SEMARANGUPDATE.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung menjadi salah satu daerah yang menginisiasi gerakan gotong royong antarpemerintah daerah dalam upaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang.
Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, Sepriyanto, saat mendampingi kunjungan Bupati Temanggung, Agus Setyawan, pada Senin (26/1/2026).
Sepriyanto menyebutkan, Pemkab Temanggung menjadi inisiator yang mengawali proses pembersihan di tiga satuan pendidikan, yakni Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pahlawan, SDN Upah, dan TK Pahlawan. Aksi bertajuk “Temanggung Peduli Aceh Tamiang” tersebut diharapkan mampu memacu semangat daerah lain untuk turut berkontribusi dalam proses pemulihan.
“Temanggung merupakan inisiator, salah satu daerah yang mengawali dan menyemangati kami. Mudah-mudahan dukungan dari Bupati Temanggung dan masyarakatnya bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain untuk bersama-sama bergotong royong,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dari total 458 sekolah yang ada di Aceh Tamiang, sebanyak 389 satuan pendidikan mulai dari tingkat TK, SD, hingga SMP terdampak bencana hidrometeorologi. Sebagian besar sekolah tersebut mengalami kerusakan sarana dan prasarana yang membutuhkan penanganan cepat.
“Hampir semua sekolah kondisinya berlumpur dan meubeler-nya rusak. Perlu dukungan bersama untuk membenahi dan membersihkan agar proses pembelajaran bisa kembali normal. Mohon doanya, semangati kami untuk bangkit,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan yang akrab disapa Agus Gondrong menjelaskan alasan pihaknya fokus menyasar sektor pendidikan. Menurutnya, dalam situasi darurat pascabencana, sektor pendidikan kerap menjadi “jalur sepi” yang kurang mendapat perhatian dibandingkan bantuan kebutuhan pokok.
“Seringnya kita sedikit lupa kalau ada sekolah-sekolah yang tertimbun lumpur dan anak-anak yang bingung mau belajar di mana. Saya ingin bantuan dari warga Temanggung ini mengisi ceruk ‘jalur sepi’ itu,” tegasnya.
Bagi Agus, pembenahan gedung sekolah bukan sekadar urusan fisik, melainkan menjadi kunci utama untuk membantu pemulihan trauma yang dialami anak-anak pascabencana. Ia meyakini lingkungan belajar yang bersih dan layak dapat mengembalikan keceriaan serta semangat belajar para siswa.
“Trauma bencana itu bisa sembuh kalau mereka sudah kembali kumpul bareng teman-temannya di kelas yang bersih dan nyaman. Jadi, kami di sini bukan cuma mau mengecat tembok di kelas, tapi ingin memancing lagi senyum anak-anak kita,” pungkas Agus. (***)







