SEMARANGUPDATE.COM – Berbagai kegiatan positif di lingkungan sekolah, mulai dari prestasi siswa, inovasi pembelajaran, hingga kreativitas guru, berpotensi menjadi informasi menarik bagi masyarakat.
Agar dapat menjangkau publik secara lebih luas, sekolah perlu mengemas cerita tersebut melalui konten media sosial yang kreatif, informatif, dan memiliki nilai edukasi.
Upaya meningkatkan kemampuan tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) Guru SMP se-Kota Semarang dengan tema “Penguatan Media Sosial Sekolah sebagai Strategi Pemasaran, Publikasi, dan Membangun Citra Positif Sekolah”.
Kegiatan yang mendapat dukungan AlFazza Nabawi Tour ini diselenggarakan pada Kamis (22/10/2026) di Aula B Gedung Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Forum tersebut menjadi wadah bagi para guru untuk memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan media sosial sebagai sarana komunikasi dan publikasi sekolah.
Pembahasan dalam FGD mencakup strategi perencanaan konten, penerapan kaidah jurnalistik, serta pengembangan kreativitas dalam menyampaikan informasi pendidikan.
Melalui pendekatan tersebut, kegiatan sekolah diharapkan dapat dikemas menjadi publikasi yang menarik sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs. Ali Sofyan, menyampaikan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam memperkenalkan potensi dan pencapaian sekolah kepada publik.
Berbagai program unggulan, prestasi peserta didik, serta inovasi pembelajaran dapat menjadi bahan publikasi yang perlu dikembangkan secara kreatif dan berkesinambungan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketepatan informasi dan etika komunikasi publik. Dengan demikian, setiap konten yang disebarluaskan tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Wartawan senior Otong Fajari yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa pengelolaan media sosial sekolah perlu menerapkan prinsip dasar jurnalistik.
Menurutnya, publikasi sebaiknya tidak hanya menyampaikan bahwa suatu kegiatan telah berlangsung, tetapi juga menjelaskan pihak yang terlibat, manfaat kegiatan, serta alasan informasi tersebut penting diketahui masyarakat.
Penggunaan prinsip 5W+1H, yakni what, who, when, where, why, dan how, dapat membantu pengelola media sosial menyajikan informasi secara utuh dan mudah dipahami.
“Materi yang sederhana dapat menjadi menarik apabila disampaikan melalui sudut pandang, narasi, dan visual yang tepat,” ujar Otong.
Ia turut menyoroti perlunya dukungan dari pihak sekolah terhadap guru yang bertanggung jawab mengelola media sosial. Proses pembuatan konten membutuhkan waktu, tenaga, kreativitas, dan persiapan, sedangkan guru juga harus memenuhi tanggung jawab utamanya dalam kegiatan pembelajaran.
Oleh sebab itu, publikasi digital perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi komunikasi sekolah. Pengelolaannya harus didukung perencanaan serta pembagian tugas yang jelas agar tidak sekadar menjadi pekerjaan tambahan bagi guru.
Pegiat media sosial Mararas Apuwara menekankan bahwa konten berkualitas harus dibuat berdasarkan konsep yang jelas. Proses produksi, khususnya video, perlu dimulai dengan menentukan gagasan, merancang alur cerita, memilih materi, hingga menyusun pesan yang ingin disampaikan kepada audiens.
“Tanpa konsep dan perencanaan yang matang, unggahan media sosial berisiko hanya menjadi dokumentasi biasa yang minim daya tarik dan kurang memberikan dampak terhadap citra sekolah,” ujarnya.
Untuk menjaga konsistensi publikasi, Mararas menyarankan sekolah menyusun kalender konten mingguan. Perencanaan ini dapat membantu menentukan tema, jadwal produksi, serta waktu unggah sehingga pengelolaan media sosial berlangsung lebih teratur.
Ia juga mendorong pengelola media sosial sekolah untuk memproduksi setidaknya satu konten berkualitas setiap hari.
“Dengan perencanaan yang baik, aktivitas pendidikan sehari-hari dapat diolah menjadi materi publikasi yang menarik dan relevan bagi masyarakat,” kata Mararas, yang juga menjabat Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang.
CEO AlFazza Nabawi Tour sekaligus Ketua DPC PPP Kota Semarang, dr. Muhammad Hayyi Wildani, menilai publikasi aktivitas positif sekolah dapat membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa cerita inspiratif dari sekolah tidak hanya berasal dari penghargaan maupun prestasi akademik siswa. Dedikasi guru, perjuangan peserta didik dalam menempuh pendidikan, hingga keterlibatan orang tua juga memiliki nilai yang dapat dibagikan kepada masyarakat.
Berbagai pengalaman tersebut dapat diolah menjadi konten edukatif yang menggambarkan nilai kemanusiaan, ketekunan, serta semangat belajar di lingkungan pendidikan.
Menurut Hayyi, penyampaian informasi yang tepat dapat membantu masyarakat mengenal lebih jauh program, keunggulan, dan kualitas pendidikan yang dimiliki sekolah.
FGD tersebut mempertemukan insan pers, unsur legislatif, praktisi, serta guru dan pengelola media sosial SMP se-Kota Semarang untuk berbagi pengalaman dan memperluas wawasan mengenai publikasi digital.
Melalui kegiatan ini, sekolah diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam menyusun konten yang terencana dan konsisten. Media sosial pun diharapkan berkembang menjadi sarana penyampaian informasi, penyebaran inspirasi, serta penguatan citra positif dunia pendidikan, bukan hanya tempat mengunggah dokumentasi kegiatan.
Setiap aktivitas sekolah pada dasarnya dapat menjadi cerita yang bernilai bagi masyarakat apabila dikembangkan berdasarkan fakta, disampaikan secara kreatif, dan disesuaikan dengan kebutuhan informasi publik. (*)







