Perluas Akses Pekerjaan, Waka DPRD Jateng Dorong Hilirisasi dan Industri Lokal

Perluas Akses Pekerjaan, Waka DPRD Jateng Dorong Hilirisasi dan Industri Lokal
Perluas Akses Pekerjaan, Waka DPRD Jateng Dorong Hilirisasi dan Industri Lokal

SEMARANGUPDATE.COM – Dalam upaya memperluas kesempatan kerja bagi penduduk usia produktif, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat strategi hilirisasi industri dan pembangunan industri lokal.

Hal itu dilakukan sebagai pendorong pertumbuhan lapangan kerja di provinsi ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Jawa Tengah tetap tumbuh positif sepanjang 2025, tercatat mencapai 5,37 persen pada triwulan III-2025.

Pertumbuhan ini mendorong penyerapan tenaga kerja, dengan jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 21,30 juta orang. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat mengalami penurunan menjadi 4,66 persen dibanding tahun sebelumnya.

Namun meskipun ada perbaikan, Heri menilai tantangan ketenagakerjaan tetap kompleks. Terutama terkait kemampuan industri lokal menyerap tenaga kerja dan memberikan pekerjaan layak bagi kelompok usia produktif.

“Hilirisasi industri bukan sekadar jargon. Ini soal membangun rantai nilai lokal yang kuat, sehingga produksi tidak hanya berhenti di hulu, tetapi sampai pada tahap pengolahan, pemasaran, dan ekspor, yang semuanya berpotensi membuka lapangan kerja nyata,” ujar Heri.

Heri menekankan bahwa industri pengolahan masih menjadi salah satu sektor utama penopang perekonomian Jawa Tengah, dengan kontribusi signifikan terhadap struktur ekonomi provinsi.

Namun menurutnya, untuk menggenjot penyerapan tenaga kerja, diperlukan pengembangan hilirisasi yang berbasis pada potensi lokal seperti industri garmen, alas kaki, makanan olahan, hingga agroindustri.

Salah satu potensi nyata yang tengah tumbuh adalah rencana dibukanya sejumlah pabrik di wilayah Jawa Tengah.

Menurut laporan, 27 pabrik baru di sektor garmen dan alas kaki direncanakan beroperasi di provinsi ini, yang diperkirakan mampu membuka lebih dari 130 ribu peluang kerja bagi masyarakat.

Menurut Heri, strategi pengembangan industri lokal harus didukung kebijakan yang mempermudah investasi, memperkuat fasilitas produksi, serta memberi insentif bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

“Kalau kita ingin kesempatan kerja bertambah nyata, kita perlu sistem yang memetakan potensi industri tiap daerah dan memadukannya dengan program pelatihan tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Heri juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, sektor swasta, serta lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi.

Menurutnya, link and match antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja adalah kunci untuk memastikan lulusan sekolah, politeknik, atau pelatihan kerja dapat langsung terserap di pasar kerja.

“Pendidikan vokasi dan pelatihan kerja harus menjadi bagian dari strategi hilirisasi. Jangan sampai industri berkembang, tapi tenaga kerja lokal tidak siap,” katanya.

“Kesempatan kerja yang luas adalah kunci kestabilan sosial sekaligus daya saing ekonomi daerah. Hilirisasi dan penguatan industri lokal tidak hanya membuka lowongan pekerjaan, tetapi juga memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi kita,” pungkasnya.

Pos terkait