SEMARANGUPDATE.COM – Pemerintah Kota Semarang bergerak sigap dalam menangani kasus tragis yang dialami seorang siswi kelas 2 SMP berinisial T, korban pembakaran yang diduga dilakukan oleh pamannya di kawasan Tambakmulyo, Semarang Utara.
Atas arahan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, Camat Semarang Utara Siwi Wahyuningsih bersama jajaran kelurahan langsung melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, seperti DP3A, Dinas Sosial, dan Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan korban memperoleh perlindungan serta penanganan medis yang memadai, setelah sebelumnya terkendala biaya pengobatan.
Upaya tersebut menjadi bentuk respons cepat sekaligus kepedulian pemerintah kota terhadap warganya yang mengalami musibah.
“Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A terkait dengan pelindungan perempuan dan anak, karena ini korbannya adalah di bawah umur, SMP kelas 2,” ujar Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, pada Rabu (22/4).
Penanganan diawali dengan pendampingan serta asesmen bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.
Sebelumnya, korban sempat dirawat di rumah sakit swasta, namun harus dipulangkan karena keterbatasan biaya.
Melihat kondisi tersebut, pihak kecamatan bersama DP3A kemudian merujuk korban ke RSWN agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
“Karena tidak bisa di-cover oleh BPJS, karena kemarin kan dibawa ke rumah sakit swasta. Nah, setelah itu dengan adanya kita memberikan bantuan bersama DP3A, pendampingan DP3A, ini kita kirim ke RSWN untuk dilakukan pemeriksaan pengobatan secara intensif,” jelasnya.
Korban diketahui mengalami luka bakar sekitar 30 persen yang meliputi bagian lengan kanan hingga punggung.
Selain penanganan medis, Dinas Sosial juga telah menyalurkan bantuan kebutuhan pokok guna membantu keluarga selama proses pemulihan.
“Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya (luka) rentan sama bakteri, sama virus,” tutup Siwi. (*)







