SEMARANGUPDATE.COM – Budidaya melon hidroponik di Newasena Farm, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mulai memanfaatkan teknologi smart farming untuk menjaga kualitas tanaman dan meningkatkan produktivitas.
Newasena Farm kini menggunakan alat monitoring dan auto dosing nutrisi berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Wahid Hasyim (Unwahas).
Perangkat tersebut diserahkan kepada Newasena Farm beberapa waktu lalu, sekaligus menandai dimulainya penerapan teknologi pertanian cerdas dalam budidaya melon hidroponik.
Bagi pengelola Newasena Farm, teknologi ini diharapkan dapat menjawab salah satu tantangan utama dalam budidaya hidroponik, yakni menjaga kestabilan larutan nutrisi agar sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Pengelola Newasena Farm, Faisol, menyambut antusias penerapan sistem tersebut. Menurutnya, pemantauan kondisi nutrisi yang lebih teratur berpotensi meningkatkan kualitas sekaligus produktivitas melon yang dibudidayakan.
“Kami sangat antusias dengan sistem ini. Dengan monitoring yang lebih baik, kami berharap kualitas dan produktivitas melon hidroponik kami bisa meningkat. Buah yang dihasilkan juga lebih seragam dan memenuhi standar pasar modern,” ujarnya, dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Selama ini, kondisi larutan nutrisi perlu dipantau secara berkala menggunakan alat portable. Metode tersebut membuat perubahan kondisi nutrisi tidak dapat terpantau secara kontinu.
Melalui teknologi IoT, kondisi nutrisi kini dapat dipantau secara real-time melalui smartphone maupun komputer.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unwahas, Rony Wijanarko, S.Kom., M.Kom., mengatakan sistem tersebut dirancang khusus untuk membantu pengelola Newasena Farm memantau parameter penting dalam budidaya melon hidroponik.
Parameter yang dipantau mencakup pH, Total Dissolved Solids (TDS), suhu greenhouse, dan suhu air.
“Dengan sistem IoT ini, petani bisa memantau kondisi nutrisi dari smartphone mereka kapan saja dan di mana saja,” jelas Rony.
Tidak berhenti pada monitoring, perangkat tersebut juga dilengkapi fitur auto dosing. Ketika nilai pH atau TDS berada di luar rentang yang ditentukan, sistem dapat secara otomatis menambahkan larutan penyesuai pH maupun nutrisi.
Untuk budidaya di Newasena Farm, sistem dirancang menjaga pH pada kisaran 5,5-6,5, sedangkan TDS berada pada rentang 1.500-2.000 ppm.
Perangkat tersebut menggunakan mikrokontroler ESP32, sensor presisi, serta pompa dosing otomatis untuk membantu menjaga kestabilan larutan nutrisi.
Teknologi ini menjadi penting karena larutan nutrisi di tandon berkapasitas 1.500 liter dapat mengalami perubahan ketika diserap oleh tanaman.
Anggota Tim Pengabdian Unwahas, Istanto, S.P., M.Si., mengatakan sistem tersebut dikembangkan untuk membantu menjaga kondisi nutrisi tetap stabil selama proses budidaya.
“Teknologi ini hadir untuk memodernisasi pertanian dan meningkatkan hasil panen, terutama dengan kemampuannya menjaga kestabilan nutrisi di dalam tandon berkapasitas 1.500 liter agar tidak mudah berubah drastis saat diserap oleh tanaman,” katanya.
Dorong Buah Melon Lebih Seragam
Hasil pengujian awal menunjukkan sistem memiliki kinerja yang cukup baik. Deviasi akurasi sensor pH berada pada kisaran ±0,2, sehingga dinilai memenuhi standar presisi untuk aplikasi hidroponik komersial.
Sistem juga mampu mempertahankan pH pada rentang optimal selama operasional. Hal tersebut menjadi salah satu keunggulan dibandingkan pemantauan manual yang sebelumnya dilakukan.
Dengan monitoring secara real-time dan sistem auto dosing, pengelola Newasena Farm tidak perlu berulang kali mendatangi tandon untuk mengetahui kondisi larutan nutrisi.
Efisiensi waktu monitoring pun meningkat, sehingga tenaga pengelola dapat lebih difokuskan pada aktivitas budidaya lainnya.
Agar teknologi dapat digunakan secara optimal, Tim Pengabdian Unwahas memberikan pendampingan kepada pengelola Newasena Farm.
Pelatihan meliputi penggunaan dashboard monitoring, pembacaan data secara real-time, kalibrasi sensor, hingga troubleshooting dasar.
Mahasiswa Unwahas, Nanda Bagus Ramadhani dan Arvian Randitya Pratama, turut mendemonstrasikan penggunaan aplikasi dashboard yang dapat diakses melalui smartphone dan komputer.
“Kami juga membentuk grup komunikasi untuk konsultasi teknis agar mitra bisa bertanya kapan saja jika mengalami kendala,” ujar Nanda.
Pendampingan tersebut diharapkan membuat pengelola Newasena Farm tidak sekadar menerima perangkat, tetapi mampu mengoperasikan dan memanfaatkannya secara mandiri.
Rony mengatakan lebih dari 80 persen pengelola telah mendapatkan pelatihan dan mampu menggunakan sistem tersebut.
Ke depan, penerapan teknologi IoT di Newasena Farm diharapkan dapat membantu menciptakan budidaya melon hidroponik yang lebih efisien, stabil, dan menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih seragam.
Teknologi yang dikembangkan Unwahas tersebut juga berpotensi diterapkan pada komoditas hortikultura lainnya, sehingga dapat menjadi contoh penerapan smart farming untuk pertanian perkotaan.
Tim pengabdian Unwahas akan melakukan monitoring dan evaluasi selama beberapa minggu ke depan untuk melihat kinerja sistem sekaligus dampaknya terhadap budidaya melon di Newasena Farm.
Program tersebut didanai melalui DIPA internal kampus yang dikelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Wahid Hasyim.
Selain penerapan teknologi dan pelatihan, program juga menargetkan publikasi ilmiah serta pendaftaran hak cipta atas teknologi yang dikembangkan. (*)







