Cuaca Terik Melanda: Waspadai Serangan ISPA dan Dehidrasi di Musim Kemarau

ilustrasi kemarau. (foto : gemini.ai)
ilustrasi kemarau. (foto : gemini.ai)

SEMARANGUPDATE.COM – Berbagai ancaman masalah kesehatan kini mengintai seiring datangnya musim kemarau kering di beberapa kawasan, tak terkecuali di Kota Semarang.

Warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap bahaya dehidrasi, gangguan pernapasan, hingga potensi infeksi yang lebih cepat menular di tengah cuaca terik dan minimnya curah hujan.

Bacaan Lainnya

Pakar kesehatan, Ari Udijono, menyoroti bahwa ancaman terbesar yang patut diantisipasi selama musim kemarau adalah berkurangnya cairan tubuh.

Suhu lingkungan yang terlampau panas memicu lonjakan penguapan dari dalam tubuh, sehingga membuat seseorang lebih cepat mengalami dehidrasi.

“Yang jelas karena panas maka dehidrasi tinggi sekali. Penguapan tubuh meningkat sehingga risiko kekurangan cairan juga semakin besar, terutama bagi orang dewasa yang bekerja di luar ruangan,” ungkap Ari, pada Kamis 9 Juli 2026.

Lebih lanjut, ia menekankan perlunya pengawasan ekstra bagi kelompok yang berisiko tinggi, yakni anak-anak, ibu hamil, serta kaum lanjut usia.

Anak-anak dan ibu hamil sangat membutuhkan pemenuhan hidrasi secara konstan guna memastikan fungsi tubuh serta kondisi janin tetap prima.

Tidak sekadar masalah kekurangan cairan, kondisi udara yang kering dan berdebu juga menjadi musuh utama bagi saluran pernapasan. Situasi lingkungan semacam ini membuka peluang yang jauh lebih lebar bagi ragam bakteri dan virus untuk menjangkiti manusia.

Beberapa keluhan kesehatan yang paling sering meledak kasusnya di musim kemarau, menurut Ari, meliputi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), radang selaput mata atau konjungtivitis, hingga diare yang biasanya muncul akibat paparan debu pada makanan atau sanitasi yang menurun. Untuk membentengi diri, warga disarankan agar disiplin memenuhi asupan air putih.

Sebagai langkah perlindungan tambahan bagi mereka yang kerap beraktivitas di jalanan, pemakaian masker sangat dianjurkan guna meminimalisasi paparan polutan dan debu.

“Jangan sampai kekurangan cairan, kemudian jika berada di tempat terbuka, gunakan masker agar paparan debu dapat dikurangi, istirahat yang cukup juga penting agar tubuh tetap bugar saat menghadapi cuaca panas,” tuturnya mengingatkan.

Di sisi lain, Ari menegaskan bahwa upaya membentengi diri dari cuaca ekstrem ini tak bisa sekadar mengandalkan langkah individu. Pemerintah pun dituntut turun tangan dalam menghadirkan ekosistem lingkungan yang lebih sehat.

Langkah yang bisa diambil, tambah Ari, adalah dengan menggencarkan program penanaman pohon. Masifnya penghijauan sangat krusial karena terbukti ampuh meredam suhu ekstrem sekaligus menjadi penyaring alami udara.

Hal ini masih harus ditunjang dengan pengadaan lebih banyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta pengelolaan cadangan air buatan guna menyiasati dampak kemarau berkepanjangan. (*)

Pos terkait