FISIP Undip Bedah Buku Politik Teknokratis, Kupas Strategi Menang Pemilu di Tengah Interseksionalitas

FISIP Undip gelar bedah buku Politik Teknokratis, bahas strategi pemenangan pemilu dan tantangan interseksionalitas.
FISIP Undip gelar bedah buku Politik Teknokratis, bahas strategi pemenangan pemilu dan tantangan interseksionalitas.

SEMARANGUPDATE.COM – Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan FISIP Undip menggelar bedah buku berjudul “Politik Teknokratis. Kemenangan Melampaui Interseksionalitas Dalam Pemilu” pada Jumat, 13 Februari 2026, di Kampus FISIP Undip Tembalang. Kegiatan ini menghadirkan akademisi sekaligus politisi nasional untuk mengulas pendekatan teknokratis dalam strategi pemenangan pemilu.

Buku tersebut merupakan pengembangan dari skripsi mahasiswa Muhammad Fikhar A K, yang dibimbing oleh Dr. Phil. Wahid Abdulrahman serta diuji oleh Dr. Kushandajani dan Jihan Marsya A, MA. Forum diskusi menghadirkan Dr. Lestari Moerdijat selaku Wakil Ketua MPR RI, Sugeng Suparwoto, MT sebagai Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Amelia Anggraini dari Komisi I DPR RI, dan Dr. Nurhidayat Sardini, Ketua Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan Undip.

Bacaan Lainnya

Dekan FISIP Undip, Dr. Teguh Yuwono, dalam sambutannya menegaskan komitmen fakultas dalam mendorong karya ilmiah mahasiswa agar memberi dampak luas.

„Salah satu program yang didukung adalah karya mahasiswa yang diharapkan memiliki kemanfaatan dan berdampak baik bagi pengembangan akadmik maupun dunia praktis. Buku yang dibedah ini memiliki kemanfaatan keduanya,“ ujar Dr Teguh Yuwono.

Dalam diskusi, Amelia Anggraini memaparkan pengalamannya meraih suara by name tertinggi di Dapil VII Jawa Tengah pada Pemilu 2024. Ia menekankan bahwa kemenangan tersebut tidak hanya bertumpu pada popularitas.

Keberhasilan itu, menurutnya, dibangun melalui disiplin manajerial, pemetaan wilayah yang jelas, target terukur, serta mekanisme kontrol yang ketat untuk mencegah penyimpangan. Tantangan interseksionalitas—seperti bukan putra daerah, bukan petahana, dan sebagai perempuan—dihadapi dengan pendekatan teknokratis yang dipadukan komunikasi politik berbasis kultural.

Dr. Lestari Moerdijat turut menggarisbawahi hambatan yang sering dihadapi kandidat perempuan. Ia mengungkapkan bahwa dalam proses pemilu masih muncul ungkapan seperti “ojo milih sing wedok“. Tantangan stereotip dan kultur tersebut, katanya, direspons melalui pendekatan keilmuan dan strategi berbasis budaya. Ia juga menilai kesadaran perempuan untuk saling mendukung masih perlu diperkuat.

Sementara itu, Sugeng Suparwoto melihat pendekatan teknokratis sebagai perpaduan antara dimensi science dan arts dalam politik. Dalam konteks science, proses pemenangan dirancang secara sistematis dan terukur. Sedangkan dalam dimensi arts, diperlukan kepekaan membaca budaya masyarakat untuk membangun popularitas hingga meningkatkan elektabilitas.

Dr. Nurhidayat Sardini mengelaborasi interseksionalitas dalam konteks Jawa Tengah, di mana identitas politik dan sosial seperti gender, religi, serta status sosial saling beririsan. Tumpang tindih identitas tersebut, menurutnya, kerap memunculkan ketakutan dalam kontestasi pemilu.

Sebagai dosen pembimbing, Dr. Phil. Wahid Abdulrahman menyampaikan bahwa konsep politik teknokratis dalam buku ini berpotensi menjadi referensi praktis bagi para tokoh yang akan berkompetisi dalam pemilu.

“Pendekatan ini terbukti juga mampu mengatasi hambatan interseksionalitas seperti halnya yang dihadapi oleh perempuan. Namun demikian tentu modifikasi dari pendekatan ini penting untuk dikembangkan sesuai dengan desain pemilu,“ ujarnya.

Melalui forum akademik ini, FISIP Undip menegaskan peran kampus sebagai ruang dialog antara teori dan praktik politik, sekaligus memperkaya diskursus tentang strategi pemenangan pemilu yang adaptif terhadap kompleksitas identitas sosial di Indonesia.

Pos terkait