SEMARANGUPDATE.COM – Tingginya angka pengangguran di Jawa Tengah menjadi tantangan serius yang mendorong perlunya strategi penyerapan tenaga kerja yang lebih masif dan berkelanjutan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Tengah pada 2025 berada di kisaran 4,32–4,66 persen, dengan jumlah pengangguran mencapai sekitar 1,04 juta orang.
Kondisi ini menandakan masih besarnya kebutuhan lapangan kerja, terutama bagi angkatan kerja baru.
Selain itu, meskipun investasi di Jawa Tengah pada 2025 mencapai sekitar Rp88,8 triliun, tidak seluruhnya mampu menyerap tenaga kerja secara optimal, terutama pada sektor yang berbasis teknologi tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko mendorong penguatan investasi padat karya sebagai solusi strategis untuk menekan angka pengangguran, sekaligus menjaga masyarakat tetap bekerja di daerahnya.
“Investasi harus diarahkan pada sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga masyarakat tidak perlu keluar daerah untuk mencari pekerjaan,” tegasnya.
Ia menilai, sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki dan manufaktur ringan memiliki potensi besar dalam membuka lapangan kerja secara cepat dan luas.
Hal ini terbukti dari sejumlah investasi industri di Jawa Tengah yang mampu menyerap puluhan hingga ratusan ribu tenaga kerja.
Dalam catatan pemerintah daerah, realisasi investasi hingga triwulan III 2025 bahkan telah menyerap lebih dari 326 ribu tenaga kerja, menunjukkan pentingnya peran investasi dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Namun demikian, Heri menekankan bahwa investasi tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas dan pemerataan.
“Jangan hanya terkonsentrasi di kota besar. Daerah-daerah juga harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujarnya.
Ia juga mendorong sinergi antara pemerintah daerah, pelaku industry dan lembaga pendidikan untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, pendekatan ini penting agar investasi yang masuk benar-benar berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau investasi masuk, tenaga kerja lokal harus siap dan terserap. Ini yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Ke depan, Heri berharap penguatan sektor padat karya dapat menjadi solusi konkret dalam menekan pengangguran, mengurangi urbanisasi, serta memperkuat ekonomi daerah secara berkelanjutan.
“Tujuannya jelas, masyarakat bisa bekerja dan sejahtera di daerahnya sendiri,” pungkasnya. (*)







