SEMARANGUPDATE.COM – Pemerintah Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dan Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin memperluas akses pendidikan bagi warga kurang mampu sepanjang tahun pertama masa jabatan mereka.
Melalui program Semarang Cerdas, pemkot membayarkan tunggakan SPP, membantu operasional sekolah swasta, menyalurkan beasiswa, hingga mengembalikan ijazah yang tertahan.
“Pendidikan adalah kunci masa depan. Kami ingin semua anak Semarang, siapa pun dia, dari keluarga mana pun, punya kesempatan yang sama untuk bersekolah dan berprestasi. Semarang Cerdas adalah wujud komitmen kami untuk tidak meninggalkan satu pun anak di kota ini,” ujar Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, Jumat (20/2).
Sepanjang 2025, pemkot melunasi tunggakan SPP 122 siswa dari 15 sekolah dengan total Rp71,39 juta.
Meski masih terdapat 1.053 siswa yang memiliki tunggakan, pemerintah menyatakan akan terus mengupayakan penyelesaian agar tidak ada anak putus sekolah karena biaya.
“Saya tidak ingin ada anak Semarang yang tidak naik kelas atau tidak ambil rapor karena orang tuanya tidak bisa bayar SPP. Pendidikan adalah hak mereka, dan negara harus hadir,” tegas Agustina.
Pemkot juga menyalurkan hibah Pembiayaan Bantuan Operasional Sekolah Swasta (P-BOSP) kepada 129 sekolah dengan total anggaran Rp25,79 miliar pada 2025.
Bantuan tersebut menjangkau ribuan siswa dari jenjang TK, SD, hingga SMP. Selain itu, 1.482 guru swasta nonsertifikasi menerima bantuan operasional untuk mendukung kesejahteraan mereka.
“Sekolah swasta adalah mitra pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. Kami ingin mereka kuat, gurunya sejahtera, dan siswanya bisa belajar dengan nyaman,” jelas Agustina.
Di sisi lain, sebanyak 374 ijazah dari 36 sekolah berhasil dikembalikan kepada pemiliknya sepanjang 2025. Pemerintah masih berupaya menyelesaikan lebih dari 10 ribu ijazah yang tercatat tertahan di sejumlah sekolah.
“Ijazah itu hak anak, bukan barang jaminan. Saya minta sekolah-sekolah untuk tidak menahan ijazah muridnya. Kalau ada masalah biaya, kita cari solusi bersama. Yang penting anak bisa melanjutkan masa depannya,” tegas Wali Kota.
Dalam bidang peningkatan kualitas, pemkot membangun 43 ruang kelas baru SD dan 24 ruang kelas baru SMP, serta memperbaiki ratusan ruang kelas lainnya.
Program literasi, numerasi, dan berbagai kompetisi olahraga, seni, serta inovasi juga digelar untuk mendukung pengembangan bakat siswa.
“Belajar tidak bisa maksimal kalau ruang kelasnya bocor, bangkunya rusak, dan catnya kusam. Kami benahi satu per satu agar anak-anak betah di sekolah,” jelas Agustina.
Data 2025 menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang mencapai 85,80, tertinggi di Jawa Tengah, dengan rata-rata lama sekolah 11,11 tahun.
Angka putus sekolah tercatat 0 persen di tingkat SD/MI dan 0,01 persen di tingkat SMP/MTs.
Memasuki 2026, pemkot menargetkan perluasan sekolah swasta gratis menjadi 135 sekolah, peningkatan penerima beasiswa, pembangunan infrastruktur lanjutan, serta penyelenggaraan berbagai kompetisi pelajar.
“Tahun depan kita kejar target yang lebih tinggi. Tidak boleh ada anak Semarang yang tidak sekolah karena alasan biaya. Semua harus mendapat akses pendidikan yang layak. Ini janji kami kepada warga Semarang,” tegas Agustina.
Menutup pernyataannya, Agustina menegaskan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan kota.
“Pendidikan adalah fondasi dari segalanya. Dari generasi cerdas, kita bangun kesehatan. Dari generasi sehat, kita wujudkan kemakmuran. Dari kemakmuran, kita ciptakan kota yang tangguh. Semuanya berawal dari Semarang Cerdas.” (*)







