Dari Lahan Terbengkalai Jadi Sawah Pintar, UNDIP Uji Pertanian Hemat Energi di Penggaron Semarang

UNDIP mengubah lahan terlantar di Penggaron Semarang menjadi sawah modern berbasis energi surya untuk riset pertanian berkelanjutan.

SEMARANGUPDATE.COM – Lahan persawahan yang selama bertahun-tahun terbengkalai di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Diponegoro (UNDIP), Penggaron, Semarang, mulai kembali produktif.

Kali ini, lahan tersebut diproyeksikan menjadi tempat pengujian konsep pertanian yang mengandalkan teknologi sekaligus menekan penggunaan energi berbahan bakar minyak.

Bacaan Lainnya

Sekitar dua hektare lahan yang sebelumnya tidak digarap selama lima hingga enam tahun kini telah diolah dan mulai ditanami padi.

UNDIP menjadikan kawasan tersebut sebagai laboratorium lapangan untuk mengembangkan model pertanian yang efisien, produktif, dan ramah lingkungan.

Salah satu teknologi yang menjadi andalan adalah pemanfaatan energi matahari untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah.

Kepala Kantor KHDTK UNDIP, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono, KS, MP, menjelaskan sistem pengairan memanfaatkan enam panel surya dengan kapasitas sekitar 60 meter kubik per jam. Panel tersebut digunakan untuk mengoperasikan pompa mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

“Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam,” jelas Prof. Puryono, dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).

Penggunaan teknologi tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak sekaligus menjadi contoh penerapan energi terbarukan dalam sektor pertanian.

Air dan Tanah Diuji Sebelum Sawah Dikembangkan

Tidak hanya mengandalkan teknologi, UNDIP terlebih dahulu memastikan kondisi lingkungan mendukung kegiatan pertanian.

Air yang digunakan untuk mengairi persawahan berasal dari sungai di sekitar kawasan. Berdasarkan hasil pengujian, sumber air tersebut tidak terkontaminasi logam berat.

Sementara itu, tingkat keasaman tanah berada pada kisaran pH 7 hingga 8 dan dinilai sesuai untuk budidaya tanaman padi.

Pada tahap awal, UNDIP menanam varietas Inpari dan Inpago. Pengembangan berikutnya akan diarahkan pada varietas unggul hasil persilangan Rojolele dengan padi asal Jepang.

UNDIP juga berencana menguji padi merah yang kaya nutrisi dan serat sebagai bagian dari diversifikasi tanaman pangan.

“Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Prof. Puryono.

Targetnya Bukan Sekadar Panen

Wakil Rektor II UNDIP, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., mengatakan pengembangan sawah di KHDTK Penggaron tidak berhenti pada target produksi pertanian.

Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi ruang pembelajaran dan penelitian yang memungkinkan berbagai inovasi pertanian diuji secara langsung.

Dengan konsep tersebut, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat dapat melihat penerapan teknologi pertanian secara nyata, mulai dari sistem pengairan hingga pengembangan varietas tanaman.

Menurut Warsito, kawasan produktif tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi tujuan edu-ekowisata dengan memadukan sektor pertanian dan wisata alam.

“Diharapkan kawasan KHDTK UNDIP di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan,” ujarnya.

Untuk mewujudkan konsep itu, UNDIP berencana menggandeng komunitas jeep yang berada di sekitar kawasan.

Masyarakat Jadi Bagian dari Pengembangan KHDTK

Pengembangan kawasan Penggaron juga diarahkan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.

Warsito menegaskan keberadaan UNDIP di tengah masyarakat harus dibangun melalui hubungan yang saling mendukung.

“Kehadiran UNDIP adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga,” imbuhnya.

Karena itu, pengembangan sawah modern diharapkan membuka peluang yang lebih luas, tidak hanya dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga ekonomi masyarakat.

Jika pengembangan berjalan sesuai target, KHDTK Penggaron dapat menjadi contoh bagaimana kawasan hutan dan lahan pertanian dimanfaatkan secara terpadu.

Energi surya, teknologi pengairan, riset varietas, pendidikan, dan wisata alam dirancang dalam satu ekosistem.

Dari lahan yang sempat ditinggalkan selama bertahun-tahun, UNDIP kini mencoba membangun model baru: sawah bukan hanya tempat menanam dan memanen padi, tetapi juga ruang untuk menguji teknologi pertanian masa depan. (*)

Pos terkait