sumbangsih nyata dalam menjaga keseimbangan alam sekaligus memperkuat ketahanan ekologi dari lingkup keluarga. (*)

Pos terkait