SEMARANGUPDATE.COM — Polemik terkait keberadaan toko roti gambang di kawasan Pasar Johar masih menjadi perhatian publik.
Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Mararas Apuwara, menilai isu yang menyebut lokasi tersebut akan dijadikan museum tidak memiliki dasar yang jelas.
Ia menjelaskan, selama proses perizinan yang berlangsung sejak sekitar September hingga Maret, tidak pernah muncul keberatan ataupun polemik terkait pemanfaatan lahan tersebut.
Ia pun mempertanyakan mengapa isu itu baru mencuat setelah bangunan toko berdiri dan ramai dibahas masyarakat.
“Sepengetahuan saya, tidak ada perencanaan kota yang menyebut lokasi itu akan dijadikan museum. Kalau memang ada, seharusnya sudah direalisasikan sejak dulu, bukan baru dipersoalkan sekarang,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Mararas menegaskan, jika memang ada rencana pembangunan museum di lokasi tersebut, seharusnya sudah ada langkah nyata sejak lama.
Ia menilai kemunculan isu tersebut di tengah polemik justru menambah kebingungan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, ia juga menyoroti penataan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Semarang.
Berdasarkan hasil rapat dengar pendapat dengan Dinas Perdagangan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah opsi relokasi, termasuk ke Pasar Johar dan Kanjengan yang masih memiliki kapasitas.
“Sudah ada solusi yang ditawarkan, termasuk relokasi ke Pasar Johar dan Kanjengan. Jadi kalau disebut tidak ada tempat, perlu diperjelas lagi yang dimaksud di mana,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui ketersediaan lapak tetap terbatas sehingga tidak semua pedagang dapat tertampung sekaligus.
Oleh karena itu, pemerintah menerapkan sistem prioritas, terutama bagi pedagang lama yang sebelumnya sudah berjualan di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, Mararas mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Semarang dalam menghidupkan kembali Pasar Johar sebagai pusat ekonomi sekaligus ikon kota.
Salah satu upaya yang tengah dikembangkan adalah menghadirkan kawasan kuliner guna menarik kunjungan masyarakat hingga malam hari.
Menurutnya, pengembangan tersebut penting agar Pasar Johar tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi destinasi yang memiliki daya tarik lebih luas.
“Pasar Johar ini ikonik, bukan hanya di Jawa Tengah tetapi juga Indonesia. Perlu inovasi agar kawasan ini tetap hidup, salah satunya melalui pengembangan pusat kuliner,” ungkapnya.
Program tersebut direncanakan menghadirkan kuliner khas legendaris Kota Semarang yang beroperasi hingga malam bahkan dini hari.
Selain meningkatkan daya tarik kawasan, langkah ini juga diharapkan dapat menjadi solusi tambahan bagi PKL yang belum mendapatkan tempat berjualan tetap.
Dengan berbagai dinamika yang berkembang, ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan serta kejelasan perencanaan dari pemerintah agar tidak menimbulkan polemik baru di masyarakat.
“Penataan pasar harus dilakukan secara terarah, transparan, dan benar-benar berpihak pada pedagang serta masyarakat,” pungkasnya. (*)







