Laba Pupuk Indonesia Tembus Rp8,51 Triliun, Naik 253 Persen di Semester I

Laba Pupuk Indonesia Tembus Rp8,51 Triliun, Naik 253 Persen di Semester I
Laba Pupuk Indonesia Tembus Rp8,51 Triliun, Naik 253 Persen di Semester I

SEMARANGUPDATE.COM – PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. Laba bersih perusahaan sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai Rp8,51 triliun, melonjak 253 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perusahaan yang mencapai Rp59,67 triliun atau tumbuh 51 persen.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, EBITDA tercatat Rp14,28 triliun, meningkat 140 persen. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan volume produksi serta efisiensi biaya operasional melalui penerapan transformasi bisnis.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, penerapan efisiensi operasional dan disiplin biaya menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan perusahaan. Strategi tersebut juga sejalan dengan agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujar Rahmad.

Menurut Rahmad, transformasi yang dilakukan perusahaan bertujuan memperkuat ketahanan bisnis di tengah perubahan ekonomi global.

Salah satu strateginya dilakukan melalui diversifikasi sumber pendapatan dengan meningkatkan kontribusi segmen non-subsidi dan produk non-pupuk.

Pupuk Indonesia juga memperluas sumber pasokan serta skema kontrak bahan baku untuk mengurangi dampak perubahan harga komoditas global terhadap struktur biaya perusahaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi bisnis dilakukan melalui penguatan operational & digital excellence, penyederhanaan bisnis dalam holding, distribusi public service obligation, serta penguatan sektor komersial.

Dari sisi tata kelola, transformasi tersebut turut didukung Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang menjadi salah satu momentum penting bagi peningkatan efisiensi operasional perusahaan.

Sejalan dengan agenda tersebut, Pupuk Indonesia berencana melakukan peremajaan atau revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun mendatang. Langkah itu dilakukan untuk mengoptimalkan aset BUMN agar semakin produktif dan memberikan nilai tambah.

Perusahaan juga menyiapkan sejumlah pengembangan bisnis, antara lain ekspansi dan diversifikasi produk melalui pengembangan metanol dan turunannya, bisnis clean ammonia, serta pengembangan sektor industrial support.

Transformasi Pupuk Indonesia turut diarahkan untuk memberikan manfaat langsung kepada petani, salah satunya melalui peningkatan akses terhadap pupuk bersubsidi.

Sepanjang 2025, perusahaan menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi atau meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan penyaluran tersebut didukung penerapan sistem i-Pubers yang mempermudah proses penebusan. Selain itu, Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 turut menyederhanakan tata kelola distribusi pupuk bersubsidi agar penyalurannya lebih cepat, mudah, dan tepat sasaran.

Hingga 12 Juli 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan 5,13 juta ton pupuk bersubsidi atau sekitar 52 persen dari total alokasi 9,8 juta ton yang ditetapkan pemerintah.

“Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan,” ungkap Rahmad.

Dari sisi operasional, perusahaan terus menempatkan efisiensi dan optimalisasi aset sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia dinilai memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk domestik sekaligus memanfaatkan peluang pasar global tanpa mengganggu pasokan bagi petani dalam negeri.

“Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput,” pungkas Rahmad. (*)

Pos terkait