Selama Nataru, 8,6 Juta Orang Masuk Jateng, Ini Dampaknya ke Hotel dan Wisata

Suasana Kawasan Kota Lama Semarang saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kota Lama Semarrang menjadi satu dari beberapa destinasi yang ramai dikunjungi pengunjung.

SEMARANGUPDATE.COM – Lonjakan pergerakan masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 menjadi ujian tersendiri bagi Jawa Tengah dalam mengelola mobilitas, pariwisata, dan keamanan wilayah.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mencatat, jumlah orang yang masuk ke wilayah Jawa Tengah selama periode 20–31 Desember 2025 mencapai 8,6 juta jiwa.

Bacaan Lainnya

Angka ini hampir menyamai prediksi Kementerian Perhubungan yang mencapai 8,7 juta jiwa dan masih berpotensi bertambah hingga berakhirnya Operasi Lilin Candi pada 5 Januari 2026.

Lonjakan tersebut berdampak pada berbagai sektor, salah satunya industri perhotelan.

Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah, Bambang Mintosih, menyebut tingkat hunian hotel selama puncak libur Nataru mencapai 96 hingga 100 persen, terutama pada 23–30 Desember 2025.

“Pergerakan warga ke Jawa Tengah jelas memengaruhi okupansi hotel. Tingkat keterisian mencapai 90 sampai 100 persen,” ujar Bambang Mintosih, Kamis (1/1/2026) lalu.

Dengan total 3.254 hotel berbintang dan nonbintang di Jawa Tengah, hampir seluruh akomodasi terisi penuh saat puncak liburan. Namun, pada malam pergantian tahun, tingkat hunian justru menurun menjadi sekitar 90–94 persen.

Menurut Bambang, penurunan ini dipengaruhi oleh kebijakan larangan kembang api serta prediksi hujan pada malam tahun baru.

“Hotel ramai hanya di pusat kota. Sementara di kawasan wisata air dan pegunungan justru menurun,” katanya.

Ia membandingkan dengan malam tahun baru 2025 yang lalu, ketika okupansi bisa mencapai 100 persen karena cuaca bersahabat dan tidak adanya gangguan bencana.

Situasi ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan pelaku industri wisata. Bambang mendorong Pemprov Jawa Tengah lebih aktif merancang kebijakan insentif untuk menjaga daya saing, mengingat sekitar 54 persen wisatawan ke Jateng berasal dari Jakarta.

“Bisa berupa diskon transportasi atau waktu cuti yang lebih panjang agar wisatawan tidak terburu-buru. Apalagi kita bersaing dengan daerah lain seperti Yogyakarta,” ujarnya. (*)

Pos terkait