SEMARANGUPDATE.COM – Kesempatan santri Jawa Tengah untuk memperdalam ilmu hadis hingga ke Turki berpeluang semakin terbuka. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah menjajaki kerja sama pendidikan dengan Awwamah Center Indonesia (ACI).
Pembahasan mengenai peluang tersebut dilakukan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen ketika menerima Direktur Awwamah Center Indonesia, Syekh Muhyiddin Awwamah, di rumah dinasnya, Semarang, Kamis, 3 September 2026.
Dalam pertemuan itu, program beasiswa menjadi salah satu topik utama. Beasiswa tersebut ditujukan bagi santri asal Jawa Tengah yang ingin memperdalam kajian ilmu hadis di Turki.
Taj Yasin menjelaskan, kunjungan Syekh Muhyiddin sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenalkan lembaga pendidikan yang dikelolanya di Turki. Dalam kesempatan itu, ACI juga menawarkan program beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan pendalaman ilmu hadis.
“Beliau memberikan beasiswa kepada santri-santri yang ingin melanjutkan pendidikan, khususnya pendidikan hadis di pondok beliau,” kata Taj Yasin.
Program yang ditawarkan, lanjut dia, diawali dengan proses pembelajaran daring selama satu tahun. Peserta kemudian menjalani ujian. Mereka yang dinyatakan lulus akan mendapat kesempatan berangkat ke Turki untuk mengikuti pembelajaran secara langsung selama kurang lebih satu bulan.
Selama menjalani pendidikan di Turki, para peserta akan memperoleh fasilitas tempat tinggal serta konsumsi. Skema tersebut dinilai dapat menjadi kesempatan bagi santri untuk mendapatkan pengalaman belajar langsung dari para ulama yang mendalami ilmu hadis.
Gus Yasin menilai tawaran kerja sama itu sejalan dengan komitmen Pemprov Jateng dalam memperluas akses pendidikan bagi kalangan santri. Hal tersebut dinilai penting mengingat Jawa Tengah memiliki sekitar 5.378 pondok pesantren.
Upaya memperluas akses beasiswa bagi santri juga telah dilakukan Pemprov Jateng melalui Lembaga Fasilitasi Sinergi Pesantren (LFSP) Jawa Tengah. Pada tahun ini, sebanyak 73 santri Jawa Tengah memperoleh kesempatan mendapatkan beasiswa pendidikan.
Dari jumlah tersebut, 15 santri melanjutkan pendidikan ke luar negeri, antara lain ke Yaman, Mesir, dan China.
“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan melakukan kerja sama dengan Ma’had beliau (Awwamah Center Indonesia),” kata Taj Yasin.
Sementara itu, Direktur ACI Syekh Muhyiddin Awwamah menyampaikan bahwa penjajakan kerja sama dengan Indonesia merupakan bagian dari langkah lembaganya dalam memperluas pendidikan ilmu hadis.
Saat ini, ACI telah membangun jaringan dengan lembaga pendidikan di lebih dari 70 negara. Jaringan tersebut mencakup sekitar 250 pusat pendidikan yang bergerak dalam bidang hadis.
Di Indonesia, Awwamah Center telah bekerja sama dengan sekitar 40 lembaga pendidikan. Lembaga tersebut meliputi pesantren, perguruan tinggi, hingga institusi pendidikan keagamaan.
Muhyiddin melihat Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan hadis. Jumlah pesantren yang besar serta perhatian masyarakat terhadap pendidikan keagamaan menjadi salah satu modal utama.
Meski demikian, ia menilai kajian hadis secara khusus masih perlu mendapat penguatan. Selama ini, lembaga pendidikan dinilai lebih banyak memberikan perhatian pada bidang fikih, tasawuf, akidah, maupun bahasa Arab.
Adapun lembaga yang secara khusus menyiapkan kader untuk mendalami ilmu hadis masih tergolong terbatas.
ACI kemudian menjalankan program pembinaan bagi santri dari sejumlah lembaga pendidikan mitra di Indonesia melalui pembelajaran daring selama sekitar satu tahun terakhir.
Proses pendidikan dilakukan secara bertahap. Peserta juga menjalani ujian di setiap tahap untuk mengukur perkembangan pembelajaran mereka.
Santri yang berhasil menuntaskan seluruh tahapan tersebut kemudian memiliki kesempatan mengikuti pendidikan intensif selama satu bulan di Turki.
Selama berada di Turki, mereka akan belajar secara langsung kepada Syekh Muhyiddin ‘Awwamah serta ayahandanya, Syekh Al-Alamah Muhammad ‘Awwamah.
Program pembinaan tersebut tidak berakhir setelah peserta kembali ke Indonesia. Mereka akan memperoleh pendidikan lanjutan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus meneruskan pengetahuan yang didapat kepada santri lain maupun mahasiswa di lembaga masing-masing.
Selain mendalami ilmu hadis, para peserta juga akan mendapatkan pembekalan terkait penelitian dan kajian terhadap naskah-naskah kuno karya ulama.
Syekh Muhyiddin sendiri merupakan ulama kelahiran Aleppo, Suriah. Ia sempat menetap di Madinah selama kurang lebih 49 tahun sebelum kemudian tinggal di Turki.
Ia menyebut kepindahannya ke Turki terjadi setelah mendapat undangan khusus dari Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk turut mengembangkan ilmu hadis di negara tersebut.
Kunjungan ke Jawa Tengah kali ini menjadi kunjungan keduanya setelah sebelumnya datang pada 2025. Menurut Muhyiddin, kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari berbagai program pendidikan yang telah berjalan bersama sejumlah lembaga pendidikan di Indonesia selama kurang lebih satu tahun.
Ia berharap hubungan kerja sama dengan Indonesia, terutama Jawa Tengah, dapat terus diperluas. Dengan demikian, semakin banyak santri pesantren yang memiliki kemampuan mendalam dalam bidang ilmu hadis.
Sebagai tindak lanjut penjajakan kerja sama, Pemprov Jateng, LFSP, dan ACI menandatangani Minutes of Meeting (MoM). Dokumen tersebut menjadi dasar untuk mempersiapkan kerja sama yang nantinya dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU). (*)







