Pemkot Semarang Dorong Sinergi Daerah Atasi Banjir dan Rob di Kawasan Kedungsepur

Pemkot Semarang Dorong Sinergi Daerah Atasi Banjir dan Rob di Kawasan Kedungsepur
Pemkot Semarang Dorong Sinergi Daerah Atasi Banjir dan Rob di Kawasan Kedungsepur

SEMARANGUPDATE.COM – Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin menghadiri Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Pendopo Kabupaten Grobogan, Jumat (29/5), mewakili Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng.

Forum yang diikuti Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, kepala OPD Pemprov Jateng, serta para kepala daerah se-Kedungsepur itu membahas sejumlah isu pembangunan strategis, termasuk persoalan lingkungan yang hingga kini masih menjadi tantangan bagi Kota Semarang, yakni banjir dan rob.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan tersebut, Iswar mengapresiasi paparan Sekda Jateng yang kembali menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, meski Kota Semarang memiliki kapasitas fiskal yang relatif baik dibanding sejumlah daerah lain, ancaman lingkungan seperti penurunan muka tanah atau land subsidence di kawasan Pantura tetap membutuhkan penanganan bersama.

“Sebagai kota yang berada di wilayah hilir, Kota Semarang berkomitmen menjadi resilient city atau kota yang berketahanan. Namun, beban yang kami hadapi sangat besar karena dipengaruhi oleh kondisi di wilayah hulu,” ujar Iswar.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama berada di aliran Sungai Babon yang hulunya mencakup wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.

Karakter sungai dengan kemiringan cukup curam menyebabkan aliran air bergerak sangat cepat saat hujan deras turun di daerah atas, sehingga memicu banjir di kawasan hilir seperti Genuk dan Muktiharjo.

Menurut Iswar, pada tahun 2026 terjadi peningkatan frekuensi banjir yang cukup signifikan di wilayah Muktiharjo.

Jika sebelumnya banjir besar hanya muncul satu hingga dua kali dalam setahun, kini tercatat sudah lima kali terjadi genangan besar.

“Ini adalah keprihatinan yang harus kita tangkap bersama sebagai persoalan besar. Anggaran fiskal Kota Semarang tidak akan pernah cukup jika hanya dihabiskan untuk menangani persoalan klasik ini secara sepihak. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antardaerah dalam konsep tata ruang yang jelas,” tegasnya.

Ia menilai langkah teknis seperti pengerukan maupun normalisasi sungai memang penting dilakukan, tetapi upaya tersebut membutuhkan biaya besar apabila tidak dibarengi perbaikan lingkungan dari wilayah hulu.

Menanggapi usulan Bupati Demak dalam forum tersebut, Pemerintah Kota Semarang menyatakan dukungannya terhadap program penghijauan kembali dan penanaman pohon di kawasan atas sebagai langkah mengurangi laju air menuju wilayah hilir.

Selain mendukung pengendalian banjir, upaya tersebut juga dinilai sejalan dengan pengembangan kawasan Kedungsepur menuju destinasi pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism.

“Kami berharap forum ini dapat melahirkan pemikiran jangka panjang agar kita bisa bareng-bareng kembali mengelola dan menjaga lingkungan dengan baik demi kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah,” pungkas Iswar. (*)

Pos terkait