Inflasi Kota Semarang Terkendali, Agustina Ungkap Strategi Pak Rahman Jadi Senjata Stabilkan Harga Pangan

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan strategi pengendalian inflasi yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui program Pak Rahman (Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman) saat menjadi narasumber dalam diskusi panel Urban Talks pada ajang Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (5/6/2026) kemarin.

SEMARANGUPDATE.COM – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan strategi pengendalian inflasi yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui program Pak Rahman (Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman) saat menjadi narasumber dalam diskusi panel Urban Talks pada ajang Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (5/6/2026) kemarin.

Dalam forum tersebut, Agustina menyoroti isu kedaulatan pangan sebagai tantangan besar yang dihadapi kota-kota besar, termasuk Kota Semarang. Menurutnya, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, namun tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengendalikan harga karena tata niaga pangan mengikuti mekanisme pasar.

Bacaan Lainnya

“Lahan sawah di Kota Semarang saat ini sekitar 2.000 hektare. Produksi beras lokal baru mampu memenuhi sekitar 11 persen kebutuhan konsumsi masyarakat. Sementara pemerintah tidak memiliki sistem pengendalian maupun penentuan harga karena sepenuhnya dikendalikan pasar,” ujarnya, dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

Kondisi tersebut mendorong Pemkot Semarang menghadirkan inovasi Pak Rahman sebagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

Melalui program tersebut, mobil pangan keliling mendistribusikan bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau ke ratusan titik di tingkat kelurahan setiap bulan. Program ini dijalankan secara gotong royong bersama para pedagang dan pelaku usaha pangan lokal.

Agustina menjelaskan, langkah tersebut terbukti memberikan dampak signifikan terhadap pengendalian inflasi daerah. Bahkan, Kota Semarang berhasil menjadi salah satu daerah dengan kinerja pengendalian inflasi terbaik di Jawa Tengah.

Pencapaian itu dinilai strategis karena Kota Semarang memiliki kontribusi sekitar 30 persen terhadap pembentukan angka inflasi regional Jawa Tengah. Dengan kata lain, stabilitas harga di Ibu Kota Jawa Tengah turut memengaruhi kondisi inflasi provinsi secara keseluruhan.

Menurut Agustina, keberhasilan menjaga stabilitas harga pangan tidak lepas dari kuatnya budaya gotong royong yang telah tumbuh di tengah masyarakat Kota Semarang selama ratusan tahun.

Ia mencontohkan filosofi Warak Ngendog yang menjadi simbol akulturasi budaya dan toleransi masyarakat Semarang. Filosofi tersebut menggambarkan pentingnya kolaborasi untuk menghasilkan solusi yang saling menguntungkan, termasuk dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah.

“Karakter kebersamaan itu menjadi modal sosial yang sangat kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi maupun pangan,” katanya.

Selain berdampak pada stabilitas ekonomi, budaya kolaboratif tersebut juga dinilai berkontribusi terhadap perkembangan sektor pariwisata. Revitalisasi kawasan Kota Lama yang dilakukan secara berkelanjutan sejak 2020 berhasil mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan menjadikan Kota Semarang sebagai daerah dengan jumlah wisatawan tertinggi di Jawa Tengah selama empat tahun berturut-turut.

Kehadiran Agustina dalam forum nasional tersebut bertujuan membagikan pengalaman Kota Semarang dalam membangun ketahanan kota melalui kolaborasi lintas sektor. Urban Talks menjadi bagian dari rangkaian Jakarta Future Festival 2026 yang dibuka oleh Pramono Anung.

Festival yang digelar oleh Bappeda Provinsi DKI Jakarta itu mengusung tema “Navigating Resilience” dan menjadi ruang berbagi gagasan untuk membangun kota masa depan yang tangguh melalui pendekatan budaya, ekonomi, infrastruktur, hingga kebijakan publik.

“Kunci membangun kota masa depan yang tangguh ada pada ruang dialog, kolaborasi antar-daerah, dan keberanian untuk turun langsung membuat gerakan bersama di lapangan demi kesejahteraan warga,” pungkas Agustina. (*)

Pos terkait