SEMARANGUPDATE.COM — Puluhan warga yang terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, hingga kini masih tinggal di lokasi pengungsian.
Meski sudah mendekati dua bulan, kejelasan terkait relokasi maupun tempat tinggal sementara belum mereka terima.
Sebanyak 60 orang dari 22 kepala keluarga harus menetap di tenda darurat setelah rumah mereka rusak akibat pergerakan tanah.
Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari berjalan dengan segala keterbatasan fasilitas.
Di tengah situasi tersebut, para pengungsi berusaha tetap menjalani rutinitas.
Anak-anak masih bermain di sekitar area tenda, sementara orang tua berupaya menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
Namun, ketidakpastian soal masa depan mulai menjadi beban tersendiri.
Terlebih, lokasi pengungsian disebut hanya dapat digunakan hingga pertengahan April 2026, sementara solusi jangka panjang belum juga ditentukan.
Warga pun berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait hunian yang aman dan layak, agar mereka dapat segera keluar dari kondisi darurat dan kembali menjalani kehidupan seperti sediakala.
Bencana tanah bergerak yang terjadi tidak hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga memaksa puluhan keluarga hidup dalam situasi yang belum menentu.
Hingga kini, relokasi menjadi harapan utama yang dinanti para korban. (*)







