OPINI – Dinamika politik internal PDI Perjuangan Jawa Tengah tengah memasuki fase krusial. Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) yang kabarnya akan digelar dalam waktu dekat atau di Bulan Desember 2025 ini di Jakarta, bukan sekadar agenda rutin organisasi.
Ia menjadi panggung penentuan arah kepemimpinan partai, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, termasuk Kota Semarang yang dikenal sebagai salah satu basis utama PDI Perjuangan.
Pasca berakhirnya masa kepemimpinan Hendrar Prihadi di DPC Kota Semarang, dua figur menonjol muncul sebagai kandidat kuat pengganti: Kadarlusman, sekretaris DPC sekaligus Ketua DPRD Kota Semarang, dan Rukiyanto, bendahara DPC yang kini menjabat Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang.
Keduanya bukan orang baru, melainkan bagian dari struktur inti yang telah lama mengelola denyut organisasi.
Kadarlusman memiliki rekam jejak panjang dalam lingkaran PDI Perjuangan Kota Semarang. Sebagai Ketua DPRD, ia terbiasa mengelola koordinasi antarlembaga dan menjaga ritme politik legislatif.
Perannya sebagai sekretaris DPC membuatnya dekat dengan urusan internal partai, mulai dari konsolidasi kader hingga pengelolaan rapat strategis.
Dukungan terhadapnya diperkirakan datang dari kalangan senior yang mengutamakan kesinambungan dan stabilitas organisasi.
Berbeda dengan Kadarlusman, Rukiyanto menonjol melalui kiprahnya di bidang anggaran. Sebagai Ketua Komisi C DPRD, ia kerap terlibat dalam pembahasan kebijakan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
Basis dukungannya relatif solid, terutama di Semarang Barat dan Selatan, wilayah yang dikenal memiliki kader militan. Rukiyanto tampil sebagai representasi energi baru yang berorientasi pada isu-isu publik, dengan modal sosial yang kuat di akar rumput.
Proses penjaringan calon ketua DPC mengikuti Peraturan Partai PDI Perjuangan Nomor 1 Tahun 2025, dimulai dari PAC hingga DPP.
Artinya, legitimasi kandidat tidak hanya ditentukan oleh elite, tetapi juga oleh dinamika di tingkat kecamatan. Konfercab mendatang akan menjadi arena uji pengaruh, di mana dukungan PAC menjadi indikator nyata kekuatan politik masing-masing calon.
Selain itu, hasil Konferda di tingkat provinsi akan memberi sinyal penting. Ketua DPC terpilih di Semarang harus mampu menyelaraskan diri dengan kepengurusan baru Jawa Tengah, sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan legislatif, eksekutif, dan struktur partai di akar rumput.
Kota Semarang, dengan dinamika sosial-politik yang cepat berubah, menuntut ketua DPC yang tidak hanya piawai dalam konsolidasi internal, tetapi juga responsif terhadap aspirasi kader di tingkat kecamatan.
Baik Kadarlusman maupun Rukiyanto memiliki rekam jejak yang relevan, namun tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan menyatukan berbagai elemen partai: dari kader senior hingga generasi muda, dari basis tradisional hingga simpul-simpul baru.
Siapa pun yang akhirnya terpilih, kepemimpinan DPC PDI Perjuangan Kota Semarang akan menjadi penentu arah politik lokal dalam jangka panjang.
Konferda besok bukan sekadar formalitas, melainkan momentum strategis yang akan mewarnai perjalanan partai di Jawa Tengah. Pada akhirnya, kekuatan sejati PDI Perjuangan terletak pada solidaritas internal yang mampu diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

