SEMARANGUPDATE.COM, SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Virus Nipah di wilayahnya.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada mengingat tingginya risiko kematian akibat virus tersebut.
Kepala Dinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam, menyampaikan hal itu usai mengikuti rapat koordinasi daring Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait antisipasi masuknya Virus Nipah ke Indonesia, termasuk ke tingkat daerah.
“Virus Nipah ini sejatinya adalah virus dari famili Paramyxoviridae. Reservoir-nya adalah kelelawar buah. Virus ini hidup pada kelelawar tanpa menimbulkan gejala,” jelas Hakam, Selasa (3/2/2026).
Cara Penularan
Menurut Hakam, penularan dapat terjadi ketika kelelawar buah berinteraksi dengan hewan lain, terutama babi dan ternak, yang kemudian menjadi perantara penularan ke manusia.
Selain itu, virus juga bisa menyebar melalui makanan yang terkontaminasi, seperti buah yang telah digigit kelelawar, serta penularan antarmanusia, terutama melalui kontak erat di fasilitas kesehatan.
“Sejak 1998 di negara tetangga seperti Malaysia dan India, kasusnya meningkat luar biasa. Ini menjadi perhatian karena tingkat kematiannya tinggi, sekitar 50 hingga 75 persen,” ungkapnya.
Gejala Hingga Risiko Berat
Hakam menjelaskan, gejala awal Virus Nipah menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, linu-linu, mual, dan muntah.
Namun, pada kondisi berat, virus ini dapat menyerang otak dan menyebabkan radang otak.
“Pasien bisa mengalami kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran, bahkan koma,” katanya.
Hingga kini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk Virus Nipah. Penanganan bersifat simptomatik, sesuai keluhan pasien.
“Kalau ringan diberi obat penurun demam, kalau batuk diberi obat batuk, kalau kejang diberi antikejang, dan seterusnya,” terang Hakam.
Pencegahan Jadi Kunci
Karena belum ada obat dan vaksin, upaya pencegahan menjadi langkah utama. Dinkes mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti:
- Rajin mencuci tangan
- Menggunakan masker saat bepergian
- Menghindari makanan tidak higienis
- Tidak mengonsumsi buah yang tidak utuh atau diduga terkontaminasi
Masyarakat juga diminta menghindari area peternakan berisiko, serta membatasi perjalanan ke daerah yang melaporkan kasus Virus Nipah.
“Menghindari daerah-daerah yang memang potensial terinfeksi, seperti di India atau negara lain yang melaporkan kasus,” tutupnya.
Dinkes Semarang memastikan terus memantau perkembangan dan siap melakukan langkah antisipasi apabila ditemukan kasus suspek di wilayahnya. (*)







