SEMARANGUPDATE.COM – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko mengungkapkan bahwa pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam upaya mengurangi kemiskinan ekstrem.
Ia mendorong pemerataan pendidikan inklusif sebagai strategi penting untuk memberikan kesempatan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera.
Heri menegaskan bahwa pendidikan berkualitas adalah kunci memutus rantai kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Pendidikan inklusif adalah investasi jangka panjang yang paling bermakna. Anak-anak dari keluarga pra-sejahtera harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensinya, tanpa terhalang oleh keterbatasan ekonomi,” ungkapnya.
Menurut Heri, meskipun angka kemiskinan ekstrem terus menurun, akses pendidikan yang merata masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Kita tidak boleh hanya memberikan bantuan sosial sementara. Pendidikan harus menjadi pintu keluar permanen dari kemiskinan,” tambahnya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, tingkat kemiskinan pada September 2025 sebesar 9,39 persen.
Meski mengalami penurunan, kelompok pra-sejahtera ini masih rentan terhadap putus sekolah dan kesenjangan akses pendidikan.
Dalam hal ini, Heri menilai bahwa pendidikan inklusif tidak hanya soal membangun sekolah baru.
Melainkan juga memastikan anak-anak dari keluarga pra-sejahtera bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Ia juga mendorong perluasan program beasiswa, revitalisasi sekolah di daerah tertinggal, serta pelatihan guru untuk mendukung siswa dari latar belakang ekonomi lemah.
“Pemerataan pendidikan inklusif sebenarnya memiliki dampak ganda, mengurangi risiko putus sekolah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan,” paparnya.
“Jika dijalankan konsisten, program ini dapat mempercepat penurunan kemiskinan ekstrem yang ditargetkan nol persen pada 2026,” imbuhnya.
Heri berharap, dengan komitmen besama dari pemerintah dan stakeholder, Jawa Tengah bisa mewujudkan pendidikan berkualitas dan pemerataan kesejahteraan.
“Dengan pendidikan yang lebih merata dan inklusif, kita bukan hanya mengurangi angka kemiskinan, tapi juga menciptakan generasi muda Jateng yang mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya. (*)







