UNDIP Kembangkan Dipofuel Gen 3, Mesin Pengolah Sampah Plastik untuk Skala Kelurahan

UNDIP mengembangkan Dipofuel Gen 3 untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar. Teknologi ini ditargetkan menjadi prototipe pengolahan sampah skala kelurahan. (Dok UNDIP)

SEMARANGUPDATE.COM – Persoalan sampah plastik yang sulit terurai mendorong Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan teknologi pengolahan limbah yang dapat diterapkan lebih dekat dengan masyarakat.

Melalui Mesin Pirolisis Statis Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3), UNDIP menargetkan teknologi pengolahan sampah plastik tidak hanya digunakan di lingkungan kampus, tetapi bisa menjadi prototipe untuk pengelolaan sampah hingga tingkat kelurahan.

Bacaan Lainnya

Inovasi tersebut dipamerkan dalam rangkaian Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-69 UNDIP di Muladi Dome, Kampus UNDIP Tembalang, Semarang, Kemarin.

Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., selaku pimpinan tim pengembang, mengatakan Dipofuel Gen 3 merupakan hasil penyempurnaan teknologi dari generasi sebelumnya.

Jika generasi pertama hanya memiliki kapasitas lima kilogram sampah plastik dan generasi kedua mencapai 100 kilogram, kini Dipofuel Gen 3 mampu mengolah 200 kilogram plastik dalam sekali produksi.

Targetkan Pengolahan Sampah di Tingkat Kelurahan

Prof. Didi mengatakan, teknologi tersebut sengaja dikembangkan dengan orientasi pada persoalan lingkungan.

Ia berharap Dipofuel dapat menjadi salah satu alternatif teknologi yang nantinya bisa ditempatkan di wilayah yang membutuhkan solusi pengolahan sampah plastik.

“Harapan kami, mesin ini bisa menjadi prototipe pionir untuk pengolahan sampah, setidaknya pada skala kelurahan. Ke depan, kapasitasnya masih berpeluang dikembangkan hingga skala ton dan diterapkan di masyarakat maupun industri,” tuturnya, dalam keterangannya, Minggu (18/10/2026).

Menurut dia, penerapan teknologi pengolahan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mesin. Dukungan pemerintah, sumber daya manusia, serta kepatuhan terhadap regulasi dan perizinan juga menjadi faktor penting.

Karena itu, pengembangan Dipofuel masih terus diarahkan agar dapat memenuhi kebutuhan penerapan di lapangan.

Teknologi Pirolisis Ubah Plastik Jadi Produk Bernilai

Dipofuel Gen 3 bekerja menggunakan proses pirolisis. Sampah plastik dipanaskan dalam reaktor tertutup tanpa oksigen sehingga menghasilkan sejumlah produk turunan.

Dalam satu siklus pengolahan selama sekitar 4-8 jam, mesin diproyeksikan menghasilkan 60 persen bahan bakar cair, 20 persen gas bakar, dan 20 persen wax padat.

Mesin tersebut menggunakan reaktor berkapasitas 1.000 liter berbahan plat besi dengan insulator fiber ceramic.

Sistem pemanasnya memanfaatkan biomassa. Sementara itu, panel kontrol suhu dan tekanan dilengkapi alarm serta perangkat keselamatan untuk membantu menjaga proses tetap terkendali.

Sistem kondensasi bertingkat juga disempurnakan untuk meningkatkan optimalisasi hasil bahan bakar cair.

Gas hasil proses pirolisis tidak begitu saja dibuang. Gas tersebut dialirkan kembali menggunakan blower menuju sistem pemanas untuk membantu pembakaran.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi kebutuhan kayu bakar.

Sudah Dimanfaatkan Masyarakat di Batang

Teknologi Dipofuel tidak hanya dikembangkan sebagai konsep di laboratorium. Salah satu perangkatnya telah dimanfaatkan masyarakat petani di Batang, Jawa Tengah.

Menurut Prof. Didi, teknologi tersebut digunakan untuk membantu operasional pompa irigasi.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh bahwa pengolahan sampah plastik dapat diarahkan untuk menghasilkan produk yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

Potensi pengembangan Dipofuel juga mulai mendapat perhatian dari sejumlah pihak di luar Jawa Tengah.

Lembaga pemasyarakatan dan pondok pesantren di Jawa Timur disebut telah menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi tersebut.

Selain itu, pihak PLTU di Sulawesi Selatan juga telah berkomunikasi terkait peluang kolaborasi pengolahan limbah.

Mesin 3 Ton Dikembangkan dalam Dua Bulan

Dipofuel Gen 3 memiliki bobot keseluruhan sekitar tiga ton. Menariknya, mesin tersebut berhasil diselesaikan tim peneliti dalam waktu sekitar dua bulan.

Setelah dipamerkan dalam rangkaian Dies Natalis ke-69 UNDIP, Dipofuel Gen 3 direncanakan mulai digunakan di lingkungan TPST UNDIP.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya UNDIP mendorong riset yang tidak berhenti pada penciptaan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Melalui Dipofuel Gen 3, sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan diupayakan memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi pengolahan limbah yang lebih luas. (*)

Pos terkait