Kata Siswa Kurang Mampu Semarang di Sekolah Kemitraan Jateng: Dulu Takut Putus Sekolah, Kini Bisa Kejar Cita-cita

Suasana proses belajar mengajar di Sekolah Kemitraan Jateng di Kota Semarang. Siswa kurang mampu di Sekolah Kemitraan Jateng mengaku terbantu sekolah gratis dan terhindar dari ancaman putus sekolah.

SEMARANGUPDATE.COM – Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membawa harapan baru bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

Bagi mereka, program sekolah gratis ini bukan sekadar bantuan pendidikan, tetapi menjadi jalan untuk tetap melanjutkan sekolah dan meraih cita-cita yang sempat terancam kandas akibat keterbatasan ekonomi.

Bacaan Lainnya

Ayu Prameswari, siswi SMA Mardisiswa Banyumanik, Kota Semarang, menjadi salah satu siswa yang merasakan langsung manfaat program tersebut. Dia mengaku sempat khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA setelah lulus SMP.

Kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan membuat biaya masuk sekolah terasa begitu berat. Ayahnya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, sehingga peluang untuk melanjutkan pendidikan sempat terlihat sulit.

“Ekonomi seperti ini bisa jadi putus sekolah karena tidak bisa membayar biaya sekolah yang jumlahnya besar,” ujar Ayu, dikutip dari rilis Humas Pemprov Jateng, Senin (8/6/2026).

Namun, kekhawatiran itu berubah setelah dirinya diterima melalui Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jawa Tengah. Kini, Ayu dapat bersekolah tanpa harus memikirkan biaya SPP, uang gedung, maupun kebutuhan pendidikan lainnya.

“Orang tua sangat senang karena biaya sekolah kan besar. Saya juga sangat terbantu,” katanya.

Sekolah Gratis Buka Jalan Masa Depan

Pengalaman serupa dirasakan Keyla Sabrina, sesama siswi SMA Mardisiswa. Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga sempat membuat dirinya khawatir tidak dapat melanjutkan pendidikan.

Baginya, Program Sekolah Kemitraan menjadi kesempatan besar untuk tetap mempertahankan impian dan masa depan.

“Kalau tidak ada Sekolah Kemitraan, mungkin putus sekolah dulu,” ungkap Keyla.

Kini, ia dapat belajar dengan tenang tanpa membebani orang tuanya. Harapan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pun masih terbuka lebar.

“Senang banget karena bisa melanjutkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Kepala SMA Mardisiswa Banyumanik, Marwulandari Sayekti, mengatakan program tersebut memungkinkan sekolah membebaskan berbagai biaya pendidikan bagi siswa penerima manfaat.

“SPP gratis, uang gedung gratis, buku juga bisa kami bantu dari dana program. Ini benar-benar membantu anak-anak yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan,” katanya.

Anak Buruh dan Keluarga Prasejahtera Merasakan Manfaat

Manfaat Program Sekolah Kemitraan juga dirasakan oleh siswa SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

Vanesha Angelina, putri seorang buruh, mengaku program sekolah gratis tersebut sangat membantu keluarganya yang harus memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kalau tidak ada program ini, orang tua pasti lebih terbebani karena kebutuhan lain juga banyak,” kata Vanesha.

Sementara itu, Maulida Dewi Novi Yanti mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari Program Sekolah Kemitraan. Menurutnya, kesempatan sekolah gratis sangat berarti bagi keluarganya.

“Sekolah Kemitraan itu gratis. Saya terbantu sekali. Terima kasih Pak Gubernur, akhirnya saya bisa sekolah gratis di sini,” ujarnya.

Kepala SMA Laboratorium UPGRIS, Nor Khoiriyah, mengungkapkan sejumlah siswa yang kini belajar di sekolahnya sempat berada di ambang putus sekolah sebelum diterima melalui Program Sekolah Kemitraan.

“Dengan adanya program ini, anak-anak yang tadinya hampir putus sekolah, akhirnya bisa tetap belajar sampai sekarang,” jelasnya.

Jadi Harapan Ribuan Anak Kurang Mampu

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan Program Sekolah Kemitraan terus dimaksimalkan untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem mendapatkan akses pendidikan.

Pada tahun 2026, sebanyak 139 SMA dan SMK swasta bergabung dalam Program Sekolah Kemitraan dengan total kuota mencapai 5.004 siswa.

Bagi Ayu, Keyla, Vanesha, Maulida, dan ribuan siswa lainnya, program ini bukan hanya menghadirkan sekolah gratis, tetapi juga memberikan kesempatan untuk tetap belajar, mengejar cita-cita, dan membangun masa depan yang lebih baik meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. (*)

Pos terkait