SEMARANGUPDATE.COM – Pemerintah Kota Semarang terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas melalui program Waras Ekonomi.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyiapkan strategi pengembangan usaha melalui kurasi 1.000 UMKM, pendampingan sesuai kebutuhan, hingga perluasan akses pasar ke jaringan ritel modern dan perhotelan.
Langkah tersebut dilakukan agar UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang, memperluas jangkauan pemasaran, serta menciptakan lapangan kerja baru yang berdampak pada perekonomian daerah.
Agustina menyampaikan hal itu saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Tengah 2026 di Muladi Dome Universitas Diponegoro (Undip), kemarin.
Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, pelaku UMKM, lembaga inkubator, dunia usaha, dan lembaga pembiayaan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan.
“Untuk UMKM Kota Semarang memiliki program namanya Waras Ekonomi, yang merupakan turunan dari program strategis nasional. Kemudian beberapa program dari provinsi kita jadikan satu dengan program Pemerintah Kota Semarang,” ujar Agustina, dikutip dari keterangannya, Sabtu (10/10/2026).
Waras Ekonomi Kurasi 1.000 UMKM Sesuai Kebutuhan Usaha
Salah satu fokus utama Waras Ekonomi adalah melakukan kurasi terhadap sekitar 1.000 UMKM untuk dikelompokkan ke dalam klaster usaha berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing.
Dengan pendekatan tersebut, pendampingan dapat diberikan secara lebih terarah sesuai kondisi dan potensi setiap pelaku usaha.
“Sekarang tahapannya menyelesaikan ada seribu UMKM untuk kurasi ke klaster tertentu. Dengan kurasi ini, pendampingan bisa lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing usaha,” jelasnya.
Berdasarkan data Waras Ekonomi per 5 Oktober 2026, terdapat 1.038 akun UMKM yang telah terdaftar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 609 akun atau 61,07 persen telah terverifikasi secara profil dan siap mendapatkan pendampingan program.
Selain itu, sebanyak 149 pelaku usaha dengan 58 produk telah menyelesaikan proses verifikasi secara lengkap di platform Waras Ekonomi.
Data tersebut menjadi salah satu dasar bagi Pemkot Semarang untuk memetakan kebutuhan pengembangan usaha, mulai dari peningkatan kualitas produk, penguatan produksi, hingga strategi pemasaran.
Puluhan Produk UMKM Semarang Masuk Ritel Modern dan Hotel
Upaya kurasi mulai menunjukkan hasil melalui perluasan akses pasar. Sebanyak 43 produk UMKM yang telah dikurasi masuk ke jaringan ritel modern dan perhotelan melalui kemitraan dengan sejumlah pelaku usaha.
Jaringan mitra tersebut antara lain Alfamart, Kampoeng Semarang, Farmers Market, Hotel Pandanaran, Hotel Horison Nindya, dan AEON.
Sementara itu, melalui Program RISE Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (UM), sebanyak 20 produk UMKM terkurasi juga telah masuk ke jaringan Pelangi, Gelael, OLSEM, Istana Buah, dan AEON.
Kemitraan tersebut diharapkan membuka peluang pemasaran yang lebih luas sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal agar mampu memenuhi kebutuhan pasar modern.
Pemkot Semarang juga menyiapkan program inkubasi ekspor melalui Waras Ekonomi 2026. Program ini diarahkan untuk membuka peluang bagi produk UMKM Semarang menembus pasar internasional, termasuk Amerika Serikat.
“Target kita bukan sekadar banyaknya UMKM, tetapi bagaimana usaha-usaha tersebut benar-benar berdaya, memiliki pasar, mampu berkembang, membuka lapangan kerja, dan pada akhirnya memberikan dampak bagi perekonomian Kota Semarang,” tegas Agustina.
Gandeng Perguruan Tinggi, Perbankan, dan Dunia Usaha
Agustina menilai pengembangan UMKM tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, perbankan, lembaga inkubator, dunia usaha, dan komunitas UMKM diperlukan agar pelaku usaha memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Menurutnya, Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Tengah 2026 menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai pihak yang dapat mendukung pengembangan bisnis, baik melalui pendampingan, pembiayaan, maupun akses pasar.
“Terima kasih karena ada event seperti ini sehingga kami mendapatkan jaminan support dari berbagai pihak, terutama dari kementerian, Bank Himbara, perguruan tinggi, dan para aktivis UMKM yang siap melakukan pendampingan terhadap UMKM kami,” katanya.
Melalui Waras Ekonomi, Pemkot Semarang juga mulai menghubungkan pengembangan UMKM dengan sektor pertanian dan perikanan.
Langkah yang disiapkan meliputi pemetaan pelaku usaha, penguatan produksi, identifikasi pembeli atau offtaker, serta business matching untuk mempertemukan produk dengan kebutuhan pasar.
“Ini adalah kerja bersama. Pemerintah menyediakan ekosistem dan membuka akses, perguruan tinggi memberikan pengetahuan dan pendampingan, perbankan membuka akses pembiayaan, dunia usaha membuka pasar, sementara pelaku UMKM harus terus meningkatkan kualitas produknya,” ujar Agustina.
Bursa Wirausaha Unggulan Jateng Diikuti Ribuan Peserta
Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Tengah 2026 diikuti lebih dari 1.000 peserta, terdiri atas sekitar 500 UMKM dan 760 mahasiswa calon pengusaha dari 17 perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan tersebut turut melibatkan 27 lembaga inkubator dengan berbagai agenda, mulai dari talk show, inspirational talk, pitching startup, business matching, hingga akad Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan pelaku UMKM memperoleh lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan kapasitas usaha, mengakses pembiayaan, memperluas jaringan bisnis, dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Agustina berharap Waras Ekonomi dapat mendorong semakin banyak UMKM Kota Semarang berkembang secara berkelanjutan.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah usaha yang terdaftar, tetapi juga dari kemampuan pelaku usaha meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan kerja.
“Harapannya, semakin banyak UMKM Semarang yang naik kelas. Bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh, menciptakan lapangan kerja, memperluas pasar, dan membawa produk Semarang semakin dikenal,” pungkas Agustina. (*)







